Analisis terkait BNGA
-
4 Mei 2026 Skor 6.0 Signal Tinggi
CIMB Niaga Bukukan Laba Konsolidasi Rp 2,3 Triliun pada Kuartal I-2026
CIMB Niaga membukukan laba sebelum pajak Rp2,3 triliun pada kuartal I-2026, naik 4,5% YoY. Pertumbuhan didorong oleh fee-based income yang solid dan dana murah (CASA) yang mencapai rekor 73,9% dari total DPK. Kredit tumbuh tipis, dengan segmen UKM naik 1,2% dan KPM naik 4%.
Sumber data: IDX
-
3 Mei 2026 Skor 7.0
RoE Bank Besar Bergerak Variatif di Kuartal I-2026, Ini Bank yang Paling Cuan
Rasio Return on Equity (RoE) perbankan Indonesia pada Kuartal I-2026 menunjukkan pergerakan variatif. Di kelompok bank modal inti (KBMI) 4, BBCA masih memimpin dengan RoE tertinggi 25,10%, meski turun dari 26,2% setahun lalu. BBRI dan BBNI justru mencatat kenaikan, sementara BMRI turun tipis ke 19,10%. Di KBMI 3, mayoritas bank mencatat peningkatan, dengan Danamon naik signifikan dari 7,2% ke 9,0%, namun CIMB Niaga turun dari 14% ke 12,7% akibat kenaikan rasio kecukupan modal (CAR). Penurunan RoE di beberapa bank mencerminkan tekanan pada net interest margin (NIM) di tengah suku bunga tinggi dan perlambatan ekonomi, sementara bank yang mampu menekan biaya dana dan efisiensi operasional justru membaik. Ini mengindikasikan divergensi profitabilitas yang akan menentukan daya saing dan kapasitas dividen ke depan.
Sumber data: IDX
-
3 Mei 2026 Skor 7.0
Ditinggalkan Bank Swasta, Bisnis Agen Bank Dikuasai Bank Pemerintah
BCA dan CIMB Niaga mengurangi atau menghentikan fokus pada bisnis agen bank karena dinilai kurang menjanjikan. Sebaliknya, BRI justru mencatat volume transaksi BRILink Agen Rp420 triliun pada Q1-2026 dengan FBI Rp459 miliar, sementara KB Bank dan Bank Sampoerna masih mendorong pertumbuhan agen di segmen UMKM.
Sumber data: IDX
-
3 Mei 2026 Skor 6.0 Signal Tinggi
CIMB Niaga Cetak Laba Rp 1,76 Triliun, Ini Penyebab Utamanya
CIMB Niaga membukukan laba bersih konsolidasi Rp1,76 triliun pada Q1-2026, turun 2,22% YoY dari Rp1,80 triliun. Penurunan ini dipicu oleh pendapatan bunga yang turun 8,6% menjadi Rp5,69 triliun sementara beban bunga melonjak 14,78% menjadi Rp2,48 triliun, sehingga NII terkoreksi 3% menjadi Rp3,22 triliun. Di sisi intermediasi, kredit tumbuh 2,2% YoY ke Rp235,1 triliun dan CASA tumbuh solid 12,2% ke Rp192,3 triliun, namun NPL gross naik tipis ke 1,88% dari 1,85%. CAR tetap kuat di 25,3% dan LDR 89,2%. Tekanan pada NIM ini mencerminkan tantangan yang dihadapi perbankan menengah di tengah suku bunga tinggi dan perlambatan ekonomi yang terlihat dari IHSG yang mendekati level terendah 1 tahun serta rupiah yang tertekan.
Sumber data: IDX