26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

BRIS

Blue Chip

PT Bank Syariah Indonesia Tbk

Financials · Banks

Harga
1.785
▼ 4.02%
Market Cap
Rp81,52 T
PER
9,35
PBV
1,68
Div Yield
184,00%
Volume
13,8jt
ROE
14,57%
EPS
166
Listing
2018-05-09

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q4-2025 Rp7,14 T Rp2 T Rp456,19 T Rp51,95 T 28,0%
Q3-2025 Rp6,46 T Rp1,83 T Rp416,57 T Rp49,84 T 28,3%
Q2-2025 Rp6,35 T Rp1,86 T Rp400,57 T Rp47,82 T 29,3%
Q1-2025 Rp6,12 T Rp1,88 T Rp400,88 T Rp46,92 T 30,7%
Q4-2024 Rp6,35 T Rp1,9 T Rp408,61 T Rp45,04 T 29,9%
Q3-2024 Rp5,84 T Rp1,71 T Rp370,72 T Rp43,49 T 29,3%
Q2-2024 Rp5,39 T Rp1,69 T Rp360,96 T Rp41,67 T 31,3%
Q1-2024 Rp5,38 T Rp1,71 T Rp357,9 T Rp40,55 T 31,7%

Laporan Earnings Pro · 24 Mei 2026

Earnings Flash: PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Q1-2026

Executive Summary

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat laba bersih Rp2,2 triliun pada Q1-2026, tumbuh 17,1% YoY dari Rp1,9 triliun, didorong pendapatan Rp7,6 triliun yang naik 18,2%. Namun arus kas operasi negatif Rp668,4 miliar dan free cash flow negatif Rp467,9 miliar menjadi sinyal tekanan likuiditas. Di tengah melemahnya rupiah ke Rp17.712/USD dan lonjakan minyak Brent 71,36%, IHSG masih menguat 1,10% ke 6.162, menunjukkan sentimen pasar yang bercampur. Data keuangan ini penting karena menguji kemampuan bank syariah dalam menjaga profitabilitas di tengah volatilitas makro yang tinggi.

Transmission Mechanism

Melemahnya rupiah ke Rp17.712/USD mendorong tekanan inflasi impor, yang dapat mendorong Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan BI rate akan langsung memengaruhi biaya dana perbankan syariah (yang menggunakan prinsip bagi hasil berbasis acuan pasar) dan berpotensi menekan margin pembiayaan (net profit margin). Di sisi lain, lonjakan harga minyak Brent 71% menambah beban biaya operasional nasabah korporasi, khususnya sektor manufaktur dan logistik, sehingga berisiko meningkatkan Non-Performing Financing (NPF) BRIS. Meskipun ROE 16,2% dan ROA 1,8% masih solid, arus kas operasi negatif mengindikasikan bahwa pertumbuhan laba belum sepenuhnya dikonversi menjadi kas, menandakan potensi pembiayaan yang heavy upfront atau penundaan penerimaan bagi hasil.

Peer Comparison

ROE BRIS 16,2% berada di atas rata-rata sektor Banks 14,6%, dan lebih unggul dari BBNI (11,4%), BNLI (7,8%), dan MEGA (13,4%), meskipun masih di bawah BBCA (20,4%), BBRI (17,1%), dan BMRI (17,2%). PER BRIS 10,8x juga lebih rendah dari rata-rata 12,7x, tetapi lebih tinggi dari BBRI (7,5x), BMRI (6,3x), dan BBNI (6,2x). Net Profit Margin 31,9% jauh melampaui peer namun perlu dikonfirmasi konsistensinya karena anomali data.

Forward Alert

1) Pergerakan USD/IDR dan kebijakan BI rate pada Rapat Dewan Gubernur Juni 2026—mengingat rupiah berada di level lemah, potensi kenaikan suku bunga dapat menekan NIM. 2) Harga minyak Brent yang masih di atas $100 per barel—akan mempengaruhi biaya operasional sektor riil dan kualitas pembiayaan BRIS. 3) Realisasi pertumbuhan kredit dan pembiayaan syariah pada semester II-2026—karena pertumbuhan laba 17,1% perlu diuji oleh kondisi likuiditas yang ketat.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.