Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

17 MEI 2026
Perak Anjlok 7,9% ke $76,88 — Imbal Hasil AS Melonjak, Sinyal Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Foto: FXStreet — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Perak Anjlok 7,9% ke $76,88 — Imbal Hasil AS Melonjak, Sinyal Suku Bunga Tinggi Lebih Lama
Pasar

Perak Anjlok 7,9% ke $76,88 — Imbal Hasil AS Melonjak, Sinyal Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Tim Redaksi Feedberry ·15 Mei 2026 pukul 19.21 · Sinyal tinggi · Sumber: FXStreet ↗
6 Skor

Koreksi perak 7,9% dalam sehari dan total 12% dalam dua hari adalah pergerakan besar yang dipicu lonjakan imbal hasil AS — berdampak langsung ke harga komoditas global dan sentimen emerging market, termasuk Indonesia.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
5
Analisis Komoditas
Komoditas
Perak
Harga Terkini
$76,88 per troy ons
Perubahan Harga
-7,90% dalam sehari; -12% dalam dua hari
Proyeksi Harga
Bearish jangka pendek dengan support di $75,00; jika ditembus, target berikutnya $72,21 dan $70,86
Faktor Supply
  • ·Tidak ada faktor supply yang disebutkan dalam artikel
Faktor Demand
  • ·Lonjakan imbal hasil Treasury AS mengurangi daya tarik perak sebagai aset tanpa imbal hasil
  • ·Kekhawatiran inflasi gelombang kedua mendorong spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: imbal hasil Treasury AS 10 tahun — jika terus naik di atas level tertinggi terbaru, tekanan jual pada logam mulia dan aset emerging market akan berlanjut.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: risalah pertemuan FOMC yang akan dirilis — jika mengonfirmasi sikap hawkish, dolar AS semakin kuat dan rupiah berpotensi tertekan lebih dalam.
  • 3 Sinyal penting: level $75 perak — jika ditembus, koreksi bisa berlanjut ke $72, memperkuat narasi risk-off global yang merugikan aset berisiko termasuk IHSG.

Ringkasan Eksekutif

Harga perak (XAG/USD) ambles 7,90% pada perdagangan Jumat ke level $76,88, setelah mencapai level tertinggi harian di $83,87. Koreksi ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil Treasury AS yang memicu kekhawatiran gelombang inflasi kedua, mendorong spekulasi bahwa bank sentral utama — termasuk The Fed — dapat menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Dalam dua hari perdagangan terakhir, perak telah terkoreksi hampir 12% setelah sempat menyentuh level di bawah $90,00. Dari sisi teknikal, Relative Strength Index (RSI) telah berbalik bearish sehari sebelumnya, mengindikasikan tekanan jual semakin dominan. Level psikologis $75,00 menjadi support krusial berikutnya — jika ditembus, perak berpotensi menguji swing low 4 Mei di $72,21, kemudian low 29 April di $70,86, dan akhirnya level $70,00. Sebaliknya, jika pembeli ingin merebut kembali kendali, mereka harus merebut level $77,00 yang berada di atas 50-day Simple Moving Average (SMA) di $76,98. Resistensi berikutnya adalah 20-day SMA di $77,79, lalu 100-day SMA di $80,94. Pemicu utama koreksi ini adalah lonjakan imbal hasil Treasury AS yang mencerminkan ekspektasi pasar bahwa inflasi AS mungkin tetap tinggi, sehingga The Fed tidak punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat. Skenario suku bunga tinggi lebih lama ini membuat aset tanpa imbal hasil seperti perak dan emas menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi yang kini menawarkan yield lebih kompetitif. Bagi Indonesia, koreksi harga perak dan logam mulia lainnya perlu dicermati karena dapat mempengaruhi valuasi emiten tambang emas dalam negeri seperti ANTM dan MDKA, meskipun perak bukan komoditas ekspor utama Indonesia. Namun, efek tidak langsung dari lonjakan imbal hasil AS dan penguatan dolar AS lebih relevan: tekanan terhadap rupiah dan arus keluar modal asing dari pasar SBN dan saham Indonesia. Yang perlu dipantau dalam 1-2 pekan ke depan adalah pergerakan imbal hasil Treasury AS 10 tahun, data inflasi AS berikutnya, serta sinyal dari The Fed — terutama dari risalah pertemuan FOMC terbaru yang akan dirilis. Jika imbal hasil terus naik, tekanan jual pada logam mulia dan aset emerging market termasuk Indonesia dapat berlanjut.

Mengapa Ini Penting

Koreksi perak 12% dalam dua hari adalah alarm bagi pasar komoditas global — sinyal bahwa likuiditas global mulai mengerut karena ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Bagi Indonesia, efek utamanya bukan pada perak itu sendiri, melainkan pada penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil yang menekan rupiah, memicu outflow asing dari SBN, dan membatasi ruang pelonggaran moneter BI.

Dampak ke Bisnis

  • Kenaikan imbal hasil Treasury AS membuat aset berbunga seperti obligasi lebih menarik dibandingkan logam mulia dan saham emerging market — berpotensi memicu arus keluar modal asing dari SBN dan IHSG, menekan rupiah lebih lanjut.
  • Tekanan pada rupiah akibat dolar AS yang kuat meningkatkan biaya impor bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor — terutama di sektor manufaktur, farmasi, dan elektronik.
  • Emiten tambang emas dalam negeri seperti ANTM dan MDKA mungkin terdampak secara sentimen meskipun perak bukan komoditas utama mereka — korelasi harga emas dan perak yang tinggi membuat koreksi ini bisa merembet.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: imbal hasil Treasury AS 10 tahun — jika terus naik di atas level tertinggi terbaru, tekanan jual pada logam mulia dan aset emerging market akan berlanjut.
  • Risiko yang perlu dicermati: risalah pertemuan FOMC yang akan dirilis — jika mengonfirmasi sikap hawkish, dolar AS semakin kuat dan rupiah berpotensi tertekan lebih dalam.
  • Sinyal penting: level $75 perak — jika ditembus, koreksi bisa berlanjut ke $72, memperkuat narasi risk-off global yang merugikan aset berisiko termasuk IHSG.

Konteks Indonesia

Koreksi perak dan logam mulia global ini tidak berdampak langsung ke Indonesia karena perak bukan komoditas ekspor utama. Namun, pemicu utamanya — lonjakan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama — sangat relevan. Dolar AS yang kuat menekan rupiah yang sudah berada di level terlemah, memicu potensi outflow asing dari SBN dan IHSG, serta membatasi ruang BI untuk menurunkan suku bunga. Bagi emiten tambang emas seperti ANTM dan MDKA, koreksi harga logam mulia global dapat menekan sentimen pasar meskipun fundamental perusahaan mungkin tidak berubah.

Konteks Indonesia

Koreksi perak dan logam mulia global ini tidak berdampak langsung ke Indonesia karena perak bukan komoditas ekspor utama. Namun, pemicu utamanya — lonjakan imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama — sangat relevan. Dolar AS yang kuat menekan rupiah yang sudah berada di level terlemah, memicu potensi outflow asing dari SBN dan IHSG, serta membatasi ruang BI untuk menurunkan suku bunga. Bagi emiten tambang emas seperti ANTM dan MDKA, koreksi harga logam mulia global dapat menekan sentimen pasar meskipun fundamental perusahaan mungkin tidak berubah.