Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

15 MEI 2026
ThirdHome Ekspansi ke RI — Klub Pertukaran Rumah Mewah Global Target 145 Properti

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / ThirdHome Ekspansi ke RI — Klub Pertukaran Rumah Mewah Global Target 145 Properti
Korporasi

ThirdHome Ekspansi ke RI — Klub Pertukaran Rumah Mewah Global Target 145 Properti

Tim Redaksi Feedberry ·15 Mei 2026 pukul 10.30 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
4 Skor

Dampak langsung terbatas pada segmen properti mewah dan pariwisata high-end, namun relevan sebagai indikator minat investor global terhadap aset properti Indonesia.

Urgensi
3
Luas Dampak
4
Dampak Indonesia
5

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: jumlah properti Indonesia yang bergabung dengan ThirdHome dalam 3-6 bulan ke depan — target 145 properti adalah indikator adopsi oleh pemilik properti mewah lokal.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: respons dari platform penyewaan konvensional seperti Airbnb dan Booking.com — apakah mereka akan meluncurkan program khusus untuk segmen properti mewah atau diskon agresif untuk mempertahankan pangsa pasar.
  • 3 Sinyal penting: apakah pengembang properti mewah besar di Indonesia akan mulai mendesain unit mereka agar kompatibel dengan standar ThirdHome — ini akan menjadi indikator bahwa model bisnis ini mulai diadopsi secara massal.

Ringkasan Eksekutif

ThirdHome, klub pertukaran rumah mewah global yang berbasis di AS, melakukan ekspansi di Indonesia. Perusahaan yang didirikan pada 2010 ini memiliki portofolio global 30 ribu rumah liburan di lebih dari 2.500 destinasi di 100 negara, dengan nilai properti rata-rata US$2,4 juta atau sekitar Rp42,2 miliar. Konsepnya sederhana: anggota menawarkan rumah kedua mereka (minimal nilai US$500 ribu atau Rp8,8 miliar) untuk diinapi anggota lain selama dua pekan, dan sebagai imbalannya mereka memperoleh kredit perjalanan ('keys') yang bisa digunakan untuk menginap di properti anggota lain di destinasi manapun. Anggota yang menginap hanya membayar biaya pemesanan US$495 hingga US$1.995 per pekan — jauh lebih murah dibandingkan menyewa secara konvensional yang biasanya berlaku per malam. Saat ini ThirdHome memiliki jaringan 85 vila dan resor mewah di Indonesia, terutama di Bali, Lombok, dan Sumba, serta 60 properti lagi dalam proses bergabung. Direktur Strategi dan Operasi ThirdHome Giles Adams menyebut Indonesia sebagai pasar yang sangat penting, sementara Direktur Utama Wade Shealey menambahkan bahwa Indonesia menjadi target strategis untuk fase ekspansi berikutnya di Asia Tenggara, didorong oleh status global Bali dan kepadatan rumah kedua mewah di Indonesia yang dikombinasikan dengan kehadiran mereka yang sudah mapan di Australia. Ekspansi ini terjadi di tengah perlambatan ekonomi global, namun ThirdHome justru melihat peluang dari banyaknya vila dan resor mewah milik orang tajir di berbagai destinasi pariwisata Tanah Air. Yang tidak obvious dari headline adalah bahwa model bisnis ThirdHome sebenarnya adalah solusi bagi pemilik properti mewah yang kesulitan memonetisasi aset mereka secara produktif tanpa repot dengan penyewaan jangka pendek. Sistem pertukaran ini menghindari komplikasi seperti manajemen tamu, pembersihan, dan perawatan yang melekat pada platform seperti Airbnb atau VRBO. Bagi pemilik, ini adalah cara memanfaatkan aset yang biasanya menganggur — rumah kedua yang hanya dipakai beberapa minggu dalam setahun — menjadi sumber kredit perjalanan yang bernilai tinggi. Bagi anggota yang menginap, ini adalah akses ke hunian mewah dengan biaya yang sangat terdisrupsi: dari ribuan dolar per malam menjadi beberapa ratus dolar per pekan. Dampak langsung dari ekspansi ini adalah meningkatnya profil Indonesia sebagai destinasi pariwisata mewah global. Masuknya ThirdHome dengan jaringan properti mewahnya bisa menarik lebih banyak wisatawan kelas atas ke Indonesia, terutama dari Australia yang sudah menjadi pasar mapan ThirdHome. Ini juga bisa mendorong pengembangan properti mewah baru di daerah seperti Bali, Lombok, dan Sumba, karena pengembang melihat adanya saluran distribusi yang jelas untuk menyewakan atau mempertukarkan unit mereka. Pihak yang tidak disebut artikel namun jelas terdampak adalah platform penyewaan jangka pendek konvensional seperti Airbnb, Booking.com, dan pemain lokal seperti Travelio — model ThirdHome menawarkan alternatif yang lebih murah dan eksklusif, yang bisa menggerus pangsa pasar mereka di segmen properti mewah. Juga, hotel dan resor mewah di destinasi yang sama bisa kehilangan sebagian tamu yang beralih ke penginapan melalui ThirdHome. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons dari platform penyewaan properti konvensional — apakah mereka akan meluncurkan program loyalitas atau diskon untuk mempertahankan pangsa pasar di segmen mewah. Juga, perkembangan jumlah properti yang bergabung dengan ThirdHome di Indonesia — target 145 properti (85 existing + 60 dalam proses) adalah indikator adopsi oleh pemilik properti mewah lokal. Sinyal penting adalah apakah pengembang properti mewah seperti Agung Sedayu, Intiland, atau pengembang di Nusa Dua dan Sumba akan mulai mendesain unit mereka agar kompatibel dengan standar ThirdHome. Risiko yang perlu dicermati adalah jika terjadi perlambatan pariwisata global atau penurunan jumlah wisatawan kelas atas ke Indonesia, yang bisa mengurangi minat pemilik properti untuk bergabung dan menekan nilai kredit perjalanan.

Mengapa Ini Penting

Ekspansi ThirdHome ke Indonesia bukan sekadar berita properti mewah — ini adalah sinyal bahwa aset properti Indonesia mulai dilirik oleh platform global sebagai bagian dari jaringan pertukaran internasional. Bagi pemilik properti mewah di Bali, Lombok, dan Sumba, ini membuka opsi monetisasi baru tanpa harus repot mengelola sewa jangka pendek. Bagi pelaku industri pariwisata, ini adalah disrupsi model bisnis yang bisa mengubah cara wisatawan kelas atas memilih akomodasi — dari hotel mewah ke penginapan pribadi yang lebih murah dan eksklusif.

Dampak ke Bisnis

  • Disrupsi pada platform penyewaan jangka pendek konvensional seperti Airbnb dan Booking.com di segmen properti mewah — ThirdHome menawarkan biaya yang jauh lebih rendah (US$495-1.995 per pekan vs ribuan dolar per malam) yang bisa mengalihkan permintaan dari segmen high-end.
  • Potensi peningkatan investasi properti mewah di Indonesia, terutama di Bali, Lombok, dan Sumba — kehadiran ThirdHome sebagai saluran distribusi global bisa mendorong pengembang untuk membangun lebih banyak vila mewah yang memenuhi standar klub (minimal US$500 ribu).
  • Tekanan pada hotel dan resor mewah di destinasi wisata utama — sebagian tamu kelas atas yang sebelumnya menginap di hotel bintang lima bisa beralih ke penginapan melalui ThirdHome, mengurangi okupansi dan pendapatan per kamar hotel.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: jumlah properti Indonesia yang bergabung dengan ThirdHome dalam 3-6 bulan ke depan — target 145 properti adalah indikator adopsi oleh pemilik properti mewah lokal.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons dari platform penyewaan konvensional seperti Airbnb dan Booking.com — apakah mereka akan meluncurkan program khusus untuk segmen properti mewah atau diskon agresif untuk mempertahankan pangsa pasar.
  • Sinyal penting: apakah pengembang properti mewah besar di Indonesia akan mulai mendesain unit mereka agar kompatibel dengan standar ThirdHome — ini akan menjadi indikator bahwa model bisnis ini mulai diadopsi secara massal.