28 OKT 2026
← Kembali
Beranda / Pasar / Produksi Gas AS Rekor 2026, LNG dan Data Center Pendorong
Pasar

Produksi Gas AS Rekor 2026, LNG dan Data Center Pendorong

Tim Redaksi Feedberry ·28 Oktober 2026 pukul 11.00 WIB · Sinyal tinggi · Sumber: Kontan ↗
6 Skor

Berita ini mengubah neraca gas global dan berdampak pada harga LNG serta biaya energi, tetapi transmisi ke Indonesia bersifat tidak langsung dan jangka menengah.

Urgensi
5
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
5
Analisis Komoditas
Komoditas
Gas Alam AS
Faktor Supply
  • ·Gas ikutan minyak dari aktivitas pengeboran di Permian
  • ·Produksi gas di Haynesville
  • ·Target produksi Expand Energy 7,4–7,6 bcfd pada 2026
  • ·Target produksi EQT 6,5–6,7 bcfd dengan capex pemeliharaan dipangkas
Faktor Demand
  • ·Ekspor LNG diproyeksikan melonjak 17%
  • ·Kebutuhan listrik pusat data
  • ·Total permintaan gas AS diperkirakan 120 bcfd pada 2026

Ringkasan Eksekutif

Produksi gas alam Amerika Serikat bersiap mencetak rekor pada 2026, tahun kedua berturut-turut. EIA memproyeksikan produksi naik dari 107,6 bcfd pada 2025 menjadi 112,2 bcfd pada 2026, lalu 116,1 bcfd pada 2027. Total permintaan gas AS diperkirakan mencapai 120 bcfd pada 2026, dari 116,5 bcfd pada 2025. Pendorong utamanya ekspor LNG yang diproyeksikan melonjak 17% dan kebutuhan listrik pusat data. Yang tidak terlihat dari headline: tambahan pasokan gas AS tidak sepenuhnya lahir dari ekonomi gas itu sendiri. Rystad Energy menyebut sebagian besar pertumbuhan berasal dari gas ikutan minyak di Permian dan produksi di Haynesville. Aktivitas pengeboran minyak di Permian meningkat setelah gangguan pasokan akibat perang yang melibatkan Iran mengerek harga minyak mentah AS ke level tertinggi dalam empat tahun.

Artinya, produksi gas AS saat ini ikut ditopang oleh insentif harga minyak, bukan hanya permintaan LNG dan data center. Jika harga minyak melemah atau pengeboran melambat, pasokan gas ikutan bisa ikut mengendur. Dampak ke korporasi terlihat pada dua produsen besar. Expand Energy menargetkan produksi 7,4–7,6 bcfd pada 2026 dengan investasi US$2,75–2,95 miliar, relatif setara belanja 2025 saat target produksi 7,2 bcfd. Laba bersih kuartal III-2026 diperkirakan US$304,3 juta, naik dari US$234 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. EQT memangkas panduan belanja modal pemeliharaan 2026 sebesar US$25 juta menjadi US$2,04–2,19 miliar, tetapi menaikkan target produksi menjadi 6,5–6,7 bcfd. Laba bersih EQT diperkirakan US$255,4 juta, turun dari US$328,6 juta. Pola ini menunjukkan efisiensi operasional, bukan ekspansi belanja agresif.

Bagi Indonesia, jalur transmisinya melalui pasar LNG global. Tambahan ekspor LNG AS berpotensi melonggarkan neraca gas global dan memengaruhi harga LNG Asia, yang berhubungan dengan pendapatan eksportir LNG domestik dan biaya energi industri. Namun efeknya tidak otomatis karena harga gas Asia juga dipengaruhi biaya minyak, kontrak jangka panjang, dan permintaan Asia. Dengan Brent di US$110,81 dan USD/IDR di 18.168, biaya energi impor tetap mahal; tambahan pasokan gas AS bisa menjadi bantalan, tetapi belum tentu menurunkan harga domestik.

Mengapa Ini Penting

Rekor produksi gas AS terlihat seperti cerita pasokan, tetapi akarnya adalah pengeboran minyak. Itu membuat pertumbuhan pasokan rapuh: jika harga minyak turun, gas ikutan menyusut, sementara permintaan LNG dan data center tetap naik. Bagi Indonesia, perubahan neraca LNG global ini lebih penting daripada angka produksinya karena menyentuh harga ekspor LNG dan biaya energi industri.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen gas AS seperti Expand Energy dan EQT mendapat ruang menaikkan produksi, tetapi EQT memangkas capex pemeliharaan US$25 juta menjadi US$2,04–2,19 miliar — efisiensi ini menandakan pertumbuhan produksi tidak selalu disertai belanja modal lebih besar.
  • Lonjakan ekspor LNG AS 17% menambah pasokan global; bagi Indonesia, ini dapat menekan harga LNG Asia dan memengaruhi pendapatan eksportir LNG domestik, sekaligus meredakan biaya impor gas bagi industri pengguna seperti pupuk dan petrokimia.
  • Permintaan listrik pusat data memperkuat konsumsi gas AS, tetapi karena sebagian pasokan berasal dari gas ikutan minyak di Permian, penurunan aktivitas pengeboran minyak dapat membalik pertumbuhan pasokan — risiko yang baru terasa dalam beberapa kuartal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: revisi proyeksi EIA untuk produksi dan permintaan gas AS 2026 — jika produksi 112,2 bcfd dipangkas atau permintaan 120 bcfd naik, neraca gas AS makin ketat.
  • Risiko yang perlu dicermati: aktivitas pengeboran minyak di Permian dan harga minyak mentah — karena pasokan gas sebagian berasal dari gas ikutan, pelemahan harga minyak dapat menurunkan produksi gas.
  • Sinyal penting: realisasi ekspor LNG AS dan permintaan listrik pusat data — kenaikan ekspor 17% dan kebutuhan data center adalah dua pendorong utama; jika salah satu melambat, asumsi rekor produksi perlu dikaji ulang.

Konteks Indonesia

Jalur utama ke Indonesia adalah pasar LNG dan biaya energi. Kenaikan ekspor LNG AS 17% menambah pasokan global; jika neraca LNG global melonggar, harga LNG Asia dapat tertekan dan pendapatan eksportir LNG domestik berpotensi tertekan, sementara industri pengguna gas bisa mendapat biaya lebih ringan. Sebaliknya, karena pasokan gas AS sebagian berasal dari gas ikutan minyak, ketegangan di Timur Tengah yang menaikkan Brent ke US$110,81 justru dapat menjaga produksi gas tetap tinggi. Dengan USD/IDR di 18.168 dan IHSG di 5.195 setelah turun 3,31%, pasar domestik sedang menghadapi risiko global; berita gas AS ini lebih bersifat struktural jangka menengah ketimbang katalis harian.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.