26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

BYAN

Blue Chip

Bayan Resources Tbk

Energy · Oil, Gas & Coal

Harga
11.800
▼ 0.44%
Market Cap
Rp393,33 T
PER
30,33
PBV
7,95
Div Yield
227,00%
Volume
ROE
28,50%
EPS
386
Listing
2008-08-12

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp13,97 T Rp3,24 T Rp59,62 T Rp49,12 T 23,2%
Q4-2025 Rp16,53 T Rp4,11 T Rp56,49 T Rp45,1 T 24,9%
Q3-2025 Rp13,62 T Rp2,88 T Rp50,67 T Rp40,69 T 21,1%
Q2-2025 Rp11,88 T Rp2,13 T Rp51,85 T Rp36,85 T 17,9%
Q1-2025 Rp14,77 T Rp3,62 T Rp53,89 T Rp42,1 T 24,5%
Q4-2024 Rp15,78 T Rp4,88 T Rp56,9 T Rp37,38 T 30,9%
Q3-2024 Rp14,19 T Rp3,7 T Rp47,45 T Rp34,96 T 26,1%
Q2-2024 Rp12,5 T Rp2,72 T Rp48,34 T Rp33,77 T 21,7%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: Bayan Resources Tbk (BYAN) Q1-2026

Executive Summary

Bayan Resources (BYAN) mencatat pendapatan Rp 14.0 triliun pada Q1-2026, turun 7.7% YoY dari Rp 14.8 triliun, dengan laba bersih Rp 3.2 triliun yang terkontraksi 10.3% YoY. Meskipun margin kotor di 32.0% dan NPM 22.1% masih solid, penurunan volume atau harga jual terlihat jelas. Di tengah pelemahan rupiah ke Rp 17.712/USD dan lonjakan harga minyak Brent ke $100.21, sektor batu bara menghadapi tekanan biaya dan permintaan yang perlu dicermati lebih lanjut.

Transmission Mechanism

Penurunan pendapatan BYAN sebesar 7.7% YoY mengindikasikan pelemahan volume ekspor atau harga jual rata-rata batu bara, yang bertepatan dengan koreksi harga komoditas global meskipun Brent naik 71.36% karena faktor geopolitik. Pelemahan rupiah ke 17.712/USD seharusnya menguntungkan eksportir batu bara dalam denominasi IDR, namun data menunjukkan laba bersih justru turun lebih dalam (-10.3% YoY) dibanding pendapatan, mengindikasikan adanya kenaikan beban pokok atau biaya operasional yang tidak tertutup oleh depresiasi rupiah. Arus kas operasi yang masih kuat di Rp 16.2 triliun dan free cash flow Rp 11.3 triliun menunjukkan likuiditas tetap terjaga, tetapi margin laba yang menyusut perlu diwaspadai dalam konteks suku bunga BI yang masih tinggi untuk menahan tekanan inflasi impor.

Peer Comparison

Dibandingkan peer di sub-sektor Oil, Gas & Coal, BYAN memiliki ROE 27.9% yang jauh di atas rata-rata sektor 13.3%, mengungguli ADRO (8.9%), BUMI (2.8%), dan DSSA (10.2%). Namun, PER BYAN di 25.5x lebih tinggi dari ADRO (7.9x) dan AADI (6.6x), sementara PBV 6.80x juga premium dibanding ADRO (0.88x) dan AADI (1.24x), menunjukkan valuasi yang lebih mahal secara relatif.

Forward Alert

1) Rilis data inflasi Indonesia dan BI rate pada minggu pertama Juni 2026 akan mempengaruhi biaya operasional dan daya beli domestik. 2) Pergerakan harga batu bara global pasca lonjakan Brent ke $100.21 perlu dipantau untuk melihat dampak pada volume ekspor Q2-2026. 3) Laporan keuangan Q2-2026 (akhir Agustus) akan mengonfirmasi apakah tren penurunan pendapatan dan laba berlanjut atau mulai stabil.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.