Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

18 MEI 2026
Minyak Brent Tembus USD111 — Selat Hormuz Ditutup, Risiko Fiskal RI Membesar

Foto: BBC Business — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Minyak Brent Tembus USD111 — Selat Hormuz Ditutup, Risiko Fiskal RI Membesar
Pasar

Minyak Brent Tembus USD111 — Selat Hormuz Ditutup, Risiko Fiskal RI Membesar

Tim Redaksi Feedberry ·18 Mei 2026 pukul 02.23 · Sinyal tinggi · Sumber: BBC Business ↗
9 Skor

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengancam pasokan 20% minyak dan LNG global; Brent di atas USD111 memperbesar beban subsidi energi Indonesia dan memperlebar defisit APBN yang sudah Rp240 triliun.

Urgensi
9
Luas Dampak
9
Dampak Indonesia
9
Analisis Komoditas
Komoditas
Minyak Mentah (Brent)
Harga Terkini
USD111,28 per barel
Perubahan Harga
+1,85%
Proyeksi Harga
Potensi kenaikan lebih lanjut jika konflik meningkat — level USD115 menjadi psikologis berikutnya. Risiko sisi bawah tergantung pada hasil negosiasi atau intervensi negara konsumen.
Faktor Supply
  • ·Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak 28 Februari — sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia melewati jalur ini
  • ·Eskalasi konflik AS-Iran: Trump mengancam aksi militer, pertemuan keamanan nasional AS dijadwalkan Selasa
Faktor Demand
  • ·Kekhawatiran gangguan pasokan global mendorong pembelian spekulatif
  • ·Belum ada sinyal gencatan senjata atau kesepakatan damai

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: hasil pertemuan keamanan AS pada Selasa (19 Mei) — jika opsi militer dibahas, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: respons Iran terhadap ancaman Trump — jika Iran memperluas serangan ke negara tetangga, risiko gangguan pasokan minyak meningkat drastis.
  • 3 Sinyal penting: pergerakan Brent di atas USD115 — level psikologis yang bisa memicu panic buying dan mempercepat kenaikan harga BBM domestik.

Ringkasan Eksekutif

Harga minyak mentah global kembali melonjak pada perdagangan Senin pagi di Asia, setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran bahwa 'waktu terus berjalan' dalam negosiasi damai yang menemui jalan buntu. Brent crude naik 1,85% ke USD111,28 per barel, sementara minyak acuan AS WTI melonjak 2,32% ke USD107,87. Pemicu utama eskalasi ini adalah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Selat ini merupakan jalur transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Media Iran melaporkan bahwa Washington gagal memberikan konsesi konkret dalam tanggapannya terhadap proposal terakhir Teheran, yang menurut Mehr News Agency akan menyebabkan 'jalan buntu dalam negosiasi'. Trump dijadwalkan bertemu dengan penasihat keamanan nasionalnya pada Selasa untuk membahas opsi aksi militer terhadap Iran, mengindikasikan bahwa eskalasi konflik masih sangat mungkin terjadi. Bagi Indonesia, yang merupakan importir minyak netto, kenaikan harga minyak global berarti beban subsidi energi dan kompensasi BBM semakin besar. Defisit APBN yang sudah mencapai Rp240,1 triliun pada Maret 2026 akan semakin tertekan jika harga minyak bertahan di atas USD110 per barel. Selain itu, tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM dan transportasi dapat menggerus daya beli konsumen, yang sudah terlihat dari perlambatan penjualan ritel global. Sektor yang paling terdampak adalah transportasi, logistik, manufaktur yang bergantung pada energi, dan konsumen rumah tangga. Di sisi lain, emiten energi hulu seperti Medco Energi dan Saka Energi bisa mendapat windfall dari harga minyak tinggi. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons Iran terhadap ancaman Trump, hasil pertemuan keamanan AS pada Selasa, dan potensi gangguan pasokan minyak dari Selat Hormuz. Jika konflik benar-benar meningkat, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi, memperburuk tekanan fiskal dan moneter Indonesia. Risiko stagflasi — inflasi tinggi dengan pertumbuhan melambat — menjadi skenario yang semakin nyata bagi Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan minyak di atas USD111 bukan sekadar headline pasar — ini mengubah asumsi makro Indonesia. Setiap kenaikan USD10 per barel menambah beban subsidi energi yang langsung memperlebar defisit APBN. Dengan defisit sudah Rp240 triliun di kuartal I, ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Ini berarti potensi pemotongan belanja modal, penundaan proyek infrastruktur, atau kenaikan harga BBM bersubsidi — semuanya berdampak langsung ke bisnis dan daya beli masyarakat.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan fiskal membesar: defisit APBN yang sudah Rp240 triliun akan semakin melebar jika harga minyak bertahan di atas USD110. Pemerintah terpaksa menambah utang atau memotong belanja — proyek infrastruktur dan belanja modal jadi sasaran pertama.
  • Biaya operasional melonjak: sektor transportasi, logistik, dan manufaktur padat energi akan mengalami kenaikan biaya bahan bakar yang signifikan. Perusahaan pelayaran, maskapai penerbangan, dan produsen semen adalah yang paling terpukul.
  • Daya beli konsumen tertekan: inflasi dari kenaikan harga BBM dan transportasi akan menggerus daya beli rumah tangga. Sektor ritel, properti, dan otomotif — yang sudah melambat — akan semakin tertekan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: hasil pertemuan keamanan AS pada Selasa (19 Mei) — jika opsi militer dibahas, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi.
  • Risiko yang perlu dicermati: respons Iran terhadap ancaman Trump — jika Iran memperluas serangan ke negara tetangga, risiko gangguan pasokan minyak meningkat drastis.
  • Sinyal penting: pergerakan Brent di atas USD115 — level psikologis yang bisa memicu panic buying dan mempercepat kenaikan harga BBM domestik.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah importir minyak netto dengan ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga minyak global di atas USD111 per barel berdampak langsung pada tiga jalur: (1) beban subsidi energi dan kompensasi BBM membengkak, memperlebar defisit APBN yang sudah Rp240 triliun; (2) tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM dan transportasi menggerus daya beli; (3) neraca perdagangan memburuk karena biaya impor minyak naik. Sektor transportasi, logistik, dan manufaktur padat energi adalah yang paling terpukul. Di sisi lain, emiten energi hulu seperti Medco Energi bisa mendapat windfall dari harga minyak tinggi.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah importir minyak netto dengan ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga minyak global di atas USD111 per barel berdampak langsung pada tiga jalur: (1) beban subsidi energi dan kompensasi BBM membengkak, memperlebar defisit APBN yang sudah Rp240 triliun; (2) tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM dan transportasi menggerus daya beli; (3) neraca perdagangan memburuk karena biaya impor minyak naik. Sektor transportasi, logistik, dan manufaktur padat energi adalah yang paling terpukul. Di sisi lain, emiten energi hulu seperti Medco Energi bisa mendapat windfall dari harga minyak tinggi.