Foto: Kontan — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
PLN Luncurkan Tender PLTS 1,22 GW — Skema Giga One Target COD 2029
Proyek ini adalah etape pertama dari Program 100 GW Presiden, skalanya 1,225 GW di 22 lokasi — urgensi tinggi karena tender ditutup Juni 2026, dampak luas ke investor IPP, manufaktur TKDN, dan target transisi energi nasional.
Ringkasan Eksekutif
PLN resmi meluncurkan tender PLTS Mentari Nusantara I berkapasitas 1,225 GW melalui skema pengadaan terintegrasi 'Giga One' yang menggabungkan 22 lokasi proyek dalam satu proses tender. Skema ini dirancang untuk memberikan return on investment (ROI) yang lebih kompetitif bagi investor IPP dengan fleksibilitas penawaran multi-paket. Tender dibuka sejak 30 April 2026 dengan batas akhir proposal 15 Juni 2026, dan seluruh proyek ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada 2029. Proyek ini merupakan etape pertama dari Program 100 GW yang diarahkan Presiden Prabowo, dengan fokus pada peningkatan TKDN dan penguatan manufaktur energi nasional. Respons dari asosiasi produsen listrik swasta (APLSI) positif, menilai skala proyek ini dapat menjadi benchmark baru pengadaan PLTS skala besar di Indonesia.
Kenapa Ini Penting
Proyek ini bukan sekadar tender PLTS biasa — skema Giga One yang menggabungkan multi-proyek dalam satu pengadaan berpotensi mengubah struktur pasar IPP surya di Indonesia. Jika berhasil, model ini bisa mempercepat eksekusi proyek EBT yang selama ini terhambat oleh fragmentasi tender per proyek. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan koordinasi antar-pemerintah daerah dan penyelesaian izin, mengingat proyek serupa seperti PLTS Saguling (60 MW) masih terhambat izin PPKH dan baru mencapai 14,7% realisasi lahan pengganti. Ini menjadi ujian kredibilitas pemerintah dalam mengeksekusi target ambisius 100 GW di tengah tantangan birokrasi yang masih nyata.
Dampak Bisnis
- ✦ Bagi investor IPP dan kontraktor EPC, skema Giga One membuka peluang partisipasi multi-paket yang memungkinkan optimalisasi portofolio dan skala ekonomi. Namun, persyaratan TKDN yang ketat dapat menjadi hambatan bagi investor asing yang belum memiliki rantai pasok lokal, sekaligus menjadi dorongan bagi manufaktur panel surya dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi.
- ✦ Proyek ini akan mendorong permintaan komponen surya (panel, inverter, struktur) secara signifikan dalam 2-3 tahun ke depan. Produsen lokal seperti Surya Energi Indotama atau pemain baru yang masuk ke ekosistem TKDN berpotensi mendapatkan kontrak jangka panjang, sementara importir komponen akan tertekan oleh persyaratan kandungan lokal.
- ✦ Dampak tidak langsung: percepatan proyek PLTS skala besar dapat mengurangi tekanan terhadap beban subsidi listrik PLN dalam jangka panjang, karena biaya produksi PLTS yang semakin kompetitif. Namun, dalam jangka pendek, kebutuhan investasi awal yang besar (financial close pertengahan 2027) berpotensi menekan belanja modal PLN dan membutuhkan dukungan pendanaan dari perbankan atau lembaga multilateral.
Yang Perlu Dipantau
- ◎ Yang perlu dipantau: realisasi TKDN dalam tender — sejauh mana peserta mampu memenuhi persyaratan komponen lokal, karena ini akan menentukan apakah proyek benar-benar mendorong manufaktur dalam negeri atau hanya formalitas.
- ◎ Risiko yang perlu dicermati: keterlambatan izin lahan dan PPKH — pengalaman PLTS Saguling yang target operasionalnya mundur dari Juni 2026 ke Maret 2027 karena izin kawasan hutan belum terbit menjadi sinyal bahwa koordinasi multipihak masih menjadi titik kritis.
- ◎ Sinyal penting: jumlah peserta tender dan asal negara investor — dominasi investor China atau masuknya investor Timur Tengah/Eropa akan menunjukkan daya tarik skema Giga One bagi modal asing di tengah persaingan global proyek EBT.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.