26 JUN 2026

Direktori Emiten ·IDX

BNLI

Blue Chip

Bank Permata Tbk

Financials · Banks

Harga
2.560
▼ 0.58%
Market Cap
Rp91,7 T
PER
25,10
PBV
2,66
Div Yield
137,00%
Volume
ROE
7,82%
EPS
100
Listing
1990-01-15

Laporan Keuangan Kuartalan

Periode Revenue Net Income Total Assets Total Equity NPM
Q1-2026 Rp3,12 T Rp920,1 M Rp262,35 T Rp46,08 T 29,5%
Q4-2025 Rp3,39 T Rp704,57 M Rp268,34 T Rp45,85 T 20,8%
Q3-2025 Rp3,28 T Rp1,24 T Rp269,28 T Rp45,28 T 37,7%
Q2-2025 Rp2,97 T Rp856,31 M Rp264,19 T Rp43,58 T 28,9%
Q1-2025 Rp3,05 T Rp788,97 M Rp264,28 T Rp43,53 T 25,9%
Q4-2024 Rp2,87 T Rp780,9 M Rp259,07 T Rp42,6 T 27,2%
Q3-2024 Rp3,16 T Rp1,26 T Rp254,64 T Rp42,14 T 39,7%
Q2-2024 Rp2,91 T Rp722,27 M Rp258,35 T Rp40,49 T 24,8%

Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026

Earnings Flash: Bank Permata Tbk (BNLI) Q1-2026

Executive Summary

Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan laba bersih Rp 920,1 miliar di Q1-2026, tumbuh 16,6% YoY dari Rp 789,0 miliar, didorong pendapatan Rp 3,1 triliun yang naik 9,3%. Namun, arus kas operasi negatif Rp 1,5 triliun dan free cash flow negatif Rp 1,0 triliun mengindikasikan tekanan likuiditas operasional. Di tengah IHSG menguat 1,10% ke 6.162 dan USD/IDR di 17.712 (rupiah melemah), margin laba bersih 33,8% terlihat tinggi tetapi perlu dicermati karena laba kotor tercatat Rp 10,9 triliun dengan GPM 0,0% — indikasi data tidak konsisten. ROE 8,3% jauh di bawah rata-rata sektor perbankan 15,7%, menandakan efisiensi modal yang rendah.

Transmission Mechanism

Laporan Q1-2026 BNLI menunjukkan tekanan pada sisi likuiditas operasional, tercermin dari arus kas operasi negatif Rp 1,5 triliun. Dalam konteks suku bunga BI yang masih tinggi (asumsi mengikuti tren pengetatan moneter untuk menahan USD/IDR di 17.712), biaya dana perbankan cenderung meningkat, yang dapat menekan net interest margin (NIM). Jika BNLI tidak mampu mengelola biaya operasional atau memperbaiki kolektibilitas kredit, tekanan pada arus kas bisa berlanjut dan mempengaruhi kemampuan ekspansi kredit. Di sisi lain, harga minyak Brent yang melonjak 71,36% ke $100,21 per barel meningkatkan tekanan inflasi domestik, yang berpotensi mendorong BI untuk mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga memperberat beban bunga utang BNLI yang tercatat Rp 14,6 triliun. Rupiah yang melemah juga meningkatkan biaya impor dan potensi kredit macet di sektor korporasi yang memiliki pinjaman valas, yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas aset BNLI.

Peer Comparison

BNLI memiliki ROE 8,3% yang jauh di bawah rata-rata peer sektor perbankan 15,7%, dengan peer seperti BBCA (20,4%), BBRI (17,1%), dan BMRI (17,2%) menunjukkan efisiensi modal yang lebih baik. PER BNLI 30,4x juga sangat tinggi dibandingkan rata-rata peer 9,2x, sementara PBV 2,43x berada di atas BBRI (1,45x) dan BMRI (1,40x) namun di bawah BBCA (2,91x). NPM BNLI 33,8% perlu diwaspadai karena data laba kotor menunjukkan anomali.

Forward Alert

Pertama, rilis data inflasi Indonesia untuk Mei 2026 (dampak kenaikan harga minyak Brent 71,36% ke $100,21) yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga BI. Kedua, perkembangan USD/IDR di level 17.712 — jika rupiah terus melemah, beban utang valas dan biaya operasional BNLI bisa meningkat. Ketiga, publikasi laporan keuangan Q2-2026 untuk melihat apakah arus kas operasi negatif berlanjut atau membaik.
PRO

Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.