26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

ASII

Blue Chip

Astra International Tbk

Industrials · Multi-sector Holdings

Harga
4.920
▼ 0.43%
Market Cap
Rp199,18 T
PER
8,51
PBV
1,01
Div Yield
793,00%
Volume
88,4jt
ROE
11,27%
EPS
809
Listing
1990-04-04

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp78,67 T Rp5,85 T Rp517,8 T Rp293,12 T 7,4%
Q4-2025 Rp79,78 T Rp8,3 T Rp507,37 T Rp290,81 T 10,4%
Q3-2025 Rp80,75 T Rp8,96 T Rp505,44 T Rp289,63 T 11,1%
Q2-2025 Rp79,5 T Rp8,58 T Rp487,79 T Rp278,75 T 10,8%
Q1-2025 Rp83,36 T Rp6,93 T Rp494,73 T Rp281,78 T 8,3%
Q4-2024 Rp84,59 T Rp8,2 T Rp472,93 T Rp271,5 T 9,7%
Q3-2024 Rp86,36 T Rp10 T Rp469,41 T Rp262,04 T 11,6%
Q2-2024 Rp78,76 T Rp8,39 T Rp466,02 T Rp254,18 T 10,7%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: Astra International Tbk (ASII) Q1-2026

Executive Summary

Astra International (ASII) mencatat pendapatan Rp78,7 triliun pada Q1-2026, turun 5,6% YoY dari Rp83,4 triliun, dengan laba bersih Rp5,8 triliun yang terkontraksi 15,6% YoY. Net profit margin terjaga di 9,9% meskipun ada tekanan top-line, namun arus kas operasi tetap kuat di Rp37,6 triliun dan free cash flow Rp26,3 triliun. Di tengah pelemahan rupiah ke Rp17.712 per USD dan lonjakan harga minyak Brent ke $100,21 (+71,36% YoY), ASII menunjukkan ketahanan likuiditas dengan kas Rp50,7 triliun dan utang Rp116,8 triliun. Laporan ini penting karena menggambarkan dampak awal dari siklus komoditas tinggi dan tekanan konsumsi domestik terhadap konglomerasi terbesar di Indonesia.

Transmission Mechanism

Penurunan pendapatan ASII sebesar 5,6% YoY mencerminkan melemahnya daya beli domestik dan volume penjualan di sektor otomotif serta alat berat, yang merupakan kontributor utama pendapatan. Suku bunga BI yang masih tinggi (implisit dari level USD/IDR 17.712) menekan kredit konsumsi dan investasi korporasi, sehingga permintaan kendaraan dan mesin konstruksi melambat. Di sisi lain, lonjakan harga minyak Brent ke $100,21 per barel meningkatkan biaya operasional di sektor pertambangan dan perkebunan yang menjadi basis pelanggan alat berat ASII, namun juga berpotensi meningkatkan pendapatan dari anak usaha di sektor komoditas. Arus kas operasi yang tetap positif Rp37,6 triliun menunjukkan bahwa ASII mampu mengelola biaya dan piutang di tengah tekanan, tetapi laba bersih yang turun 15,6% mengindikasikan margin operasional yang tertekan oleh kenaikan input cost dan beban bunga akibat utang Rp116,8 triliun. Pelemahan rupiah juga meningkatkan beban utang dalam denominasi dolar dan biaya impor komponen, yang secara langsung mempengaruhi laba bersih ASII.

Peer Comparison

Dibandingkan peer di sub-sektor Multi-sector Holdings, ASII memiliki ROE 13,2% yang lebih tinggi dari rata-rata ROE peer 10,6%, dan jauh di atas BNBR (10,6%) serta BHIT (data ROE tidak tersedia). PER ASII 6,9x sangat rendah dibandingkan rata-rata peer 22,0x, terutama kontras dengan BNBR yang memiliki PER 68,7x dan BHIT 5,6x, sementara ZBRA mencatat PER negatif -8,3x. PBV ASII 0,93x menunjukkan valuasi di bawah nilai buku, lebih rendah dari BNBR (7,89x) dan ZBRA (1,04x), namun lebih tinggi dari BHIT (0,16x).

Forward Alert

1) Rilis data inflasi Indonesia bulan Mei 2026 pada 2 Juni 2026 — jika inflasi inti naik di atas 3%, BI berpotensi menahan suku bunga, memperpanjang tekanan pada konsumsi dan kredit otomotif ASII. 2) Pergerakan harga minyak Brent setelah lonjakan 71,36% — kenaikan lanjutan ke $110+ akan meningkatkan biaya operasional anak usaha pertambangan dan perkebunan ASII. 3) Rilis neraca perdagangan Indonesia pada 15 Juni 2026 — defisit yang melebar akibat impor komponen otomotif dan alat berat bisa memperlemah rupiah lebih lanjut, menekan biaya utang ASII.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.