Swasembada Telur Tercapai, tapi Peternak Terhimpit Harga Anjlok dan Serapan MBG 1%
Tekanan harga telur anjlok sementara biaya pakan naik, ditambah serapan MBG yang sangat rendah, mengancam keberlangsungan peternak rakyat secara akut
Ringkasan Eksekutif
Peternak rakyat mendeklarasikan swasembada telur sejak 2024, namun harga di kandang anjlok dari Rp26.500 ke Rp21.000 per kilogram sementara biaya jagung menembus Rp7.100. Program MBG yang diharapkan jadi penyerap utama hanya merealisasikan serapan sekitar 1%, membuat peternak kecil terjepit di tengah kenaikan biaya produksi.
Kenapa Ini Penting
Margin peternak tergerus dari dua sisi: pendapatan turun karena harga jatuh, sementara biaya pakan terus naik. Jika pemerintah tak segera menstabilkan pasar, gelombang gulung tikar peternak rakyat bisa mengganggu pasokan jangka panjang.
Dampak Bisnis
- ✦ Harga telur di kandang anjlok 20,8% dari Rp26.500 ke Rp21.000 per kilogram, menekan margin peternak secara langsung
- ✦ Biaya pakan dan jagung naik ke Rp6.700–Rp7.100 per kilogram, memperburuk tekanan pada struktur biaya produksi
- ✦ Serapan program MBG hanya sekitar 1% dari total produksi, jauh dari ekspektasi peternak sebagai kanal distribusi utama
Langkah yang Perlu Diambil
- 1. Pantau pergerakan harga jagung dan pakan dalam 1-2 minggu ke depan — kenaikan lebih lanjut bisa memperparah tekanan margin
- 2. Cermati respons pemerintah terhadap desakan peternak soal regulasi stabilisasi harga, terutama menjelang rapat koordinasi pangan berikutnya
- 3. Pelaku usaha telur perlu mengkaji ulang proyeksi arus kas jika harga kandang bertahan di bawah Rp22.000 dalam jangka menengah
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.