Analisis terkait SINI
-
24 Jul 2026 Skor 6.3
Menilik Prospek Saham SINI - PTRO dari Aksi Duet di Tambang Batu Bara Kalimantan
PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) resmi menjalin kerja sama strategis di sektor pertambangan batu bara Kalimantan Tengah. Melalui dua anak usaha SINI, PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), SINI menunjuk PTRO sebagai kontraktor jasa pertambangan untuk pekerjaan overburden removal hingga penambangan batu bara di Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas. Perjanjian berlaku sepanjang umur tambang (life of mine) dengan estimasi pendapatan potensial mencapai Rp57,05 triliun. Volume pekerjaan di tambang PBC meliputi pengupasan 189 juta bank cubic meter (BCM) dan produksi 42 juta ton batu bara kalori GAR 4.200, sementara tambang CBP diperkirakan memiliki volume 40 juta BCM dan produksi 8 juta ton batu bara kalori GAR 5.000. Nilai pendapatan dari kedua tambang diperkirakan masing-masing US$2,6 miliar dan US$656 juta. Selain kontrak jasa, PTRO juga memperkuat posisinya sebagai pemegang saham SINI. Pada 23 Juli 2026, PTRO menyelesaikan pelaksanaan HMETD dengan menyetor modal sekitar Rp1,19 triliun, meningkatkan kepemilikannya menjadi 19,88%. Bersamaan dengan itu, PTRO mengalihkan 99,99% kepemilikan PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada SINI. KMS merupakan pemegang saham PT Cristian Eka Pratama (CEP), perusahaan tambang batu bara yang memiliki IUP-OP di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Masuknya CEP melengkapi portofolio aset tambang SINI yang sebelumnya telah mencakup beberapa anak usaha. Menariknya, CEP, PBC, dan CBP juga merupakan klien jasa pertambangan Petrosea, memperkuat keterkaitan bisnis kedua entitas. Kerja sama ini memiliki implikasi strategis yang signifikan. Bagi PTRO, kontrak jangka panjang dengan nilai triliunan rupiah memberikan visibilitas pendapatan yang jelas dan memperkuat posisinya sebagai kontraktor tambang terintegrasi. Di sisi lain, SINI mendapatkan mitra operasional yang berpengalaman serta injeksi modal melalui rights issue yang dapat digunakan untuk pengembangan tambang. Integrasi vertikal melalui kepemilikan saham juga menyelaraskan kepentingan kedua belah pihak. Dalam konteks industri batu bara Indonesia yang masih menjadi tulang punggung ekspor dan penerimaan negara, langkah ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek jangka panjang batu bara, meskipun tekanan transisi energi global terus mengemuka. Harga batu bara yang masih berada di level menguntungkan serta permintaan dari negara berkembang menjadi latar belakang positif. Ke depan, yang perlu dipantau adalah realisasi produksi di kedua tambang serta kemampuan PTRO mengeksekusi volume besar sesuai target. Selain itu, perkembangan regulasi terkait DMO batu bara dan pajak ekspor akan memengaruhi profitabilitas proyek. Investor juga perlu memperhatikan sinergi antara portofolio aset SINI yang semakin luas dengan kemampuan operasional PTRO. Jika berjalan sesuai rencana, kerja sama ini dapat menjadi model kemitraan di sektor tambang yang mendorong efisiensi dan skala.
Sumber data: IDX
-
25 Mei 2026 Skor 7.0
INTP Bagi Dividen Rp 468/Saham, Saham MDKA Jadi Pendorong Kenaikan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke 6.162,04 pada perdagangan Jumat (22/5). Pendorong utama adalah lonjakan saham komoditas tambang: Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77%, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67%, dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50%. Di sisi lain, saham berkapitalisasi besar justru menjadi penekan indeks: Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67%, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57%, dan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53%. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar, menandakan tekanan jual masih dominan meski IHSG menguat. Dari sisi sektoral, sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85%, sedangkan sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang melemah, terkoreksi 0,28%.
Sumber data: IDX