Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

12 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Direktori Emiten · IDX

BMRI

Blue Chip

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Financials · Banks

Harga
4.630
▼ 0.22%
Market Cap
Rp427,81 T
PER
6,98
PBV
1,40
Dividend Yield
2,23%

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp36,21 T Rp17,04 T Rp2,43 Q Rp313,95 T 47,1%
Q4-2025 Rp43,16 T Rp21,38 T Rp2,83 Q Rp327,4 T 49,5%
Q3-2025 Rp38,37 T Rp15,77 T Rp2,56 Q Rp313,84 T 41,1%
Q2-2025 Rp36,16 T Rp13,38 T Rp2,51 Q Rp297,92 T 37,0%
Q1-2025 Rp37,07 T Rp15,86 T Rp2,46 Q Rp285,18 T 42,8%
Q4-2024 Rp39,97 T Rp16,4 T Rp2,43 Q Rp313,47 T 41,0%
Q3-2024 Rp37,04 T Rp18,16 T Rp2,32 Q Rp301,34 T 49,0%
Q2-2024 Rp35,19 T Rp16,45 T Rp2,26 Q Rp282,33 T 46,7%

Laporan Earnings Pro · 11 Mei 2026

Earnings Flash: Bank Mandiri Tbk (BMRI) Q1-2026

Executive Summary

Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp 58,5 triliun di Q1-2026, tumbuh 16,7% YoY dengan NPM 40,2% yang solid. Pendapatan hanya naik tipis 1,5% menjadi Rp 145,3 triliun, menunjukkan efisiensi operasional sebagai motor utama pertumbuhan laba. Namun, arus kas operasi negatif Rp 255 triliun dan free cash flow negatif Rp 178,5 triliun menjadi sinyal tekanan likuiditas yang serius di tengah pelemahan rupiah ke Rp 17.410/USD dan IHSG yang anjlok 91,51 poin. Ini penting karena profitabilitas tinggi berhadapan langsung dengan risiko pembiayaan dan tekanan makro yang intens.

Transmission Mechanism

Pelemahan rupiah ke Rp 17.410/USD secara langsung meningkatkan beban provisi dan biaya pendanaan BMRI, terutama jika bank memiliki eksposur pinjaman valas atau surat utang dalam dolar. Arus kas operasi negatif Rp 255 triliun mengindikasikan bahwa aktivitas operasional belum mampu menutup kebutuhan kas, yang bisa memaksa BMRI meningkatkan utang jangka pendek atau menarik deposito dengan bunga lebih tinggi. Hal ini berpotensi menekan Net Interest Margin (NIM) di kuartal-kuartal berikutnya, apalagi jika BI menahan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi dan tekanan nilai tukar. Di sisi lain, pertumbuhan laba yang tinggi dengan pendapatan flat menandakan efisiensi biaya yang agresif, mungkin dari restrukturisasi atau digitalisasi. Namun, jika daya beli masyarakat terus tertekan oleh inflasi tinggi (CPI China 1,2% dan potensi CPI AS di atas 3,7% memperkuat ekspektasi hawkish global), permintaan kredit konsumsi dan korporasi bisa melambat. Kombinasi arus kas negatif dan perlambatan kredit adalah skenario berbahaya bagi bank dengan aset Rp 2.829,9 triliun, karena likuiditas ketat bisa memicu kenaikan Non-Performing Loan (NPL). Harga komoditas seperti Brent di $103,75 (+2,43%) dan emas di $4.738 (+14,80%) memberikan sedikit bantalan bagi sektor energi dan tambang yang menjadi debitur BMRI. Namun, kenaikan ini juga mendorong inflasi global, yang berujung pada sikap hawkish bank sentral AS dan Eropa. Dengan ECB dan Fed yang cenderung menahan suku bunga lebih lama, aliran modal asing ke Indonesia terhambat, memperlemah IHSG dan menekan valuasi saham perbankan seperti BMRI yang saat ini diperdagangkan di PER 7,0x dan PBV 1,30x.

Peer Comparison

Data peer belum tersedia untuk sektor ini. Namun, ROE BMRI 21,0% dan NPM 40,2% menunjukkan profitabilitas yang kuat dibandingkan rata-rata industri perbankan Indonesia yang biasanya berkisar 15-18% untuk ROE dan 30-35% untuk NPM. PER 7,0x juga relatif rendah dibandingkan rata-rata historis sektor perbankan IDX yang sering di atas 10x, mengindikasikan valuasi yang terdiskon.

Forward Alert

1) Rilis CPI AS pada 12 Mei 2026 (konsensus 3,7% YoY) — jika di atas ekspektasi, tekanan pada rupiah dan IHSG akan meningkat, berdampak langsung pada biaya pendanaan BMRI. 2) Keputusan Fed Chair Nomination Vote pada 12 Mei 2026 — perubahan kepemimpinan bisa mengubah arah kebijakan moneter AS, mempengaruhi aliran modal asing. 3) Data Retail Sales AS pada 14 Mei 2026 (konsensus 0,6% MoM) — perlambatan dari 1,7% sebelumnya bisa mengindikasikan resesi AS, yang akan menekan ekspor Indonesia dan kredit korporasi.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.