Analisis terkait DAAZ
-
2 Jun 2026 Skor 7.3
FTSE Russell Depak 4 Saham RI Lagi, Ada GOTO hingga NCKL
FTSE Russell mengumumkan pengeluaran empat saham Indonesia dari indeks globalnya pada 2 Juni 2026. GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dan Trimegah Bangun Persada (NCKL) dikeluarkan dari Mid Cap Index, sementara BUMA Internasional Grup (DOID) dan Nusantara Sejahtera Raya (CNMA) dikeluarkan dari Micro Cap Index. Alasannya: keempat saham tersebut tercatat di Papan Pengembangan BEI, yang dinilai FTSE tidak memenuhi syarat untuk GEIS. Keputusan ini efektif pada 22 Juni. Ini merupakan gelombang kedua setelah pada 23 Mei FTSE juga mengeluarkan DSSA (Large Cap karena konsentrasi kepemilikan tinggi), DAAZ, HILL, dan MLIA (Micro Cap karena free float rendah atau gagal screening). Yang tidak terlihat dari headline adalah pola sistematis: FTSE Russell secara konsisten menolak saham-saham yang berada di Papan Pengembangan BEI. Papan ini diperuntukkan bagi emiten yang tidak memenuhi persyaratan pencatatan reguler, seperti riwayat keuangan terbatas atau struktur tata kelola tertentu. Bagi investor global yang menggunakan indeks FTSE sebagai acuan, masuknya saham dalam Papan Pengembangan berarti otomatis tidak eligible — tidak peduli seberapa besar kapitalisasi pasarnya. GOTO, misalnya, adalah salah satu startup terbesar di Indonesia dengan kapitalisasi pasar puluhan triliun rupiah, tetapi karena status pencatatannya, ia tetap dikeluarkan. Hal ini menjadi cerminan bahwa standar indeks global masih memiliki celah dengan regulasi bursa domestik. Dampak langsung dari keputusan ini adalah potensi tekanan jual pada saham-saham tersebut menjelang 22 Juni. Dana kelolaan yang berbasis indeks FTSE (seperti ETF global) akan melepas posisi secara otomatis. Namun, bagi investor non-indeks, penurunan harga bisa membuka peluang akumulasi jika fundamental perusahaan tetap kuat. Lebih penting lagi, berita ini menambah persepsi negatif terhadap pasar modal Indonesia di mata asing. Di saat yang sama, rupiah melemah ke Rp17.879 per dolar AS dan IHSG berada di 6.202, sementara yield obligasi AS yang tinggi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah membuat investor asing cenderung risk-off. Pengumuman FTSE ini bisa menjadi katalis tambahan yang mempercepat outflow. Yang perlu dipantau dalam dua minggu ke depan adalah volume perdagangan saham GOTO, NCKL, DOID, dan CNMA, terutama pada sesi menjelang 22 Juni. Jika aksi jual besar terjadi, maka akan menjadi konfirmasi bahwa keputusan FTSE berdampak material. Sinyal lain yang perlu diperhatikan adalah respons resmi dari OJK atau BEI — apakah akan ada revisi aturan Papan Pengembangan untuk menyelaraskan dengan standar global, atau insentif bagi emiten untuk pindah papan reguler. Tanpa perubahan struktural, risiko pengeluaran lebih banyak saham dari indeks FTSE akan terus membayangi kepercayaan investor asing terhadap bursa Indonesia.
Sumber data: IDX
-
25 Mei 2026 Skor 7.0
INTP Bagi Dividen Rp 468/Saham, Saham MDKA Jadi Pendorong Kenaikan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke 6.162,04 pada perdagangan Jumat (22/5). Pendorong utama adalah lonjakan saham komoditas tambang: Merdeka Copper Gold (MDKA) melesat 24,77%, Emas Antam Indonesia (EMAS) naik 19,67%, dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menguat 11,50%. Di sisi lain, saham berkapitalisasi besar justru menjadi penekan indeks: Telkom Indonesia (TLKM) turun 2,67%, Astra International (ASII) terkoreksi 3,57%, dan Bayan Resources (BYAN) melemah 4,53%. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar, menandakan tekanan jual masih dominan meski IHSG menguat. Dari sisi sektoral, sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85%, sedangkan sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang melemah, terkoreksi 0,28%.
Sumber data: IDX
-
22 Mei 2026 Skor 7.0
4 Emiten Jadi Calon Mitra Proyek WtE Danantara Gelombang II, Ada OASA dan BIPI
Danantara Investment Management (DIM) mengumumkan 85 entitas yang lolos seleksi Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) gelombang kedua proyek waste to energy (WtE) pada Jumat (22/5). Empat emiten BEI masuk dalam daftar tersebut: OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI. Masing-masing tergabung dalam konsorsium dengan mitra asing dan lokal — OASA bersama Grandblue dan PT Indoplas Dewata Energi, DAAZ dengan Jinjiang Environment China, MEDC bersama Samsung E&A dan China TianYing, serta BIPI dalam konsorsium Grup Bakrie. Jumlah peserta melonjak dari 24 entitas pada gelombang pertama menjadi 85 pada gelombang kedua, menunjukkan daya tarik investasi yang kuat menurut CEO Denera, Fadli Rahman. Proyek ini merupakan bagian dari program PSEL (Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik) yang bertujuan mengatasi darurat sampah di Indonesia. Tahap selanjutnya, DIM akan menerbitkan Terms of Reference (ToR) kepada peserta yang lolos untuk proses lebih lanjut. Faktor pendorong utama dari lonjakan peserta adalah komitmen pemerintah melalui Danantara untuk menjalankan seleksi secara transparan dan kompetitif, serta potensi pasar WtE yang besar di Indonesia — negara dengan darurat sampah di banyak kota besar. Yang tidak obvious dari pengumuman ini adalah bahwa proyek WtE Danantara tidak hanya soal energi, tetapi juga menjadi instrumen kebijakan pengelolaan sampah nasional yang terintegrasi. Dengan melibatkan konsorsium yang menggabungkan perusahaan lokal dan asing, Danantara juga secara tidak langsung mendorong transfer teknologi dan investasi asing langsung di sektor infrastruktur lingkungan. Kehadiran emiten seperti MEDC — yang sudah mapan di sektor energi — dan BIPI — bagian dari Grup Bakrie — menunjukkan bahwa proyek ini menarik pemain besar dengan kapasitas pendanaan dan eksekusi yang teruji. Dampak dari pengumuman ini bersifat multi-layer. Pertama, bagi keempat emiten yang lolos, status sebagai calon mitra proyek WtE Danantara dapat menjadi katalis positif bagi harga saham dalam jangka pendek, terutama jika pasar melihat prospek pendapatan jangka panjang dari proyek ini. Kedua, bagi sektor energi dan infrastruktur, proyek WtE membuka segmen bisnis baru yang sebelumnya kurang tergarap — pengelolaan sampah menjadi listrik. Ketiga, bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti bahwa Danantara mampu menjalankan mandat investasi strategisnya, sekaligus membantu mengatasi masalah sampah yang sudah menjadi isu nasional. Namun, risiko utama adalah eksekusi proyek — WtE membutuhkan teknologi yang kompleks, investasi besar, dan dukungan regulasi yang konsisten. Jika proyek mangkrak atau molor, dampak reputasi akan terasa ke Danantara dan emiten yang terlibat. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah: (1) penerbitan ToR oleh DIM — detail teknis dan persyaratan akan menentukan seberapa ketat seleksi selanjutnya; (2) respons pasar terhadap saham OASA, DAAZ, MEDC, dan BIPI — apakah ada volume perdagangan yang meningkat signifikan; (3) perkembangan regulasi pendukung WtE — terutama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian ESDM terkait tarif listrik dari sampah; (4) update dari Danantara mengenai proyek WtE gelombang pertama di Bekasi, Bogor, dan Denpasar — apakah sudah ada progres konstruksi atau masih dalam tahap perizinan.
Sumber data: IDX