Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
Gojek Ubah Bagi Hasil: Driver 92%, Aplikator 8% — Margin GoRide Tertekan

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Gojek Ubah Bagi Hasil: Driver 92%, Aplikator 8% — Margin GoRide Tertekan
Kebijakan

Gojek Ubah Bagi Hasil: Driver 92%, Aplikator 8% — Margin GoRide Tertekan

Tim Redaksi Feedberry ·20 Mei 2026 pukul 23.56 · Confidence 6/10 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
8 Skor

Perubahan skema bagi hasil ini langsung mempengaruhi model bisnis Gojek yang baru saja mencetak laba, berpotensi mengikis margin secara signifikan, dan berdampak luas ke jutaan driver serta ekosistem transportasi online di Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons Grab terhadap Perpres 27/2026 — apakah akan mengadopsi skema 92:8 atau menawarkan model kompensasi alternatif seperti insentif volume.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: potensi Gojek menaikkan tarif dasar perjalanan untuk mengompensasi penurunan margin — jika terjadi, bisa menekan permintaan dan mengurangi volume transaksi, merugikan driver dan perusahaan.
  • 3 Sinyal penting: pergerakan harga saham GOTO dalam 1-2 minggu ke depan — jika turun signifikan, pasar membaca kebijakan ini sebagai ancaman serius terhadap valuasi perusahaan.

Ringkasan Eksekutif

Gojek resmi mengumumkan perubahan skema bagi hasil dengan mitra pengemudi, di mana driver ojek online (ojol) akan mendapatkan 92% dari tarif perjalanan, sementara potongan aplikator hanya 8%. Kebijakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 1 Mei 2026. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menargetkan aturan ini bisa berlaku mulai Juni 2026. Perubahan ini merupakan penurunan drastis dari praktik industri sebelumnya yang berkisar sekitar 20%, dan secara langsung akan menekan pendapatan Gojek dari layanan GoRide. Hans, perwakilan Gojek, mengakui bahwa pendapatan perusahaan dari layanan GoRide akan mengalami penurunan, namun menyebut langkah ini sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih sehat. Kebijakan ini muncul di saat kritis bagi Gojek yang baru mencatat laba di kuartal I 2026, dan beririsan dengan masuknya Danantara sebagai pemegang saham GoTo dengan porsi kurang dari 1%, yang secara eksplisit bertujuan mendorong kesejahteraan pengemudi. Ini menandakan adanya intervensi negara yang lebih dalam di perusahaan teknologi publik ini. Dampak langsungnya adalah margin perjalanan GoRide yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan Gojek akan terpangkas signifikan. Namun, di sisi lain, kebijakan ini bisa meningkatkan daya tarik menjadi driver Gojek, berpotensi memperluas basis mitra pengemudi dan meningkatkan volume transaksi jika tarif perjalanan tidak dinaikkan. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons Grab terhadap kebijakan ini — apakah akan mengikuti skema serupa atau justru bersaing dengan model bisnis yang berbeda. Juga perlu dicermati apakah Gojek akan menyesuaikan tarif dasar perjalanan untuk mengompensasi penurunan margin, serta bagaimana reaksi pasar saham GoTo terhadap pengumuman ini. Risiko utamanya adalah jika penurunan pendapatan ini mendorong Gojek ke jalur pemangkasan biaya lain yang justru merugikan driver, seperti pengurangan insentif atau bonus.

Mengapa Ini Penting

Kebijakan ini bukan sekadar perubahan bagi hasil, tetapi sinyal intervensi negara yang semakin dalam ke bisnis teknologi publik. Gojek yang baru mencetak laba kuartal I 2026 kini harus menghadapi tekanan margin struktural, sementara kehadiran Danantara sebagai pemegang saham minoritas dengan agenda kesejahteraan driver menciptakan dinamika baru antara profitabilitas dan kepentingan sosial. Ini bisa menjadi preseden bagi regulasi serupa di sektor ekonomi gig lainnya.

Dampak ke Bisnis

  • Margin GoRide terpangkas drastis dari potongan ~20% menjadi 8% — pendapatan per perjalanan Gojek turun lebih dari 60%, memaksa perusahaan mencari kompensasi dari layanan lain seperti GoFood, GoPay, atau iklan dalam aplikasi.
  • Tekanan pada profitabilitas GoTo — setelah baru mencapai laba di Q1 2026, beban regulasi ini bisa mengembalikan perusahaan ke jalur rugi jika tidak diimbangi efisiensi atau kenaikan volume transaksi yang signifikan.
  • Efek domino ke ekosistem transportasi online: Grab kemungkinan akan mengikuti skema serupa untuk menghindari regulasi, sementara pemain kecil seperti Maxim atau InDriver bisa kesulitan bertahan jika margin mereka juga dipangkas. Sektor perbankan yang memberikan pinjaman modal kerja ke driver juga berpotensi terkena dampak jika pendapatan driver justru turun karena tarif perjalanan tidak naik.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons Grab terhadap Perpres 27/2026 — apakah akan mengadopsi skema 92:8 atau menawarkan model kompensasi alternatif seperti insentif volume.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi Gojek menaikkan tarif dasar perjalanan untuk mengompensasi penurunan margin — jika terjadi, bisa menekan permintaan dan mengurangi volume transaksi, merugikan driver dan perusahaan.
  • Sinyal penting: pergerakan harga saham GOTO dalam 1-2 minggu ke depan — jika turun signifikan, pasar membaca kebijakan ini sebagai ancaman serius terhadap valuasi perusahaan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.