Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Tren konsumsi konten vertikal di layar lebar membuka peluang monetisasi baru bagi kreator dan pengiklan, termasuk di Indonesia, meski dampaknya tidak segera terasa.
Key Takeaways
- 1 Yang perlu dipantau: pengumuman YouTube tentang fitur monetisasi khusus untuk Shorts di TV — apakah ada skema bagi hasil iklan yang berbeda atau insentif bagi kreator.
- 2 Risiko yang perlu dicermati: adopsi smart TV di Indonesia yang masih terbatas di segmen menengah ke atas — jika penetrasi rendah, dampak tren ini ke kreator lokal bisa tertunda.
- 3 Sinyal penting: respons kreator top Indonesia terhadap tren ini — apakah mereka mulai memproduksi konten Shorts yang dioptimalkan untuk layar TV, atau tetap fokus pada mobile.
Ringkasan Eksekutif
YouTube melaporkan bahwa penonton global menonton lebih dari 2 miliar jam konten Shorts — video vertikal berdurasi maksimal tiga menit — di layar televisi setiap bulannya. Angka ini menegaskan bahwa format yang semula dirancang untuk perangkat seluler kini merambah ruang keluarga, yang oleh YouTube disebut sebagai 'layar dengan pertumbuhan tercepat'. Fenomena ini didorong oleh perubahan perilaku audiens yang ingin menikmati konten favorit di layar terbesar di rumah, baik itu konten panjang, podcast, maupun Shorts. YouTube telah menyesuaikan pengalaman menonton dengan menampilkan komentar di samping video vertikal, memanfaatkan ruang layar yang tersisa. Langkah ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan penonton, tetapi juga membuka panggung baru bagi kreator untuk menjangkau audiens global dan mengembangkan bisnis mereka. Tren ini juga merambah ke podcast: pada 2025, penonton menghabiskan lebih dari 700 juta jam per bulan untuk menonton podcast di perangkat ruang keluarga, naik dari 400 juta jam pada 2024. Netflix pun ikut terjun dengan menandatangani kesepakatan eksklusif dengan iHeartMedia, Barstool Sports, dan Spotify untuk hak video sejumlah acara. Di Amerika Serikat, penonton menghabiskan lebih dari 200 juta jam konten YouTube setiap harinya. Google TV, platform dari induk perusahaan YouTube, Alphabet, baru-baru ini menambahkan baris 'Short videos for you' di umpan Google TV untuk mendorong waktu tonton lebih lanjut. Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui layar televisi, terutama dengan penetrasi smart TV yang terus meningkat. Namun, persaingan untuk merebut perhatian penonton juga semakin ketat, sehingga kreator perlu strategi konten yang lebih matang. Dari sisi bisnis, iklan di Shorts yang ditonton di TV bisa menjadi kanal baru yang menarik bagi pengiklan yang ingin menjangkau konsumen di ruang keluarga. Meski demikian, dampak langsung terhadap ekonomi kreator Indonesia masih perlu dipantau, mengingat adopsi smart TV dan kebiasaan menonton Shorts di layar besar belum merata. Yang perlu dipantau ke depan adalah bagaimana YouTube dan platform lain mengembangkan fitur monetisasi khusus untuk Shorts di TV, serta respons kreator dan pengiklan lokal terhadap peluang ini.
Mengapa Ini Penting
Pergeseran konsumsi Shorts dari ponsel ke TV mengubah cara merek menjangkau konsumen — iklan yang tadinya hanya efektif di layar kecil kini bisa menjangkau audiens di ruang keluarga dengan engagement yang lebih dalam. Bagi kreator Indonesia, ini adalah peluang untuk memperluas basis penonton dan pendapatan iklan, tetapi juga menuntut adaptasi strategi konten agar tetap relevan di dua layar sekaligus.
Dampak ke Bisnis
- Kreator konten Indonesia: peluang baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui TV, terutama jika YouTube mengembangkan fitur monetisasi khusus untuk Shorts di layar besar. Kreator yang sudah memiliki basis penonton kuat bisa mendapatkan tambahan pendapatan iklan.
- Pengiklan dan merek: kanal iklan baru di ruang keluarga dengan potensi engagement lebih tinggi. Iklan di Shorts yang ditonton di TV bisa lebih efektif untuk produk yang membutuhkan visualisasi detail atau cerita yang lebih panjang.
- Platform kompetitor (TikTok, Instagram Reels): tekanan untuk mengikuti tren ini atau kehilangan pangsa pasar. Jika Shorts di TV terbukti sukses, platform lain mungkin akan mengembangkan fitur serupa, memicu persaingan yang lebih ketat.
Yang Perlu Dipantau
- Yang perlu dipantau: pengumuman YouTube tentang fitur monetisasi khusus untuk Shorts di TV — apakah ada skema bagi hasil iklan yang berbeda atau insentif bagi kreator.
- Risiko yang perlu dicermati: adopsi smart TV di Indonesia yang masih terbatas di segmen menengah ke atas — jika penetrasi rendah, dampak tren ini ke kreator lokal bisa tertunda.
- Sinyal penting: respons kreator top Indonesia terhadap tren ini — apakah mereka mulai memproduksi konten Shorts yang dioptimalkan untuk layar TV, atau tetap fokus pada mobile.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui layar televisi, terutama dengan penetrasi smart TV yang terus meningkat di segmen menengah ke atas. Namun, adopsi smart TV belum merata, sehingga dampak langsung terhadap ekonomi kreator Indonesia mungkin masih terbatas dalam jangka pendek. Dari sisi bisnis, iklan di Shorts yang ditonton di TV bisa menjadi kanal baru yang menarik bagi pengiklan yang ingin menjangkau konsumen di ruang keluarga, terutama untuk produk-produk yang membutuhkan visualisasi lebih detail. Perusahaan media dan agensi iklan di Indonesia perlu mulai mempertimbangkan strategi konten yang dioptimalkan untuk dua layar (mobile dan TV) agar tidak ketinggalan tren global ini.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas melalui layar televisi, terutama dengan penetrasi smart TV yang terus meningkat di segmen menengah ke atas. Namun, adopsi smart TV belum merata, sehingga dampak langsung terhadap ekonomi kreator Indonesia mungkin masih terbatas dalam jangka pendek. Dari sisi bisnis, iklan di Shorts yang ditonton di TV bisa menjadi kanal baru yang menarik bagi pengiklan yang ingin menjangkau konsumen di ruang keluarga, terutama untuk produk-produk yang membutuhkan visualisasi lebih detail. Perusahaan media dan agensi iklan di Indonesia perlu mulai mempertimbangkan strategi konten yang dioptimalkan untuk dua layar (mobile dan TV) agar tidak ketinggalan tren global ini.