Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
Menhan Sebut Deep State Ancam Kedaulatan — Birokrasi Jadi Sorotan

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Menhan Sebut Deep State Ancam Kedaulatan — Birokrasi Jadi Sorotan
Kebijakan

Menhan Sebut Deep State Ancam Kedaulatan — Birokrasi Jadi Sorotan

Tim Redaksi Feedberry ·19 Mei 2026 pukul 11.52 · Confidence 6/10 · Sumber: Katadata ↗
8 Skor

Pernyataan pejabat setingkat menteri tentang 'deep state' di birokrasi meningkatkan ketidakpastian kebijakan dan risk premium investasi, berdampak luas ke iklim bisnis dan persepsi investor.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pidato Presiden Prabowo pada 20 Mei 2026 — apakah ada pengumuman konkret tentang reformasi birokrasi atau pembentukan Badan Ekspor yang bisa memperjelas arah kebijakan.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: respons pasar terhadap pernyataan 'deep state' — jika IHSG dan rupiah tertekan lebih lanjut, itu menandakan investor membaca ini sebagai risiko sistemik.
  • 3 Sinyal penting: langkah tindak lanjut dari pernyataan Menhan — apakah ada pemecatan pejabat baru, atau justru pernyataan meredam dari istana. Ini akan menentukan apakah ini sekadar wacana atau aksi nyata.

Ringkasan Eksekutif

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin secara terbuka menyatakan bahwa 'deep state' dalam birokrasi merupakan ancaman terhadap kedaulatan negara. Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR pada 19 Mei 2026, Sjafrie mengklaim bahwa praktik ini telah menyedot kekayaan negara selama 61 tahun, merujuk pada era awal Orde Baru. Ia menambahkan bahwa sebagian pejabat yang memanfaatkan 'deep state' menunjukkan resistensi terhadap upaya revitalisasi regulasi yang dilakukan pemerintah. Pernyataan ini mengikuti pengakuan serupa dari Presiden Prabowo Subianto, yang sebelumnya menyinggung adanya 'pemerintahan bayangan' setelah mencopot dua direktur jenderal di Kementerian Keuangan dan menerima pengunduran diri dua dirjen dari Kementerian Pekerjaan Umum serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Menteri PU Dody Hanggodo juga mengaku menemukan indikasi 'deep state' di kementeriannya setelah mendapati kejanggalan dalam draf laporan audit yang seolah menyasar dirinya. Istilah 'deep state' yang digunakan Prabowo merujuk pada jaringan pejabat atau entitas swasta yang beroperasi secara ilegal untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Pernyataan ini muncul di tengah fragmentasi komunikasi kebijakan yang parah, di mana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa pelemahan rupiah adalah urusan Bank Indonesia, bukan Kemenkeu. Ditambah dengan rumor pembentukan Badan Ekspor yang dikhawatirkan akan menambah birokrasi dan menekan margin eksportir, iklim investasi saat ini diwarnai oleh ketidakpastian regulasi yang tinggi. Pasar akan mencermati pidato presiden pada 20 Mei 2026 untuk mencari kejelasan arah kebijakan, termasuk apakah Badan Ekspor benar-benar akan dibentuk dan bagaimana nasib reformasi birokrasi. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons pasar terhadap pengumuman presiden, serta langkah konkret pemerintah dalam memberantas praktik 'deep state' — apakah akan ada pemecatan pejabat lebih lanjut, atau justru memperkuat posisi birokrasi yang ada. Jika ketidakpastian ini berlarut-larut, risk premium Indonesia akan naik, tercermin dari pelemahan rupiah dan tekanan jual di pasar saham.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan resmi pejabat setingkat menteri tentang 'deep state' bukan sekadar retorika politik — ini sinyal bahwa pemerintah menganggap birokrasi sebagai hambatan serius. Bagi investor, ini berarti ketidakpastian kebijakan semakin tinggi: proyek yang melibatkan izin, kontrak pemerintah, atau regulasi sektoral bisa tertunda atau berubah arah. Sektor yang paling rentan adalah pertambangan, perkebunan, infrastruktur, dan energi — di mana interaksi dengan birokrasi sangat intensif.

Dampak ke Bisnis

  • Ketidakpastian kebijakan meningkat: investor asing dan domestik akan menunda keputusan investasi hingga ada kejelasan tentang arah reformasi birokrasi dan siapa yang akan 'dibersihkan'. Ini menekan sektor-sektor yang bergantung pada izin dan konsesi pemerintah.
  • Birokrasi yang terancam 'pembersihan' bisa memperlambat proses perizinan dan pengadaan proyek — kontraktor dan pengembang properti yang mengandalkan proyek pemerintah akan merasakan dampak langsung dalam bentuk penundaan pembayaran atau tender.
  • Dalam jangka menengah, jika talenta terbaik menghindari sektor publik (seperti ditunjukkan survei KIC), kualitas layanan publik dan daya saing birokrasi akan menurun, memperburuk iklim investasi Indonesia di mata global.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pidato Presiden Prabowo pada 20 Mei 2026 — apakah ada pengumuman konkret tentang reformasi birokrasi atau pembentukan Badan Ekspor yang bisa memperjelas arah kebijakan.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons pasar terhadap pernyataan 'deep state' — jika IHSG dan rupiah tertekan lebih lanjut, itu menandakan investor membaca ini sebagai risiko sistemik.
  • Sinyal penting: langkah tindak lanjut dari pernyataan Menhan — apakah ada pemecatan pejabat baru, atau justru pernyataan meredam dari istana. Ini akan menentukan apakah ini sekadar wacana atau aksi nyata.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.