14 JUL 2026
Kaji CNG Ganti LPG, Emiten Gas CNG Jadi Sorotan

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Kaji CNG Ganti LPG, Emiten Gas CNG Jadi Sorotan
Kebijakan

Kaji CNG Ganti LPG, Emiten Gas CNG Jadi Sorotan

Tim Redaksi Feedberry ·14 Juli 2026 pukul 03.55 · Sinyal menengah · Sumber: CNBC Indonesia ↗
7.3 Skor

Kebijakan substitusi LPG dengan CNG masih tahap uji namun berpotensi mengubah struktur impor dan subsidi energi; dampak terdistribusi ke beberapa emiten gas dan rantai pasok domestik.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Kajian penggunaan CNG 3 kg sebagai alternatif LPG
Penerbit
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Perubahan Kunci
  • ·Penggunaan CNG kemasan 3 kg sebagai alternatif LPG untuk mengurangi impor dan subsidi
  • ·CNG disimpan pada tekanan 200–250 bar, diperkirakan memberikan penghematan biaya energi hingga 30%
  • ·Pengembangan CNG berbasis klaster dan jaringan gas rumah tangga
Pihak Terdampak
PT Super Energy Tbk (SURE) – eksposur CNG tertinggi (92,73% pendapatan), tetapi finansial rapuhPT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) – distribusi CNG kuat tanpa pelaporan terpisahPT Rukun Raharja Tbk (RAJA) – telah melakukan perdagangan CNGPT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) – ekosistem gas lengkap tanpa pendapatan CNG tersendiriKonsumen rumah tangga pengguna LPG 3 kg – potensi penghematan biaya energiImportir dan distributor LPG – tekanan dari penurunan permintaan LPG

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah melalui Kementerian ESDM tengah mengkaji penggunaan compressed natural gas (CNG) kemasan 3 kilogram sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG). Tujuan utama program ini adalah mengurangi impor LPG, menekan beban subsidi, dan mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik. CNG disimpan pada tekanan 200–250 bar dan diperkirakan memberikan penghematan biaya energi hingga 30% bagi pengguna. Meski masih dalam tahap pengujian dan penyusunan peta jalan, wacana ini sudah mulai menyoroti sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia yang memiliki eksposur terhadap bisnis CNG. Dari sisi fundamental, PT Super Energy Tbk (SURE) menonjol karena 92,73% pendapatannya pada 2025 berasal langsung dari penjualan CNG.

Bisnis ini dijalankan melalui entitas anak yang mengoperasikan CNG Mother Station di Tapen, Subang, dan Rembang, mencakup proses pemampatan, pengangkutan, dan penyediaan pressure reducing station. Namun demikian, SURE masih merugi, memiliki beban keuangan besar, dan ekuitas pemilik induk negatif sehingga rasio PER dan PBV konvensional tidak relevan. Emiten ini menjadi yang paling sensitif terhadap kenaikan penjualan CNG, namun juga membawa risiko finansial terbesar. Sementara itu, PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) memiliki model bisnis distribusi CNG yang kuat meski tidak memisahkan pendapatan CNG secara eksplisit. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) telah melakukan perdagangan CNG, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memiliki ekosistem gas paling lengkap tetapi tidak mengungkapkan pendapatan CNG secara terpisah.

Dari perspektif makroekonomi, kebijakan ini muncul di tengah tekanan fiskal yang termanifestasi dalam defisit APBN Rp240 triliun per Maret 2026, serta nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.095 per dolar AS. Impor LPG yang terus membesar menjadi salah satu sumber tekanan neraca perdagangan dan beban subsidi. Dengan mengalihkan sebagian konsumsi ke CNG yang bersumber dari gas domestik, pemerintah berharap dapat memperbaiki neraca impor, mengurangi ketergantungan pada energi impor, dan menjaga stabilitas harga energi di tingkat rumah tangga. Namun, skalabilitas program ini masih bergantung pada infrastruktur pengisian, distribusi, dan adopsi masyarakat. Bagi investor, perbedaan tingkat eksposur dan kesehatan finansial masing-masing emiten sangat penting. SURE menawarkan potensi keuntungan terbesar jika program terealisasi secara komersial, tetapi risikonya juga paling tinggi.

CGAS dan RAJA memberikan eksposur yang lebih terdiversifikasi, sedangkan PGAS memiliki fundamental yang lebih kokoh meski eksposur CNG-nya kurang transparan. Dalam 1–4 minggu ke depan,

Mengapa Ini Penting

Kebijakan ini tidak hanya mengubah komposisi energi rumah tangga, tetapi juga menciptakan peta persaingan baru di sektor gas hilir. Emiten yang selama ini bergantung pada LPG impor akan tertekan, sementara pemain CNG seperti SURE berpeluang besar jika program terealisasi. Lebih dari itu, pengurangan impor LPG dapat membantu memperbaiki neraca perdagangan dan melemahkan tekanan terhadap rupiah, sehingga implikasinya meluas ke seluruh perekonomian.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi SURE, jika pemerintah benar-benar merealisasikan CNG 3 kg secara komersial, volume penjualan bisa melonjak drastis. Namun, kondisi keuangan yang rapuh (rugi, ekuitas negatif) membuat perusahaan sangat rentan terhadap keterlambatan atau kegagalan program. Mitra usaha dan kreditur SURE perlu mencermati kemampuan pendanaan operasional.
  • CGAS dan RAJA akan mendapatkan manfaat tidak langsung dari pertumbuhan permintaan CNG, namun karena pendapatan CNG tidak dipisahkan, investor sulit mengukur sensitivitasnya. Ini menuntut transparansi lebih dari manajemen agar pasar dapat melakukan penilaian yang akurat.
  • PGAS sebagai pemilik infrastruktur gas terbesar berpotensi menjadi tulang punggung distribusi CNG nasional, namun tanpa pengungkapan pendapatan CNG secara spesifik, kontribusinya terhadap laba tidak terlihat. Jika program berhasil, PGAS bisa menjadi pemain dominan tanpa harus mengubah struktur bisnisnya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: publikasi peta jalan CNG 3 kg oleh Kementerian ESDM – jadwal uji coba, target volume, dan mekanisme subsidi akan menentukan kecepatan adopsi.
  • Risiko yang perlu dicermati: biaya konversi peralatan rumah tangga dari LPG ke CNG – jika tidak disubsidi atau terlalu mahal, minat masyarakat rendah dan program gagal mencapai skala ekonomi.
  • Sinyal penting: laporan keuangan SURE kuartal kedua 2026 – apakah rugi menyempit atau justru melebar, serta apakah ada penambahan utang atau penyertaan modal untuk mendanai ekspansi CNG.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.