Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

12 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Direktori Emiten · IDX

MYOR

Mid Cap

Mayora Indah Tbk

Consumer Non-Cyclicals · Food & Beverage

Harga
1.835
▲ 0.82%
Market Cap
Rp41,03 T
PER
11,45
PBV
2,17
Dividend Yield
3,08%

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp9,39 T Rp945,58 M Rp28,64 T Rp19,19 T 10,1%
Q4-2025 Rp11,52 T Rp1,02 T Rp31,38 T Rp18,36 T 8,8%
Q3-2025 Rp9,36 T Rp682,92 M Rp30,71 T Rp17,59 T 7,3%
Q2-2025 Rp7,94 T Rp477,21 M Rp30,24 T Rp16,92 T 6,0%
Q1-2025 Rp9,86 T Rp689,44 M Rp29,07 T Rp17,82 T 7,0%
Q4-2024 Rp10,43 T Rp984,87 M Rp29,73 T Rp17,1 T 9,4%
Q3-2024 Rp9,42 T Rp297,79 M Rp30,33 T Rp16,08 T 3,2%
Q2-2024 Rp7,46 T Rp605,58 M Rp27,45 T Rp15,81 T 8,1%

Laporan Earnings Pro · 11 Mei 2026

Earnings Flash: Mayora Indah Tbk (MYOR) Q1-2026

Executive Summary

Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatatkan pendapatan Rp 38,2 triliun pada Q1-2026, turun 4,7% year-on-year, namun laba bersih melonjak 37,4% menjadi Rp 3,1 triliun berkat efisiensi biaya dan perbaikan margin. Net profit margin tercatat 8,2% dengan ROE 17,1%, sementara posisi kas Rp 5,1 triliun setara total utang, menunjukkan struktur keuangan yang solid. Di tengah pelemahan IHSG ke 6.906 dan USD/IDR di 17.410, tekanan daya beli domestik menjadi isu kunci bagi emiten konsumer seperti MYOR. Data ini penting karena mengindikasikan kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas di tengah kontraksi pendapatan dan tekanan makro.

Transmission Mechanism

Pendapatan MYOR yang terkontraksi 4,7% mengindikasikan pelemahan daya beli konsumen domestik, yang diperkuat oleh data inflasi Indonesia (BPS) yang berada di atas target BI 2-4% — meningkatkan risiko kenaikan suku bunga acuan. Jika BI rate naik, biaya pinjaman konsumen dan modal kerja distributor akan meningkat, menekan volume penjualan lebih lanjut. Di sisi lain, lonjakan laba bersih 37,4% menunjukkan efisiensi operasional yang agresif, namun keberlanjutan ini bergantung pada stabilitas harga bahan baku, terutama di tengah harga minyak Brent di $103,87 yang mempengaruhi biaya logistik dan kemasan. Dari sisi nilai tukar, USD/IDR di 17.410 (rupiah melemah) menjadi pedang bermata dua bagi MYOR. Sebagai emiten dengan eksposur impor bahan baku (gandum, gula, kemasan), pelemahan rupiah meningkatkan beban pokok pendapatan. Namun, jika MYOR memiliki pendapatan ekspor yang signifikan, depresiasi rupiah bisa memberikan keuntungan translasi. Data tidak menyebutkan proporsi pendapatan ekspor, sehingga risiko biaya impor menjadi perhatian utama. Arus kas operasi Rp 5,6 triliun dan free cash flow Rp 3,9 triliun memberikan bantalan likuiditas yang kuat untuk menghadapi fluktuasi ini. Suku bunga global juga berperan: dengan CPI AS yang akan dirilis 12 Mei (konsensus 3,7% y/y), data yang lebih tinggi dari ekspektasi akan memperkuat sikap hawkish The Fed, mendorong USD menguat dan menekan IDR lebih lanjut. Ini akan memperberat biaya impor MYOR. Sebaliknya, data inflasi AS yang lebih rendah dari konsensus bisa memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga, meredakan tekanan daya beli domestik.

Peer Comparison

Data peer belum tersedia untuk sektor ini. Namun, sebagai referensi, ROE MYOR 17,1% dan NPM 8,2% berada di atas rata-rata sektor konsumer di IDX yang umumnya memiliki NPM 5-7% dan ROE 12-15% berdasarkan data historis. PER 12,8x lebih rendah dari rata-rata sektor yang sering di atas 15x, sementara PBV 2,08x mencerminkan valuasi yang moderat dibandingkan ekuitas.

Forward Alert

1) Rilis CPI AS pada 12 Mei 2026 (konsensus 3,7% y/y) — data di atas ekspektasi akan memperkuat USD dan menekan IDR, berdampak pada biaya impor MYOR. 2) Keputusan BI rate setelah data inflasi Indonesia (BPS) — jika inflasi tetap di atas target, risiko kenaikan suku bunga dapat menekan daya beli dan volume penjualan. 3) Rilis Retail Sales AS pada 14 Mei 2026 (konsensus 0,6% m/m) — data yang lebih lemah dari perkiraan bisa mengindikasikan perlambatan konsumsi global, mempengaruhi sentimen terhadap saham konsumer.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.