Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
OKX & KIS Incar 40% Saham Coinone — Konsolidasi Bursa Kripto Korea Makin Ketat
Konsolidasi bursa kripto di Korea Selatan menandai pergeseran struktural yang dapat memengaruhi sentimen risk-on global dan regulasi kripto di Asia, termasuk Indonesia, meskipun dampak langsung ke ekonomi riil domestik masih terbatas.
- Jenis Aksi
- akuisisi
- Nilai Transaksi
- tidak disebutkan secara eksplisit untuk saham OKX-KIS; sebagai konteks, Mirae Asset membeli 92,06% saham Korbit senilai 133,48 miliar won (~$93 juta), dan Hana Financial membeli 6,55% saham Dunamu senilai 1,003 triliun won (~$668 juta)
- Timeline
- negosiasi masih berlangsung, belum ada konfirmasi resmi atau jadwal penyelesaian
- Alasan Strategis
- OKX dan KIS ingin mengamankan akses ke pasar kripto Korea Selatan yang teregulasi ketat, mengikuti jejak Binance (akuisisi Gopax) dan Mirae Asset (akuisisi Korbit). Keterlibatan KIS — institusi keuangan tradisional — mencerminkan tren adopsi institusional terhadap aset kripto di Korea.
- Pihak Terlibat
- OKXKorea Investment and SecuritiesCoinone
Key Takeaways
- 1 Yang perlu dipantau: respons regulator Korea terhadap akuisisi OKX-KIS di Coinone — jika disetujui, ini menjadi preseden bagi akuisisi bursa asing di pasar kripto Asia.
- 2 Risiko yang perlu dicermati: peralihan dana investor Korea dari kripto ke saham yang sudah mencapai volume terbesar dalam satu dekade — jika berlanjut, dapat menekan harga kripto global dan sentimen risk-on di emerging market termasuk Indonesia.
- 3 Sinyal penting: perkembangan regulasi pajak kripto Korea (22% mulai 2027) dan aturan AML baru — jika diterapkan, dapat mempercepat eksodus investor ritel dari kripto dan menjadi model bagi kebijakan serupa di Indonesia.
Ringkasan Eksekutif
OKX, salah satu bursa kripto global terbesar, bersama Korea Investment and Securities (KIS), dikabarkan sedang menegosiasikan pembelian masing-masing 20% saham Coinone — total 40% — melalui penerbitan saham baru. Coinone adalah salah satu dari lima bursa utama di Korea Selatan yang melayani perdagangan won, bersama Upbit, Bithumb, Korbit, dan Gopax. Langkah ini mengikuti jejak Binance yang telah mengakuisisi Gopax tahun lalu, serta Mirae Asset yang mengakuisisi 92,06% saham Korbit senilai sekitar $93 juta pada Februari lalu. Sementara itu, Hana Financial Group baru saja mengumumkan investasi sekitar $668 juta untuk membeli 6,55% saham Dunamu Inc., operator Upbit, yang dijadwalkan selesai pada pertengahan Juni. Transaksi-transaksi ini menunjukkan persaingan yang semakin ketat antara bursa asing dan institusi keuangan domestik Korea untuk mengamankan posisi di pasar kripto Korea yang sangat teregulasi. Meskipun OKX dan KIS belum memberikan konfirmasi resmi, dan Coinbase sebelumnya juga dikabarkan menjajaki investasi serupa di Coinone tanpa realisasi, arah konsolidasi ini jelas: institusi keuangan tradisional dan bursa global berlomba masuk ke pasar kripto Korea. Di sisi lain, kepemilikan kripto investor Korea Selatan justru anjlok dari USD83 miliar menjadi USD41 miliar dalam setahun terakhir, seiring peralihan dana ke pasar saham dan ketidakpastian regulasi domestik, termasuk rencana pajak 22% atas keuntungan kripto mulai 2027. Ironisnya, hedge fund global justru memborong saham Korea, Jepang, dan Taiwan dalam volume terbesar dalam satu dekade, menunjukkan rotasi modal dari kripto ke ekuitas tradisional di kawasan Asia. Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena Korea Selatan adalah salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia, dan perubahan regulasi serta arus modal di sana sering menjadi leading indicator bagi sentimen kripto global yang kemudian berdampak pada pasar kripto Indonesia. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu perlu mencermati langkah konsolidasi ini karena dapat mengubah peta persaingan bursa kripto Asia. Yang perlu dipantau ke depan: respons regulator Korea terhadap akuisisi ini, perkembangan regulasi kripto di AS dan EU yang memengaruhi kerangka compliance global, serta volume perdagangan kripto Indonesia sebagai indikator sentimen risk-on domestik.
Mengapa Ini Penting
Konsolidasi bursa kripto di Korea Selatan menandai masuknya institusi keuangan tradisional ke dalam ekosistem aset digital, yang dapat mempercepat adopsi institusional secara global. Bagi Indonesia, ini berarti tekanan regulasi dan persaingan yang lebih ketat bagi bursa kripto lokal, serta potensi perubahan sentimen risk-on yang memengaruhi aliran modal ke aset digital dan saham teknologi di IHSG.
Dampak ke Bisnis
- Bursa kripto Indonesia seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu menghadapi tekanan persaingan tidak langsung: jika bursa global seperti OKX dan Binance memperkuat posisi di Asia, mereka dapat memperluas layanan ke Indonesia, memperketat margin dan pangsa pasar bursa lokal.
- Investor ritel kripto Indonesia terpengaruh oleh sentimen global: kepemilikan kripto Korea yang turun 50% dan peralihan ke saham dapat menjadi sinyal risk-off yang menular ke pasar kripto Indonesia, mengurangi volume perdagangan dan likuiditas.
- Regulasi kripto Indonesia (Bappebti/OJK) dapat terpengaruh oleh preseden regulasi Korea: aturan AML yang diperketat dan pajak 22% atas keuntungan kripto dapat menjadi benchmark bagi kebijakan serupa di Indonesia, meningkatkan biaya kepatuhan bagi exchange lokal.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: respons regulator Korea terhadap akuisisi OKX-KIS di Coinone — jika disetujui, ini menjadi preseden bagi akuisisi bursa asing di pasar kripto Asia.
- Risiko yang perlu dicermati: peralihan dana investor Korea dari kripto ke saham yang sudah mencapai volume terbesar dalam satu dekade — jika berlanjut, dapat menekan harga kripto global dan sentimen risk-on di emerging market termasuk Indonesia.
- Sinyal penting: perkembangan regulasi pajak kripto Korea (22% mulai 2027) dan aturan AML baru — jika diterapkan, dapat mempercepat eksodus investor ritel dari kripto dan menjadi model bagi kebijakan serupa di Indonesia.
Konteks Indonesia
Korea Selatan adalah salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia, dengan kepemilikan kripto yang sempat mencapai USD83 miliar. Perubahan regulasi dan arus modal di Korea sering menjadi leading indicator bagi sentimen kripto global yang kemudian berdampak pada pasar kripto Indonesia. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu perlu mencermati langkah konsolidasi ini karena dapat mengubah peta persaingan bursa kripto Asia. Selain itu, hedge fund global yang memborong saham Korea, Jepang, dan Taiwan dalam volume terbesar dalam satu dekade menunjukkan rotasi modal dari kripto ke ekuitas tradisional di Asia, yang dapat memengaruhi arus modal ke Indonesia.
Konteks Indonesia
Korea Selatan adalah salah satu pasar kripto ritel paling aktif di Asia, dengan kepemilikan kripto yang sempat mencapai USD83 miliar. Perubahan regulasi dan arus modal di Korea sering menjadi leading indicator bagi sentimen kripto global yang kemudian berdampak pada pasar kripto Indonesia. Exchange lokal seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu perlu mencermati langkah konsolidasi ini karena dapat mengubah peta persaingan bursa kripto Asia. Selain itu, hedge fund global yang memborong saham Korea, Jepang, dan Taiwan dalam volume terbesar dalam satu dekade menunjukkan rotasi modal dari kripto ke ekuitas tradisional di Asia, yang dapat memengaruhi arus modal ke Indonesia.