Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

23 MEI 2026
4 Emiten Lolos Seleksi Mitra WtE Danantara Gelombang II

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / 4 Emiten Lolos Seleksi Mitra WtE Danantara Gelombang II
Korporasi

4 Emiten Lolos Seleksi Mitra WtE Danantara Gelombang II

Tim Redaksi Feedberry ·22 Mei 2026 pukul 23.10 · Sinyal menengah · Confidence 6/10 · Sumber: Katadata ↗
7 Skor

Proyek WtE Danantara melibatkan 4 emiten BEI dan 85 entitas, menandakan skala besar dan minat investasi kuat — dampak ke sektor energi, infrastruktur, dan pengelolaan sampah nasional.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Timeline
Seleksi gelombang kedua diumumkan 22 Mei 2026; tahap selanjutnya adalah penerbitan ToR oleh DIM kepada peserta yang lolos; jadwal dan prosedur lebih lanjut akan disampaikan secara terpisah.
Alasan Strategis
Proyek WtE Danantara bertujuan mengatasi darurat sampah di Indonesia melalui pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan menjadi energi listrik, sekaligus menjadi instrumen investasi strategis SWF nasional.
Pihak Terlibat
Danantara Investment Management (DIM)PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ)PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)GrandbluePT Indoplas Dewata EnergiJinjiang Environment IndonesiaSamsung E&AChina TianYingPT Medco Power IndonesiaPT Bakrie PowerPT Acritas Karya PersadaSUS Indonesia Holding Limited

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: penerbitan Terms of Reference (ToR) oleh DIM — detail teknis dan persyaratan akan menentukan seberapa ketat seleksi selanjutnya dan berapa banyak peserta yang akan gugur.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: potensi keterlambatan proyek akibat kompleksitas teknologi WtE dan perizinan — jika proyek molor, emiten yang terlibat bisa mengalami tekanan harga saham dan beban biaya pendanaan.
  • 3 Sinyal penting: volume perdagangan dan pergerakan harga saham OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI dalam 1-2 pekan ke depan — lonjakan volume bisa mengindikasikan spekulasi pasar terhadap prospek proyek.

Ringkasan Eksekutif

Danantara Investment Management (DIM) mengumumkan 85 entitas yang lolos seleksi Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) gelombang kedua proyek waste to energy (WtE) pada Jumat (22/5). Empat emiten BEI masuk dalam daftar tersebut: OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI. Masing-masing tergabung dalam konsorsium dengan mitra asing dan lokal — OASA bersama Grandblue dan PT Indoplas Dewata Energi, DAAZ dengan Jinjiang Environment China, MEDC bersama Samsung E&A dan China TianYing, serta BIPI dalam konsorsium Grup Bakrie. Jumlah peserta melonjak dari 24 entitas pada gelombang pertama menjadi 85 pada gelombang kedua, menunjukkan daya tarik investasi yang kuat menurut CEO Denera, Fadli Rahman. Proyek ini merupakan bagian dari program PSEL (Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik) yang bertujuan mengatasi darurat sampah di Indonesia. Tahap selanjutnya, DIM akan menerbitkan Terms of Reference (ToR) kepada peserta yang lolos untuk proses lebih lanjut. Faktor pendorong utama dari lonjakan peserta adalah komitmen pemerintah melalui Danantara untuk menjalankan seleksi secara transparan dan kompetitif, serta potensi pasar WtE yang besar di Indonesia — negara dengan darurat sampah di banyak kota besar. Yang tidak obvious dari pengumuman ini adalah bahwa proyek WtE Danantara tidak hanya soal energi, tetapi juga menjadi instrumen kebijakan pengelolaan sampah nasional yang terintegrasi. Dengan melibatkan konsorsium yang menggabungkan perusahaan lokal dan asing, Danantara juga secara tidak langsung mendorong transfer teknologi dan investasi asing langsung di sektor infrastruktur lingkungan. Kehadiran emiten seperti MEDC — yang sudah mapan di sektor energi — dan BIPI — bagian dari Grup Bakrie — menunjukkan bahwa proyek ini menarik pemain besar dengan kapasitas pendanaan dan eksekusi yang teruji. Dampak dari pengumuman ini bersifat multi-layer. Pertama, bagi keempat emiten yang lolos, status sebagai calon mitra proyek WtE Danantara dapat menjadi katalis positif bagi harga saham dalam jangka pendek, terutama jika pasar melihat prospek pendapatan jangka panjang dari proyek ini. Kedua, bagi sektor energi dan infrastruktur, proyek WtE membuka segmen bisnis baru yang sebelumnya kurang tergarap — pengelolaan sampah menjadi listrik. Ketiga, bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti bahwa Danantara mampu menjalankan mandat investasi strategisnya, sekaligus membantu mengatasi masalah sampah yang sudah menjadi isu nasional. Namun, risiko utama adalah eksekusi proyek — WtE membutuhkan teknologi yang kompleks, investasi besar, dan dukungan regulasi yang konsisten. Jika proyek mangkrak atau molor, dampak reputasi akan terasa ke Danantara dan emiten yang terlibat. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah: (1) penerbitan ToR oleh DIM — detail teknis dan persyaratan akan menentukan seberapa ketat seleksi selanjutnya; (2) respons pasar terhadap saham OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI — apakah ada volume perdagangan yang meningkat signifikan; (3) perkembangan regulasi pendukung WtE — terutama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM terkait tarif listrik dari sampah; (4) update dari Danantara mengenai proyek WtE gelombang pertama di Bekasi, Bogor, dan Denpasar — apakah sudah ada progres konstruksi atau masih dalam tahap perizinan.

Mengapa Ini Penting

Proyek WtE Danantara bukan sekadar proyek energi — ini adalah ujian pertama bagi Danantara sebagai SWF dalam mengeksekusi investasi strategis berskala besar. Keberhasilan atau kegagalannya akan menjadi preseden bagi proyek-proyek Danantara selanjutnya dan memengaruhi persepsi investor terhadap kredibilitas lembaga ini. Emiten yang lolos seleksi mendapatkan akses ke proyek dengan potensi pendapatan jangka panjang yang terjamin kontrak, namun juga terekspos risiko eksekusi dan regulasi.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI: status sebagai calon mitra WtE Danantara dapat meningkatkan valuasi dan prospek pendapatan jangka panjang — namun risiko eksekusi proyek tetap signifikan, terutama untuk emiten kecil seperti OASA dan DAAZ yang mungkin memiliki keterbatasan pendanaan.
  • Bagi sektor energi dan infrastruktur: proyek WtE membuka segmen bisnis baru — pengelolaan sampah menjadi listrik — yang bisa menjadi sumber pertumbuhan baru bagi kontraktor, penyedia teknologi, dan perusahaan energi. Perusahaan yang tidak lolos seleksi mungkin akan mencari peluang di proyek WtE daerah atau bermitra dengan konsorsium yang sudah lolos.
  • Bagi Danantara dan pemerintah: proyek ini menjadi barometer kredibilitas SWF dalam mengelola investasi strategis. Jika berhasil, Danantara akan lebih mudah menarik mitra asing untuk proyek-proyek lain. Jika gagal, persepsi risiko investasi di Indonesia bisa memburuk, terutama di sektor infrastruktur lingkungan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: penerbitan Terms of Reference (ToR) oleh DIM — detail teknis dan persyaratan akan menentukan seberapa ketat seleksi selanjutnya dan berapa banyak peserta yang akan gugur.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi keterlambatan proyek akibat kompleksitas teknologi WtE dan perizinan — jika proyek molor, emiten yang terlibat bisa mengalami tekanan harga saham dan beban biaya pendanaan.
  • Sinyal penting: volume perdagangan dan pergerakan harga saham OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI dalam 1-2 pekan ke depan — lonjakan volume bisa mengindikasikan spekulasi pasar terhadap prospek proyek.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.