28 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Mangga: RI Produsen Nomor Dua Dunia, Produksi Turun 8,9%
Pasar

Mangga: RI Produsen Nomor Dua Dunia, Produksi Turun 8,9%

Tim Redaksi Feedberry ·28 Oktober 2026 pukul 15.05 WIB · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
4.7 Skor

Bukan guncangan pasar, tetapi menunjukkan masalah struktural hortikultura: kapasitas produksi besar tanpa rantai nilai pascapanen, di saat volume panen justru menyusut 8,9%.

Urgensi
3
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
6
Analisis Komoditas
Komoditas
Mangga
Faktor Supply
  • ·Produksi mangga Indonesia turun sekitar 8,9% menjadi 3,01 juta ton pada 2025 dari 3,30 juta ton pada 2024 (BPS)
  • ·Produksi nasional sebelumnya meningkat dari 2,84 juta ton pada 2021 menjadi 3,31 juta ton
  • ·India mencatat 23,1 juta ton pada tahun pemasaran 2024–2025, naik 3,3% dari 22,4 juta ton
  • ·Subsidi perluasan lahan di India, Meksiko, dan Kenya mendorong peningkatan produksi global
  • ·Pasokan Peru lebih terbatas sehingga harganya meningkat, sementara harga mangga Brasil melemah
Faktor Demand
  • ·Permintaan dari sektor ritel dan jasa makanan
  • ·Kenaikan pendapatan rumah tangga di Asia Pasifik
  • ·Pertumbuhan pasar minuman berbasis tumbuhan di Amerika Utara dan Eropa
  • ·Permintaan negara Teluk berpendapatan tinggi dan pembelian di luar musim panen oleh China dari Vietnam
  • ·Platform digital yang memangkas margin perantara membuka peluang bisnis baru

Ringkasan Eksekutif

Indonesia menempati posisi produsen mangga terbesar kedua dunia dengan 4,14 juta ton, namun besaran panen itu tidak berbanding lurus dengan nilai ekonominya. Pasar mangga global diproyeksikan menyentuh US$70,6 miliar atau setara Rp1.283,17 triliun pada 2031, dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk 3,87% sepanjang 2026–2031 menurut Mordor Intelligence. Arah sebaliknya terjadi di dalam negeri: BPS mencatat produksi mangga nasional 3,01 juta ton pada 2025, turun sekitar 8,9% dari 3,30 juta ton pada 2024. Dua angka produksi itu perlu dibaca dengan hati-hati. Posisi Indonesia dalam FAOSTAT 2024 dihitung dari kelompok komoditas mangga, jambu biji, dan manggis — bukan mangga murni — sehingga peringkat kedua dunia itu sebagian ditopang kontribusi komoditas lain.

India memimpin dengan 27,77 juta ton pada kelompok yang sama, dan pada mangga murni mencatat 23,1 juta ton di tahun pemasaran 2024–2025, naik 3,3% dari 22,4 juta ton. Publikasi Kementerian Pertanian India pada 2013 mencatat 10,99 juta ton dari luas areal 1,23 juta hektare; dalam rentang itu kapasitas produksi India berlipat, sementara jalur ekspornya sudah terbentuk ke Uni Emirat Arab, Bangladesh, Inggris, Arab Saudi, dan Nepal. Yang tidak terlihat dari headline ini: seluruh pendorong pertumbuhan pasar mangga dunia berada di lapisan pascapanen, bukan di kebun. Teknologi pengiriman dengan atmosfer terkendali yang menekan kehilangan pascapanen, penurunan biaya angkut laut, platform digital yang memangkas margin perantara, serta permintaan ritel dan jasa makanan — semuanya bermuara pada rantai dingin dan distribusi.

Di situlah nilai terbesar bergerak, dan di situlah posisi Indonesia paling tipis. Kapasitas produksi besar di hulu, tetapi nilainya bocor di tengah jalan. Subsidi perluasan lahan yang dinikmati India, Meksiko, dan Kenya menambah tekanan: pasokan global terdiversifikasi, pembeli punya lebih banyak pilihan asal, dan daya tawar produsen yang hanya menjual buah segar makin tipis. Konsekuensinya paling dulu terasa pada petani dan eksportir hortikultura skala kecil-menengah, yang menanggung penurunan volume panen justru ketika harga di pasar global sedang ditopang terbatasnya pasokan dari Peru. Nilai tukar di 18.175 membuat penerimaan ekspor terasa lebih tebal dalam rupiah, tetapi sekaligus mempermahal peralatan rantai dingin dan kemasan impor yang dibutuhkan untuk naik kelas — dilema yang sama yang menghambat hilirisasi hortikultura secara umum.

Mengapa Ini Penting

Refleks kebijakan untuk merespons berita semacam ini biasanya menambah luas tanam — padahal seluruh pendorong pertumbuhan pasar global ada di rantai dingin, pengemasan, dan distribusi, bukan di kebun. Selama bottleneck pascapanen tidak dibenahi, penambahan panen hanya menambah volume yang hilang di perjalanan. Ada pula dimensi yang jarang dibahas: peringkat kedua dunia itu dihitung dari kelompok mangga-jambu-manggis, bukan mangga murni, sehingga rasa aman yang muncul dari peringkat tersebut sebagian ilusif.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir hortikultura kehilangan volume jual tepat ketika pasar global tumbuh 3,87% per tahun — penurunan produksi 8,9% berarti pangsa yang hilang dialihkan ke pemasok lain, terutama Peru yang pasokannya sedang ketat dan harganya naik, serta Brasil yang harganya melemah.
  • Penyedia logistik berpendingin, operator cold storage, dan industri kemasan menghadapi permintaan yang tumbuh tetapi terkonsentrasi pada segmen yang belum dibangun di Indonesia; nilai tambah terbesar pasar mangga dunia justru bergerak ke lapisan ini, bukan ke kebun.
  • Dalam 3–6 bulan ke depan, penurunan produksi kedua berturut-turut akan merambat ke pemasok bibit dan saprota petani, serta menekan konsumsi rumah tangga di daerah sentra. Di sisi lain, penguatan nilai tukar ke 18.175 membuat biaya peralatan rantai dingin dan kemasan impor semakin berat bagi koperasi dan eksportir kecil yang ingin naik kelas.
  • Pemasok asal yang makin beragam — dengan India, Meksiko, dan Kenya menikmati subsidi perluasan lahan — memperkuat posisi tawar pembeli di negara Teluk dan China. Produsen yang hanya menjual buah segar tanpa kontrak jangka panjang berada di sisi meja yang paling lemah.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis produksi hortikultura BPS untuk periode berikutnya — jika penurunan berlanjut melampaui satu tahun, persoalannya struktural, bukan musiman, dan pangsa pasar yang hilang sulit direbut kembali.
  • Risiko yang perlu dicermati: tahun pemasaran mangga India 2025–2026 — India sudah membangun jalur ekspor ke Uni Emirat Arab, Bangladesh, Inggris, Arab Saudi, dan Nepal; ekspansi pasokan mereka akan menutup ruang masuk bagi buah Indonesia di pasar yang sama.
  • Sinyal penting: arah harga mangga Peru yang naik akibat pasokan terbatas berbanding harga Brasil yang melemah — selisih ini adalah penanda seberapa ketat pasokan global. Jika keketatan berlanjut sementara volume Indonesia menyusut, kehilangan peluang ekspor terjadi pada momen harga terbaik.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.