Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

15 MEI 2026
Honda Rugi Pertama 70 Tahun, Target EV 2030-2040 Dihapus

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Honda Rugi Pertama 70 Tahun, Target EV 2030-2040 Dihapus
Korporasi

Honda Rugi Pertama 70 Tahun, Target EV 2030-2040 Dihapus

Tim Redaksi Feedberry ·15 Mei 2026 pukul 10.51 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
7.3 Skor

Kegagalan strategi EV Honda adalah sinyal sistemik untuk industri otomotif global yang berdampak langsung ke rantai pasok dan investasi hilirisasi baterai di Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
7
Analisis Laporan Keuangan
Periode
FY2025/2026 (berakhir Maret 2026)
Laba Bersih
rugi operasional ¥423 miliar (Rp46,98 triliun)
Metrik Kunci
  • ·rugi operasional ¥423 miliar
  • ·proyeksi kerugian terkait EV ¥512 miliar untuk FY2026/2027

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Toyota dan Nissan terkait target EV mereka — jika mengikuti langkah Honda, tekanan pada rantai pasok nikel dan baterai akan semakin besar.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: harga nikel LME — jika terus melemah di bawah level tertentu akibat ekspektasi permintaan EV turun, margin emiten nikel Indonesia akan tertekan dan proyek smelter baru bisa tertunda.
  • 3 Sinyal penting: respons pemerintah Indonesia terhadap berita ini — apakah target produksi mobil listrik nasional dan pembangunan pabrik baterai akan direvisi, atau justru dipercepat dengan insentif baru untuk menarik investasi dari produsen China yang lebih agresif.

Ringkasan Eksekutif

Honda mencatat rugi operasional pertama dalam 70 tahun sejarahnya sebesar ¥423 miliar (Rp46,98 triliun) untuk tahun buku yang berakhir Maret 2026. Kerugian ini dipicu oleh investasi besar-besaran di kendaraan listrik (EV) yang tidak membuahkan hasil karena permintaan global jauh lebih lemah dari proyeksi. Perusahaan mengakui telah salah membaca kecepatan adopsi EV oleh konsumen dan kini membatalkan target ambisiusnya: target EV mencapai 20% penjualan baru pada 2030 dihapus, begitu pula target seluruh kendaraan menjadi listrik pada 2040. Sebagai gantinya, Honda akan memfokuskan diri pada bisnis sepeda motor yang menguntungkan, jasa keuangan, dan kendaraan hybrid. Perusahaan juga akan memangkas biaya dengan mencari komponen dari China yang lebih murah. Faktor eksternal memperparah kondisi. Kebijakan AS di bawah Presiden Trump menghapus kredit pajak EV hingga $7.500 per unit pada September 2025, dan tarif impor mobil serta suku cadang sebesar 25% (kemudian diturunkan menjadi 15%) menekan margin. Konflik Iran dan AS-Israel juga turut menaikkan biaya operasional. Honda memperkirakan kerugian terkait EV akan mencapai ¥512 miliar pada tahun fiskal berikutnya hingga Maret 2027 — artinya tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat. Analis dari AJ Bell menyebut ini sebagai 'tonggak suram' yang sudah diprediksi, mengingat banyak produsen mobil warisan (legacy automakers) salah bertaruh pada perpindahan cepat konsumen ke EV. Persaingan dari perusahaan China yang lebih agresif secara harga, tekanan biaya hidup, dan perubahan politik global memaksa Honda menelan biaya dan memutar haluan secara mendadak. Dampak dari keputusan Honda ini bersifat kaskade dan meluas. Pertama, secara langsung, pembatalan target EV 2030 dan 2040 oleh salah satu produsen otomotif terbesar dunia mengirim sinyal kuat bahwa transisi EV global tidak semulus yang diasumsikan banyak pihak. Ini dapat memengaruhi keputusan investasi di seluruh rantai pasok EV — dari tambang nikel hingga pabrik baterai dan infrastruktur pengisian daya. Kedua, bagi Indonesia yang tengah gencar membangun ekosistem EV dan hilirisasi nikel, langkah Honda menjadi peringatan bahwa permintaan EV mungkin tidak akan tumbuh secepat proyeksi pemerintah. Jika produsen global lain mengikuti langkah serupa, investasi smelter nikel dan pabrik baterai di Indonesia bisa menghadapi risiko kelebihan pasokan (oversupply) dan penurunan harga jual. Ketiga, peralihan Honda ke komponen China yang lebih murah menunjukkan bahwa persaingan harga di industri otomotif semakin ketat — ini bisa menekan margin produsen komponen lokal di Indonesia jika mereka tidak mampu bersaing dengan harga China. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons dari produsen Jepang lain seperti Toyota dan Nissan — apakah mereka akan mengikuti langkah Honda menarik target EV atau justru mempercepat investasi untuk mengambil pangsa pasar yang ditinggalkan Honda. Juga, pernyataan resmi pemerintah Indonesia terkait strategi EV nasional — apakah target produksi mobil listrik dan pembangunan pabrik baterai akan direvisi. Sinyal penting lainnya adalah harga nikel LME: jika terus melemah karena ekspektasi permintaan EV turun, margin emiten nikel Indonesia seperti ANTM dan MDKA akan tertekan. Di sisi lain, keputusan Honda untuk fokus pada sepeda motor bisa menjadi peluang bagi produsen sepeda motor di Indonesia — pasar terbesar sepeda motor di ASEAN — untuk memperkuat posisi, terutama di segmen motor listrik yang masih dalam tahap awal adopsi.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan strategi EV Honda bukan sekadar berita korporasi — ini adalah sinyal sistemik bahwa transisi EV global melambat, yang secara langsung mengancam asumsi dasar di balik investasi hilirisasi nikel dan ekosistem baterai Indonesia senilai puluhan miliar dolar. Jika produsen global lain mengikuti langkah Honda, risiko oversupply nikel dan penurunan harga jual produk hilirisasi Indonesia akan semakin nyata.

Dampak ke Bisnis

  • Investasi hilirisasi nikel dan baterai EV di Indonesia menghadapi risiko penurunan permintaan jangka panjang — jika produsen global menarik target EV, proyeksi kebutuhan nikel untuk baterai bisa melambat signifikan, menekan harga dan margin emiten seperti ANTM dan MDKA.
  • Produsen komponen otomotif lokal di Indonesia terancam oleh peralihan Honda ke pemasok China yang lebih murah — ini bisa memicu perang harga yang menekan margin perusahaan komponen dalam negeri, terutama yang sudah terikat kontrak jangka panjang dengan Honda.
  • Keputusan Honda fokus pada sepeda motor justru membuka peluang bagi produsen sepeda motor di Indonesia — pasar terbesar ASEAN — untuk mempercepat adopsi motor listrik, meskipun tantangan infrastruktur pengisian daya dan harga baterai masih menjadi hambatan utama.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi Toyota dan Nissan terkait target EV mereka — jika mengikuti langkah Honda, tekanan pada rantai pasok nikel dan baterai akan semakin besar.
  • Risiko yang perlu dicermati: harga nikel LME — jika terus melemah di bawah level tertentu akibat ekspektasi permintaan EV turun, margin emiten nikel Indonesia akan tertekan dan proyek smelter baru bisa tertunda.
  • Sinyal penting: respons pemerintah Indonesia terhadap berita ini — apakah target produksi mobil listrik nasional dan pembangunan pabrik baterai akan direvisi, atau justru dipercepat dengan insentif baru untuk menarik investasi dari produsen China yang lebih agresif.