Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Soluna Raup Pendapatan $9,4 Juta (+58%) — Bisnis Hosting AI Kian Dominan
Berita internasional tentang pergeseran model bisnis penambang Bitcoin ke AI hosting — dampak langsung ke Indonesia masih terbatas, namun pola ini menjadi sinyal struktural bagi ekosistem data center dan kripto lokal.
- Periode
- Q1 2026
- Pertumbuhan YoY
- 58%
- Pendapatan
- $9,4 juta
- Laba Bersih
- -$17,9 juta
- EBITDA
- -$2,1 juta (adjusted EBITDA loss)
- Metrik Kunci
-
- ·Pendapatan hosting data center: $6,7 juta
- ·Pendapatan penambangan kripto: $2,2 juta (turun dari ~$3 juta tahun sebelumnya)
- ·Kas akhir kuartal: $68,6 juta
- ·Empat kuartal berturut-turut pertumbuhan pendapatan beruntun
Key Takeaways
- 1 Yang perlu dipantau: pengumuman diversifikasi dari penambang kripto publik Indonesia — apakah ada yang mulai mengalihkan kapasitas ke AI hosting atau komputasi berperforma tinggi.
- 2 Risiko yang perlu dicermati: tekanan lanjutan pada hashprice Bitcoin — jika turun lebih dalam, penambang lokal dengan biaya operasional tinggi bisa terpaksa tutup atau dijual asetnya.
- 3 Sinyal penting: kebijakan insentif pusat data AI dari pemerintah Indonesia — apakah akan ada paket fiskal atau kemudahan regulasi untuk menarik investasi data center global.
Ringkasan Eksekutif
Soluna Holdings, perusahaan infrastruktur digital AS, melaporkan pendapatan kuartal pertama 2026 sebesar $9,4 juta — naik 58% year-on-year dan 2% secara kuartalan. Ini merupakan kuartal keempat berturut-turut dengan pertumbuhan pendapatan beruntun. Pertumbuhan didorong oleh kapasitas baru di dua pusat data Texas (Dorothy dan Kati) yang menggeser fokus dari penambangan Bitcoin ke layanan hosting data center untuk AI dan komputasi berperforma tinggi. Segmen hosting data center menyumbang $6,7 juta pendapatan, sementara penambangan kripto hanya $2,2 juta — turun dari hampir $3 juta tahun sebelumnya akibat memburuknya ekonomi penambangan Bitcoin. Meskipun pendapatan naik, Soluna masih mencatat rugi bersih yang melebar menjadi $17,9 juta dari $10,5 juta setahun sebelumnya, terutama karena beban kompensasi berbasis saham, bunga, dan biaya pendanaan yang lebih tinggi. Rugi EBITDA yang disesuaikan justru menyempit menjadi $2,1 juta. Perusahaan mengakhiri kuartal dengan kas $68,6 juta dan terus memperluas infrastruktur, termasuk rencana pengembangan bisnis AI dan komputasi berperforma tinggi. Pola ini bukan kasus terisolasi. Laporan CoinShares pada Maret 2026 menemukan bahwa sebanyak 20% penambang Bitcoin bisa beroperasi dalam kerugian, terutama yang menggunakan mesin lama dan tidak efisien. Hashprice — ukuran pendapatan penambang — jatuh ke level terendah pasca-halving pada Februari. Sebagai respons, sejumlah penambang publik seperti HIVE Digital Technologies, TeraWulf, dan Core Scientific telah mengalihkan modal ke AI dan komputasi berperforma tinggi. Core Scientific sendiri baru melaporkan rugi $347 juta di Q1-2026, namun pendapatan hosting AI-nya melonjak dari $8,6 juta menjadi $77,5 juta. Analis Bernstein bahkan menyebut IREN diperkirakan akan memperoleh sebagian besar nilai masa depannya dari infrastruktur AI, bukan penambangan aset digital. Bagi Indonesia, tren ini memiliki dua implikasi. Pertama, pergeseran penambang kripto global ke AI hosting menekan pasokan kapasitas komputasi untuk penambangan Bitcoin, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi profitabilitas penambang kripto Indonesia yang masih bergantung pada perangkat keras generasi lama. Kedua, meningkatnya permintaan global untuk pusat data AI membuka peluang bagi Indonesia sebagai hub regional — terutama jika infrastruktur listrik dan konektivitas serat optik terus ditingkatkan. Namun, investasi pusat data AI membutuhkan kepastian regulasi, pasokan energi yang stabil, dan insentif fiskal yang kompetitif dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah apakah ada penambang kripto Indonesia yang mulai mengumumkan diversifikasi ke AI hosting, serta respons pemerintah dalam bentuk kebijakan insentif untuk pusat data AI. Juga, pergerakan hashprice Bitcoin dan harga BTC — jika terus tertekan, tekanan pada penambang lokal akan semakin besar dan mempercepat gelombang konsolidasi atau diversifikasi.
Mengapa Ini Penting
Pergeseran struktural penambang Bitcoin global ke AI hosting menandakan bahwa era keemasan penambangan kripto berbasis proof-of-work mungkin telah berakhir untuk pemain kecil. Bagi Indonesia, ini berarti peluang investasi pusat data AI yang lebih besar — namun juga risiko bahwa penambang kripto lokal yang tidak mampu bertransformasi akan tergerus. Pola ini juga memperkuat thesis bahwa AI, bukan kripto, yang akan menjadi penggerak utama permintaan infrastruktur komputasi di masa depan.
Dampak ke Bisnis
- Penambang kripto Indonesia yang masih mengandalkan perangkat keras generasi lama menghadapi tekanan margin yang semakin besar — hashprice yang rendah pasca-halving membuat operasi mereka tidak ekonomis. Konsolidasi atau diversifikasi ke AI hosting menjadi pilihan yang semakin mendesak.
- Peluang investasi pusat data AI di Indonesia semakin terbuka — permintaan global yang melonjak dan relokasi kapasitas dari penambang kripto dapat mempercepat pembangunan infrastruktur digital domestik, terutama jika pemerintah memberikan insentif fiskal dan kemudahan perizinan.
- Emiten teknologi dan infrastruktur digital Indonesia yang terkait dengan pusat data — seperti yang terlibat dalam pengembangan kawasan industri digital atau penyedia listrik untuk data center — berpotensi mendapat limpahan permintaan dari tren global ini.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman diversifikasi dari penambang kripto publik Indonesia — apakah ada yang mulai mengalihkan kapasitas ke AI hosting atau komputasi berperforma tinggi.
- Risiko yang perlu dicermati: tekanan lanjutan pada hashprice Bitcoin — jika turun lebih dalam, penambang lokal dengan biaya operasional tinggi bisa terpaksa tutup atau dijual asetnya.
- Sinyal penting: kebijakan insentif pusat data AI dari pemerintah Indonesia — apakah akan ada paket fiskal atau kemudahan regulasi untuk menarik investasi data center global.
Konteks Indonesia
Tren pergeseran penambang Bitcoin global ke AI hosting relevan bagi Indonesia karena dua jalur. Pertama, penambang kripto Indonesia — yang sebagian besar masih menggunakan perangkat keras generasi lama — menghadapi tekanan margin yang semakin berat akibat hashprice yang rendah pasca-halving. Jika tren ini berlanjut, konsolidasi atau kebangkrutan penambang kecil bisa terjadi. Kedua, meningkatnya permintaan global untuk pusat data AI membuka peluang bagi Indonesia sebagai tujuan investasi data center regional. Namun, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah lebih dulu membangun ekosistem data center. Keunggulan komparatif Indonesia — seperti sumber daya energi geothermal dan tenaga air yang melimpah serta biaya tanah yang lebih murah — perlu dikapitalisasi dengan kebijakan yang tepat.
Konteks Indonesia
Tren pergeseran penambang Bitcoin global ke AI hosting relevan bagi Indonesia karena dua jalur. Pertama, penambang kripto Indonesia — yang sebagian besar masih menggunakan perangkat keras generasi lama — menghadapi tekanan margin yang semakin berat akibat hashprice yang rendah pasca-halving. Jika tren ini berlanjut, konsolidasi atau kebangkrutan penambang kecil bisa terjadi. Kedua, meningkatnya permintaan global untuk pusat data AI membuka peluang bagi Indonesia sebagai tujuan investasi data center regional. Namun, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah lebih dulu membangun ekosistem data center. Keunggulan komparatif Indonesia — seperti sumber daya energi geothermal dan tenaga air yang melimpah serta biaya tanah yang lebih murah — perlu dikapitalisasi dengan kebijakan yang tepat.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.