28 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / BEI Bidik 25 IPO 2027 — Turun Separuh dari Target 2026
Pasar

BEI Bidik 25 IPO 2027 — Turun Separuh dari Target 2026

Tim Redaksi Feedberry ·28 Oktober 2026 pukul 12.56 WIB · Sinyal menengah · Sumber: Katadata ↗
6.7 Skor

Target IPO 2027 dipangkas separuh saat IHSG terkoreksi 3,61% dan rupiah di 18,175 menunjukkan bursa menurunkan ekspektasi pipeline emiten, dengan dampak ke pendapatan sekuritas dan biaya modal korporasi.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

BEI menargetkan 25 perusahaan melakukan IPO pada 2027, separuh dari target 50 perusahaan pada 2026. Angka itu tercantum dalam RKAT 2027 yang disampaikan dalam RUPSLB pada Rabu (28/10). Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut target tersebut bagian dari 905 efek baru yang ingin dicatatkan, terdiri dari 25 saham baru, 175 emisi obligasi dan sukuk, serta 705 efek lain termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif. Target efek baru 905 itu naik 13,1% dari RKAT 2026 revisi sebanyak 800 efek. Namun target IPO justru turun separuh. Kombinasi ini menunjukkan pertumbuhan pipeline lebih banyak bergeser ke obligasi, sukuk, dan produk terstruktur, bukan ke penerbitan saham perdana.

BEI juga menargetkan nilai transaksi harian rata-rata Rp21 triliun pada 2027, naik 16,7% dari target RKAT 2026 revisi Rp18 triliun, dengan asumsi 241 hari bursa. Jumlah investor aktif bulanan ditargetkan 1,3 juta, naik 44,4% dari 900 ribu. Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan pendapatan Rp2,59 triliun pada 2027, tumbuh 14,6% dari target RKAT 2026 revisi. Pendapatan itu diharapkan ditopang aktivitas transaksi efek, jasa pencatatan efek, dan layanan data pasar modal. Di pasar, IHSG berada di 5,179 setelah terkoreksi 3,61%, sementara USD/IDR di 18,175 dan Brent di US$111,02. Konteks ini penting karena target transaksi dan investor aktif yang lebih tinggi harus dicapai di tengah sentimen risk-off dan rupiah yang lemah, bukan di tengah pasar yang sedang euforia.

Yang tidak terlihat dari headline: penurunan target IPO bisa menjadi cermin bahwa emiten menahan diri karena valuasi dan biaya ekuitas belum menarik, bukan karena BEI kurang agresif memasarkan bursa. Jika pipeline saham tipis, beban pertumbuhan pendapatan bursa bergeser ke obligasi, sukuk, waran terstruktur, dan data pasar. Bagi sekuritas, penjamin emisi, dan manajer investasi, bauran produk yang berubah ini mengubah sumber fee. Bagi perusahaan yang tetap ingin listing, kompetisi untuk mendapatkan investor menjadi lebih ketat. Untuk mencapai target 1,3 juta investor aktif bulanan dan Rp21 triliun transaksi harian, BEI menyiapkan perluasan edukasi dan literasi pasar modal, peningkatan aktivitas lewat kantor perwakilan, galeri investasi, dan kanal digital.

Efektivitasnya akan terlihat dari apakah target transaksi dan investor aktif tercapai tanpa perlu koreksi target lebih lanjut.

Mengapa Ini Penting

Penurunan target IPO menjadi separuh lebih penting dari angka absolutnya: ini sinyal bahwa pipeline emiten saham dan selera risiko investor sedang tidak kondusif. Dampaknya tidak berhenti di BEI, tetapi merambat ke pendapatan sekuritas dan penjamin emisi, serta ke perusahaan yang ingin mencari modal ekuitas di tengah pasar yang sedang tertekan.

Dampak ke Bisnis

  • Target 25 IPO pada 2027 yang separuh dari 50 pada 2026 menandakan pipeline emiten baru lebih tipis; sekuritas dan penjamin emisi yang mengandalkan fee penawaran umum akan menghadapi tekanan pendapatan, sementara perusahaan yang tetap ingin listing menghadapi proses tawar-menawar valuasi yang lebih ketat.
  • BEI tetap menaikkan target nilai transaksi harian ke Rp21 triliun dan investor aktif bulanan ke 1,3 juta; bila IHSG di 5,179 dan rupiah di 18,175 membuat minat investor tidak pulih, target itu bergantung pada perluasan literasi dan kanal digital, bukan pada perbaikan sentimen pasar secara alami.
  • Pendapatan BEI diproyeksikan Rp2,59 triliun, tumbuh 14,6%; bauran dari transaksi, jasa pencatatan, dan data pasar membuat bursa makin bergantung pada likuiditas. Jika IPO sedikit, pendapatan dari pencatatan efek baru ikut tertahan, dan beban mencapai target transaksi bisa bergeser ke insentif aktivitas investor.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi pipeline IPO hingga akhir 2026 — apakah jumlah calon emiten mendekati target 50 pada 2026 atau sudah menunjukkan tanda tidak tercapai, karena itu menjadi dasar apakah target 25 pada 2027 realistis.
  • Risiko yang perlu dicermati: IHSG di 5,179 dan rupiah di 18,175 — jika pelemahan berlanjut, minat investor ritel dan institusi untuk menyerap IPO baru bisa menurun, menekan target 1,3 juta investor aktif bulanan.
  • Sinyal penting: rincian insentif dan program perluasan galeri investasi serta kanal digital — jika BEI mengandalkan edukasi untuk mengejar target transaksi Rp21 triliun, efektivitasnya akan terlihat dari data investor aktif bulanan dan nilai transaksi harian.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.