Direktori Emiten ·IDX
OASA
Small CapPT Maharaksa Biru Energi Tbk
Infrastructures · Telecommunication
Analisis terkait OASA
-
22 Mei 2026 Skor 7.0
4 Emiten Jadi Calon Mitra Proyek WtE Danantara Gelombang II, Ada OASA dan BIPI
Danantara Investment Management (DIM) mengumumkan 85 entitas yang lolos seleksi Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) gelombang kedua proyek waste to energy (WtE) pada Jumat (22/5). Empat emiten BEI masuk dalam daftar tersebut: OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI. Masing-masing tergabung dalam konsorsium dengan mitra asing dan lokal — OASA bersama Grandblue dan PT Indoplas Dewata Energi, DAAZ dengan Jinjiang Environment China, MEDC bersama Samsung E&A dan China TianYing, serta BIPI dalam konsorsium Grup Bakrie. Jumlah peserta melonjak dari 24 entitas pada gelombang pertama menjadi 85 pada gelombang kedua, menunjukkan daya tarik investasi yang kuat menurut CEO Denera, Fadli Rahman. Proyek ini merupakan bagian dari program PSEL (Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik) yang bertujuan mengatasi darurat sampah di Indonesia. Tahap selanjutnya, DIM akan menerbitkan Terms of Reference (ToR) kepada peserta yang lolos untuk proses lebih lanjut. Faktor pendorong utama dari lonjakan peserta adalah komitmen pemerintah melalui Danantara untuk menjalankan seleksi secara transparan dan kompetitif, serta potensi pasar WtE yang besar di Indonesia — negara dengan darurat sampah di banyak kota besar. Yang tidak obvious dari pengumuman ini adalah bahwa proyek WtE Danantara tidak hanya soal energi, tetapi juga menjadi instrumen kebijakan pengelolaan sampah nasional yang terintegrasi. Dengan melibatkan konsorsium yang menggabungkan perusahaan lokal dan asing, Danantara juga secara tidak langsung mendorong transfer teknologi dan investasi asing langsung di sektor infrastruktur lingkungan. Kehadiran emiten seperti MEDC — yang sudah mapan di sektor energi — dan BIPI — bagian dari Grup Bakrie — menunjukkan bahwa proyek ini menarik pemain besar dengan kapasitas pendanaan dan eksekusi yang teruji. Dampak dari pengumuman ini bersifat multi-layer. Pertama, bagi keempat emiten yang lolos, status sebagai calon mitra proyek WtE Danantara dapat menjadi katalis positif bagi harga saham dalam jangka pendek, terutama jika pasar melihat prospek pendapatan jangka panjang dari proyek ini. Kedua, bagi sektor energi dan infrastruktur, proyek WtE membuka segmen bisnis baru yang sebelumnya kurang tergarap — pengelolaan sampah menjadi listrik. Ketiga, bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti bahwa Danantara mampu menjalankan mandat investasi strategisnya, sekaligus membantu mengatasi masalah sampah yang sudah menjadi isu nasional. Namun, risiko utama adalah eksekusi proyek — WtE membutuhkan teknologi yang kompleks, investasi besar, dan dukungan regulasi yang konsisten. Jika proyek mangkrak atau molor, dampak reputasi akan terasa ke Danantara dan emiten yang terlibat. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah: (1) penerbitan ToR oleh DIM — detail teknis dan persyaratan akan menentukan seberapa ketat seleksi selanjutnya; (2) respons pasar terhadap saham OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI — apakah ada volume perdagangan yang meningkat signifikan; (3) perkembangan regulasi pendukung WtE — terutama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM terkait tarif listrik dari sampah; (4) update dari Danantara mengenai proyek WtE gelombang pertama di Bekasi, Bogor, dan Denpasar — apakah sudah ada progres konstruksi atau masih dalam tahap perizinan.
Sumber data: IDX
-
6 Mei 2026 Skor 5.0
IHSG Sesi I Naik ke Level 7.102, Saham UNVR, TPIA dann COIN Ceria
IHSG ditutup naik 0,65% ke 7.102 pada perdagangan sesi I, Selasa (5/5), didorong oleh kenaikan saham UNVR (+8,84%), TPIA (+7,41%), dan COIN (+7,17%). Meskipun rebound terjadi, indeks masih terkoreksi 17,86% secara year-to-date, mencerminkan tekanan akumulatif sejak awal tahun. Volume transaksi mencapai 22,57 miliar saham dengan nilai Rp10,46 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp12.771 triliun. Secara sektoral, transportasi memimpin kenaikan (+2,28%), diikuti oleh sembilan sektor lainnya di zona hijau — hanya satu sektor yang masih merah. Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen positif bursa Asia, di mana Nikkei, Hang Seng, dan Shanghai Composite juga menguat. Namun, data baseline menunjukkan IHSG masih berada di persentil 8% dalam rentang satu tahun terverifikasi (6.787–9.135), menandakan bahwa level saat ini masih mendekati area terendah tahunan meskipun ada rebound harian.
Sumber data: IDX
-
4 Mei 2026 Skor 5.0
Ada Grup Bakrie dan Kongsi BIPI–OASA di Proyek WTE Cipeucang, Tangsel
BIPI (Grup Bakrie) mengikuti tender proyek Waste to Energy (WTE) Cipeucang, Tangsel, melalui PT Indoplas Energi Hijau (IEH) yang dimiliki 76% oleh IEH dan 24% oleh China Tianying. Proyek ini membutuhkan investasi Rp2,3 triliun, berkapasitas 1.100 ton sampah/hari, dan menghasilkan listrik 25 MW dengan tarif jual US$0,1335/kWh serta tipping fee Rp529.000/ton. BIPI juga baru membeli 20% saham MEH dari OASA dan 20% saham IEH dari Indoplas Makmur Lestari (anak usaha OASA) dengan total transaksi Rp520 juta.
Sumber data: IDX