Analisis terkait NICL
-
5 Mei 2026 Skor 7.0 Signal Tinggi
Saham Nikel Tertekan Kebijakan Bea Keluar dan Windfall Tax, INCO Jatuh 8 Persen
Saham emiten nikel kompak terkoreksi pada 5 Mei 2026 setelah pemerintah mengumumkan rencana penerapan bea keluar dan windfall profit tax untuk komoditas nikel. INCO menjadi yang terburuk dengan penurunan 8% ke Rp6.325, disusul ANTM turun 3,42% dan MDKA turun 2,81%. Kebijakan ini bertujuan memberantas underinvoicing dan menekan subsidi energi yang membengkak.
Sumber data: IDX
-
4 Mei 2026 Skor 5.0
Genjot Eksplorasi dan Efisiensi, NICL Targetkan Jual 2,6 Juta Ton Nikel pada 2026
PT PAM Mineral Tbk (NICL) menargetkan volume produksi dan penjualan nikel mencapai 2,6 juta wet metric ton (WMT) pada 2026, naik tipis dari realisasi 2,56 juta WMT di 2025. Target ini ditopang oleh eksplorasi berkelanjutan dan efisiensi operasional. Pada 2025, NICL membukukan pendapatan Rp1,47 triliun (naik 2,12% YoY) dan laba bersih Rp345,14 miliar (melonjak 8,27% YoY), yang menurut manajemen mencerminkan perbaikan efisiensi dan tata kelola. Target ini muncul di tengah tren efisiensi global di industri tambang — seperti restrukturisasi besar-besaran Rio Tinto — yang menekan margin produsen nikel di Indonesia, terutama dengan harga nikel yang masih tertekan dan biaya operasi yang meningkat akibat pelemahan rupiah ke level terlemah dalam satu tahun.
Sumber data: IDX