Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Stablecoin dan SWIFT Diprediksi Akan Berdampingan, Bukan Saling Menggantikan
Perubahan infrastruktur pembayaran lintas batas bersifat struktural, namun dampak langsung ke Indonesia masih bertahap dan tidak mendesak.
Ringkasan Eksekutif
Perusahaan remitansi seperti Western Union dan MoneyGram mulai mengadopsi stablecoin dan blockchain untuk mempercepat penyelesaian transaksi lintas batas, mengurangi ketergantungan pada sistem SWIFT yang hanya beroperasi di hari kerja. Namun, para pelaku industri menilai SWIFT tidak akan segera tergantikan karena sudah tertanam dalam infrastruktur perbankan di lebih dari 200 negara dan biaya peralihan yang tinggi. SWIFT sendiri juga tengah bereksperimen dengan teknologi shared ledger yang melibatkan 30+ institusi keuangan. Bagi pengguna akhir, manfaatnya jelas: pengiriman uang bisa lebih cepat tanpa terbatas hari kerja. Bagi penyedia remitansi, pergerakan ke blockchain membebaskan 'dead capital' yang selama ini mengendap di rekening prefunding di berbagai bank koresponden.
Kenapa Ini Penting
Artikel ini menandai pergeseran penting: adopsi blockchain oleh institusi keuangan arus utama tidak lagi bersifat eksperimental, melainkan strategis. Ini bukan soal 'kripto vs bank', melainkan evolusi infrastruktur pembayaran global yang akan berdampak pada biaya, kecepatan, dan akses remitansi — termasuk ke Indonesia, salah satu penerima remitansi terbesar di dunia. Siapa yang menang: perusahaan remitansi yang cepat beradaptasi dan pengguna akhir. Siapa yang kalah: bank koresponden tradisional yang mengandalkan biaya SWIFT dan float dari dana mengendap.
Dampak Bisnis
- ✦ Perusahaan remitansi seperti Western Union dan MoneyGram akan mengurangi biaya operasional dan mempercepat settlement, meningkatkan margin dan daya saing. Di Indonesia, ini bisa menekan biaya kirim uang dari pekerja migran.
- ✦ Bank-bank koresponden yang selama ini menikmati pendapatan dari biaya SWIFT dan dana mengendap (float) akan kehilangan sumber pendapatan. Bank BUMN dengan lini remitansi besar perlu mengantisipasi tekanan ini.
- ✦ Ekosistem stablecoin dan blockchain infrastruktur akan mendapat legitimasi dan adopsi lebih luas, membuka peluang bagi penyedia likuiditas on-chain dan platform stablecoin untuk bermitra dengan institusi keuangan tradisional.
Konteks Indonesia
Indonesia adalah salah satu penerima remitansi terbesar di dunia, terutama dari pekerja migran di Malaysia, Timur Tengah, dan Hong Kong. Adopsi stablecoin oleh Western Union dan MoneyGram berpotensi menurunkan biaya kirim uang dan mempercepat waktu penerimaan dana bagi keluarga di Indonesia. Namun, hal ini juga menekan pendapatan bank BUMN yang selama ini menjadi saluran remitansi tradisional. Regulasi Bappebti dan OJK terkait aset digital akan menjadi faktor penentu seberapa cepat dampak ini terasa di pasar domestik.
Yang Perlu Dipantau
- ◎ Yang perlu dipantau: perkembangan shared ledger SWIFT — jika berhasil, bisa menjadi jembatan antara sistem lama dan baru, memperlambat adopsi stablecoin murni.
- ◎ Risiko yang perlu dicermati: regulasi stablecoin di AS dan Uni Eropa (MiCA) — kepastian hukum akan menentukan seberapa cepat institusi keuangan besar masuk.
- ◎ Sinyal penting: volume transaksi stablecoin yang digunakan untuk remitansi — jika tumbuh signifikan, ini akan mempercepat tekanan pada model bisnis SWIFT dan bank koresponden.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.