Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
Komisioner Pro-Kripto AS Hester Peirce Mundur, SEC Makin Sepi

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Forex & Crypto / Komisioner Pro-Kripto AS Hester Peirce Mundur, SEC Makin Sepi
Forex & Crypto

Komisioner Pro-Kripto AS Hester Peirce Mundur, SEC Makin Sepi

Tim Redaksi Feedberry ·20 Mei 2026 pukul 20.46 · Confidence 0/10 · Sumber: Cointelegraph ↗
6 Skor

Kehilangan suara moderat di SEC memperlambat kepastian regulasi kripto global, yang berdampak pada sentimen risk appetite dan arus modal ke aset digital Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
5
Dampak Indonesia
7

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pengumuman nominasi komisioner SEC dan CFTC oleh Presiden Trump — jika nominasi bersifat bipartisan, kepastian regulasi meningkat; jika partisan, ketidakpastian berlanjut.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika CLARITY Act tertunda karena kekosongan kuorum di SEC/CFTC, regulasi kripto AS tetap terfragmentasi, memperkuat volatilitas global.
  • 3 Sinyal penting: pernyataan resmi Ketua SEC Paul Atkins dan Ketua CFTC Michael Selig tentang prioritas regulasi — apakah mereka akan mengambil kebijakan sepihak atau menunggu pengisian komisioner.

Ringkasan Eksekutif

Hester Peirce, komisioner SEC yang dikenal sebagai 'Crypto Mom' karena sikapnya yang mendukung inovasi aset digital, akan meninggalkan regulator AS untuk menjadi profesor di sebuah sekolah hukum di Virginia. Kepergiannya terjadi sekitar 18 bulan setelah masa jabatannya resmi berakhir, dan ia tidak akan segera digantikan. Dengan kepergian Peirce, SEC hanya akan memiliki dua dari lima komisioner yang menjabat: Mark Uyeda dan Ketua Paul Atkins, keduanya dari Partai Republik. Sebelumnya, komisioner Demokrat Caroline Crenshaw juga telah hengkang pada Januari lalu tanpa ada nominasi pengganti dari Presiden Trump. Situasi serupa terjadi di CFTC, di mana Ketua Michael Selig menjadi satu-satunya komisioner dari lima kursi yang tersedia. Kekosongan kepemimpinan ini terjadi di tengah momentum penting bagi industri kripto AS. Sejak Trump menjabat pada Januari 2025, SEC telah mengubah pendekatan regulasi kripto secara drastis — membatalkan beberapa penegakan hukum dan investigasi terhadap perusahaan kripto, termasuk yang terkait dengan Trump dan keluarganya. SEC dan CFTC juga telah berkomitmen untuk mengakhiri 'perang wilayah regulasi' dan berkoordinasi dalam pengawasan industri. Namun, dengan hanya dua komisioner di SEC dan satu di CFTC, kemampuan kedua lembaga untuk mengambil keputusan kolegial dan merumuskan kebijakan komprehensif menjadi sangat terbatas. Sementara itu, RUU struktur pasar aset digital — CLARITY Act — sedang bergerak di Kongres dan diperkirakan akan mengalihkan banyak kewenangan regulasi kripto dari SEC ke CFTC. Banyak anggota parlemen mendesak Trump untuk mencalonkan komisioner dari kedua partai guna mengisi kekosongan ini, namun hingga berita ini ditulis, belum ada pengumuman nominasi.

Mengapa Ini Penting

Kekosongan kepemimpinan di SEC dan CFTC menunda kepastian regulasi kripto di AS — pasar terbesar dunia. Ketidakpastian ini langsung menekan risk appetite global, memperkuat arus keluar dari aset berisiko termasuk kripto dan saham teknologi di emerging market seperti Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Ketidakpastian regulasi kripto AS memperpanjang volatilitas harga aset digital global, yang berdampak langsung pada volume perdagangan dan pendapatan exchange kripto Indonesia seperti Tokocrypto, Indodax, dan Pintu.
  • Sentimen risk-off global akibat kekosongan regulator AS dapat memicu aksi jual asing di IHSG, terutama di saham teknologi dan emiten dengan eksposur kripto seperti GOTO dan BUKA.
  • Keterlambatan pengesahan CLARITY Act menghambat adopsi institusional kripto di AS, yang berarti aliran modal ventura ke startup blockchain Indonesia juga tertunda.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman nominasi komisioner SEC dan CFTC oleh Presiden Trump — jika nominasi bersifat bipartisan, kepastian regulasi meningkat; jika partisan, ketidakpastian berlanjut.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika CLARITY Act tertunda karena kekosongan kuorum di SEC/CFTC, regulasi kripto AS tetap terfragmentasi, memperkuat volatilitas global.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi Ketua SEC Paul Atkins dan Ketua CFTC Michael Selig tentang prioritas regulasi — apakah mereka akan mengambil kebijakan sepihak atau menunggu pengisian komisioner.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang aktif dengan lebih dari 20 juta investor terdaftar di Bappebti. Regulasi kripto Indonesia masih dalam tahap transisi ke OJK, dan kerangka acuan global — terutama dari AS — sangat memengaruhi arah kebijakan lokal. Ketidakpastian regulasi di AS dapat memperlambat penyusunan aturan aset digital di Indonesia, karena regulator cenderung menunggu preseden internasional. Selain itu, sentimen risk-off global akibat kekosongan SEC/CFTC dapat memperkuat tekanan jual di IHSG dan melemahkan rupiah, karena investor asing mengurangi eksposur ke aset berisiko emerging market.

Konteks Indonesia

Indonesia memiliki pasar kripto ritel yang aktif dengan lebih dari 20 juta investor terdaftar di Bappebti. Regulasi kripto Indonesia masih dalam tahap transisi ke OJK, dan kerangka acuan global — terutama dari AS — sangat memengaruhi arah kebijakan lokal. Ketidakpastian regulasi di AS dapat memperlambat penyusunan aturan aset digital di Indonesia, karena regulator cenderung menunggu preseden internasional. Selain itu, sentimen risk-off global akibat kekosongan SEC/CFTC dapat memperkuat tekanan jual di IHSG dan melemahkan rupiah, karena investor asing mengurangi eksposur ke aset berisiko emerging market.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.