Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

15 MEI 2026
The Economist Soroti Pemborosan & Otoritarianisme — Risiko Rating RI Terbesar Sejak 1998

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / The Economist Soroti Pemborosan & Otoritarianisme — Risiko Rating RI Terbesar Sejak 1998
Makro

The Economist Soroti Pemborosan & Otoritarianisme — Risiko Rating RI Terbesar Sejak 1998

Tim Redaksi Feedberry ·15 Mei 2026 pukul 07.45 · Sinyal tinggi · Sumber: Katadata ↗
9.7 Skor

Kritik The Economist dan sinyal penurunan rating S&P adalah peringatan sistemik: menggabungkan tekanan fiskal, risiko politik, dan capital outflow yang bisa memicu krisis kepercayaan investor secara simultan.

Urgensi
9
Luas Dampak
10
Dampak Indonesia
10

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pernyataan resmi dari S&P, Moody's, dan Fitch mengenai prospek rating Indonesia — jika ada sinyal penurunan, yield SBN akan langsung merespon.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: realisasi defisit APBN bulan April-Mei 2026 — jika tren belanja terus membengkak, batas 3% PDB bisa terlampaui dan memicu aksi jual aset Indonesia.
  • 3 Sinyal penting: respons pemerintah terhadap kritik ini — apakah ada langkah penghematan atau justru pembelaan yang defensif — akan menentukan arah kepercayaan investor dalam 1-4 minggu ke depan.

Ringkasan Eksekutif

The Economist, dalam artikel berjudul 'Indonesia's president is jeopardizing the economy and democracy' yang terbit 14 Mei 2026, memberikan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Media tersebut menilai pemerintah saat ini terlalu boros dan otoriter, dengan melakukan sentralisasi kekuasaan dan meminggirkan oposisi legislatif. Sorotan utama diarahkan pada dua program unggulan: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang dinilai dapat mendorong defisit fiskal menembus batas 3% PDB yang telah ditetapkan sejak 2003. Defisit tahun lalu sudah mencapai 2,9%, dan tekanan ini diperparah oleh beban bunga utang yang kini mencapai 16% dari pendapatan negara — meningkat tajam dari 9% satu dekade lalu. Konsekuensinya, lembaga pemeringkat S&P dikabarkan mempertimbangkan penurunan peringkat utang Indonesia untuk pertama kalinya sejak krisis 1997-1998. Artikel tersebut juga menyoroti pemecatan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menimbulkan ketidakpastian pasar, serta komentar kontroversial penggantinya, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyebut kritikus — termasuk The Economist sendiri — sebagai 'bego'. Kekhawatiran akan hilangnya disiplin fiskal semakin menguat. Di sisi politik, kembalinya peran militer dalam kehidupan sipil — terutama dalam program MBG dan KDMP — mengingatkan publik pada era dwifungsi Orde Baru. Investor asing mulai menarik modal, rupiah terus merosot ke rekor terendah baru, dan jika kepercayaan terus hilang, Indonesia terancam masuk ke dalam krisis ekonomi. Ini bukan kritik pertama The Economist terhadap Indonesia; sebelumnya mereka juga mengkritik pemindahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN, yang ditanggapi defensif oleh Purbaya. Kombinasi antara pembengkakan belanja, ketidakpastian kebijakan, dan kemunduran demokrasi menciptakan risiko sistemik yang belum pernah terjadi dalam dua dekade terakhir. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons resmi pemerintah — apakah ada langkah penghematan atau justru ekspansi belanja lebih lanjut — serta pernyataan dari lembaga pemeringkat S&P, Moody's, dan Fitch mengenai prospek rating Indonesia. Jika S&P benar-benar menurunkan peringkat, dampaknya akan langsung terasa pada yield SBN, biaya utang korporasi, dan arus modal asing.

Mengapa Ini Penting

Kritik The Economist bukan sekadar opini — ini adalah sinyal yang didengar oleh investor global dan lembaga rating. Jika S&P menurunkan peringkat Indonesia untuk pertama kalinya sejak 1998, biaya utang negara dan korporasi akan naik drastis, memicu capital outflow lebih lanjut, dan memperlemah rupiah yang sudah di level terendah. Ini adalah ujian kredibilitas fiskal dan politik yang akan menentukan arah ekonomi Indonesia untuk 2-3 tahun ke depan.

Dampak ke Bisnis

  • Risiko penurunan rating S&P akan langsung mendorong kenaikan yield SBN, meningkatkan biaya pendanaan bagi korporasi yang menerbitkan obligasi — terutama sektor perbankan, properti, dan infrastruktur yang memiliki utang besar.
  • Ketidakpastian kebijakan dan sentralisasi kekuasaan dapat mempercepat capital outflow asing dari pasar saham dan SBN, memperlemah rupiah lebih lanjut, dan menekan margin importir serta perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.
  • Kembalinya peran militer dalam sektor publik menciptakan risiko regulasi bagi investor di sektor sumber daya alam dan infrastruktur — keputusan bisnis bisa menjadi tidak lagi murni berdasarkan pertimbangan ekonomi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pernyataan resmi dari S&P, Moody's, dan Fitch mengenai prospek rating Indonesia — jika ada sinyal penurunan, yield SBN akan langsung merespon.
  • Risiko yang perlu dicermati: realisasi defisit APBN bulan April-Mei 2026 — jika tren belanja terus membengkak, batas 3% PDB bisa terlampaui dan memicu aksi jual aset Indonesia.
  • Sinyal penting: respons pemerintah terhadap kritik ini — apakah ada langkah penghematan atau justru pembelaan yang defensif — akan menentukan arah kepercayaan investor dalam 1-4 minggu ke depan.