23 MEI 2026
Pertamina Percepat Transisi Energi di Darat, Laut, Udara – Target NZE 2060

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Korporasi / Pertamina Percepat Transisi Energi di Darat, Laut, Udara – Target NZE 2060
Korporasi

Pertamina Percepat Transisi Energi di Darat, Laut, Udara – Target NZE 2060

Tim Redaksi Feedberry ·23 Mei 2026 pukul 07.51 · Sinyal menengah · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
7.3 Skor

Langkah Pertamina mencakup tiga sektor transportasi utama dan berpotensi mengubah pola investasi energi nasional, namun belum ada target kuantitatif atau komitmen pendanaan yang jelas dalam artikel ini.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8
Analisis Korporasi
Jenis Aksi
ekspansi
Alasan Strategis
Mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060 dan memperkuat posisi Pertamina dalam transisi energi global, sejalan dengan Dual Growth Strategy perusahaan.
Pihak Terlibat
PT Pertamina (Persero)Indonesia Battery Corporation (IBC)Pelita Air

Ringkasan Eksekutif

Pertamina secara resmi memperkuat komitmennya terhadap transisi energi melalui pengembangan ekosistem mobilitas berkelanjutan di tiga sektor transportasi: darat, laut, dan udara. Hal ini disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dalam acara Studium Generale Sustainability di Universitas Pertamina, Kamis (21/5). Di sektor darat, Pertamina memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui pembangunan charging station dan battery swapping bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Selain itu, perusahaan tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang terhubung langsung dengan perkebunan tebu lokal untuk menjamin pasokan bahan baku berkelanjutan. Di sektor laut, Pertamina mendorong efisiensi energi melalui pemanfaatan dual fuel, pengembangan green ammonia, serta inovasi pemasangan panel surya di dek kapal guna memenuhi kebutuhan kelistrikan armada secara mandiri.

Sementara di sektor penerbangan, melalui Pelita Air, Pertamina mendukung penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku used cooking oil atau minyak jelantah – solusi konkret pengurangan emisi karbon di industri aviasi global. Seluruh inisiatif ini diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana komitmen pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, Pertamina juga telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) – lembaga riset yang didukung Jepang – untuk mengembangkan jalur transisi energi berkelanjutan yang selaras dengan Dual Growth Strategy perusahaan, yaitu mengoptimalkan bisnis fosil sekaligus mempercepat bisnis rendah karbon. Momentum ini muncul di tengah tekanan fiskal APBN yang mencatat defisit Rp240 triliun hingga Maret 2026 dan harga minyak Brent yang bertahan di atas USD100 per barel. Artinya, beban subsidi energi masih tinggi, dan transisi energi menjadi bukan hanya isu lingkungan tetapi juga kebutuhan fiskal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dampak dari inisiatif ini cukup luas.

Bagi Pertamina sendiri, langkah ini memperkuat posisinya sebagai pemimpin transisi energi di Indonesia dan membuka peluang kerja sama dengan mitra global. Bagi sektor energi terbarukan, sinyal ini positif: Pertamina serius menjajaki opsi-opsi hijau, yang berarti potensi kemitraan dengan pengembang bioetanol, produsen SAF, dan penyedia teknologi panel surya. Namun, tantangan pendanaan dan implementasi masih besar. Proyek pabrik bioetanol Glenmore misalnya, membutuhkan investasi signifikan dan kepastian pasokan tebu. Sementara untuk SAF, ketersediaan used cooking oil dalam jumlah massal masih menjadi kendala logistik. Ke depan,

Mengapa Ini Penting

Ini bukan sekadar pengumuman rutin. Pertamina adalah BUMN energi terbesar di Indonesia yang menguasai rantai pasok BBM, gas, dan investasi hilir. Langkah transisi di tiga sektor transportasi secara bersamaan menandakan pergeseran strategis jangka panjang yang akan berdampak pada alokasi belanja modal perusahaan, pola kemitraan dengan pemasok teknologi, dan pada akhirnya, harga energi yang dibayar masyarakat. Keberhasilan atau kegagalan inisiatif ini akan menentukan seberapa cepat Indonesia dapat mengurangi impor BBM dan mencapai target emisi – dua isu yang langsung memengaruhi stabilitas fiskal dan daya saing industri nasional.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi emiten di sektor energi terbarukan dan teknologi hijau: inisiatif Pertamina membuka peluang kemitraan dalam penyediaan bioetanol, SAF, panel surya, dan infrastruktur EV. Perusahaan seperti produsen bioenergi, kontraktor panel surya, dan penyedia baterai dapat menjadi mitra strategis.
  • Bagi industri transportasi (pelayaran, penerbangan, logistik): adopsi bahan bakar rendah karbon dan efisiensi energi akan mengubah struktur biaya operasional. Perusahaan pelayaran yang menggunakan dual fuel atau green ammonia perlu investasi retrofit kapal, sementara maskapai penerbangan yang menggunakan SAF akan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar jangka pendek.
  • Bagi sektor perkebunan dan agrikultur: proyek bioetanol Glenmore yang terintegrasi dengan perkebunan tebu lokal dapat meningkatkan permintaan tebu dan menstabilkan harga petani. Namun, persaingan penggunaan lahan untuk pangan versus energi perlu dicermati.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: progres pembangunan pabrik bioetanol Glenmore – jika mencapai kapasitas produksi sesuai rencana, ini akan menjadi model hilirisasi bioenergi yang bisa direplikasi di daerah lain.
  • Risiko yang perlu dicermati: ketersediaan used cooking oil untuk SAF secara massal – tanpa rantai pasok yang terorganisir, adopsi SAF bisa terhambat dan hanya bersifat pilot project.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi dari Kementerian ESDM atau Bappenas mengenai insentif fiskal untuk proyek transisi energi Pertamina – ini akan menjadi indikator apakah pemerintah benar-benar mendukung atau hanya memberikan dukungan verbal.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.