14 Jul 2026
Skor 7.3
Pengganti LPG Segera Hadir, Raja Emiten Gas RI Ini Jadi Sorotan
Pemerintah melalui Kementerian ESDM tengah mengkaji penggunaan compressed natural gas (CNG) kemasan 3 kilogram sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG). Tujuan utama program ini adalah mengurangi impor LPG, menekan beban subsidi, dan mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik. CNG disimpan pada tekanan 200–250 bar dan diperkirakan memberikan penghematan biaya energi hingga 30% bagi pengguna. Meski masih dalam tahap pengujian dan penyusunan peta jalan, wacana ini sudah mulai menyoroti sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia yang memiliki eksposur terhadap bisnis CNG.
Dari sisi fundamental, PT Super Energy Tbk (SURE) menonjol karena 92,73% pendapatannya pada 2025 berasal langsung dari penjualan CNG. Bisnis ini dijalankan melalui entitas anak yang mengoperasikan CNG Mother Station di Tapen, Subang, dan Rembang, mencakup proses pemampatan, pengangkutan, dan penyediaan pressure reducing station. Namun demikian, SURE masih merugi, memiliki beban keuangan besar, dan ekuitas pemilik induk negatif sehingga rasio PER dan PBV konvensional tidak relevan. Emiten ini menjadi yang paling sensitif terhadap kenaikan penjualan CNG, namun juga membawa risiko finansial terbesar. Sementara itu, PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) memiliki model bisnis distribusi CNG yang kuat meski tidak memisahkan pendapatan CNG secara eksplisit. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) telah melakukan perdagangan CNG, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memiliki ekosistem gas paling lengkap tetapi tidak mengungkapkan pendapatan CNG secara terpisah.
Dari perspektif makroekonomi, kebijakan ini muncul di tengah tekanan fiskal yang termanifestasi dalam defisit APBN Rp240 triliun per Maret 2026, serta nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.095 per dolar AS. Impor LPG yang terus membesar menjadi salah satu sumber tekanan neraca perdagangan dan beban subsidi. Dengan mengalihkan sebagian konsumsi ke CNG yang bersumber dari gas domestik, pemerintah berharap dapat memperbaiki neraca impor, mengurangi ketergantungan pada energi impor, dan menjaga stabilitas harga energi di tingkat rumah tangga. Namun, skalabilitas program ini masih bergantung pada infrastruktur pengisian, distribusi, dan adopsi masyarakat.
Bagi investor, perbedaan tingkat eksposur dan kesehatan finansial masing-masing emiten sangat penting. SURE menawarkan potensi keuntungan terbesar jika program terealisasi secara komersial, tetapi risikonya juga paling tinggi. CGAS dan RAJA memberikan eksposur yang lebih terdiversifikasi, sedangkan PGAS memiliki fundamental yang lebih kokoh meski eksposur CNG-nya kurang transparan. Dalam 1–4 minggu ke depan, yang perlu dipantau adalah hasil uji coba teknis CNG 3 kg oleh Kementerian ESDM, respons harga LPG di pasar domestik, serta pengumuman peta jalan resmi. Risiko utama meliputi kegagalan adopsi akibat biaya konversi alat yang tinggi, persaingan dengan harga LPG bersubsidi, dan tekanan ekuitas pada SURE yang dapat mengganggu kelangsungan usaha jika proyek tidak segera menghasilkan laba.
Sumber data: IDX