Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

14 MEI 2026
Pemerintah Tunda Kenaikan Royalti Tambang — Bahlil Telepon Purbaya, Formulasi Baru Disusun

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / Pemerintah Tunda Kenaikan Royalti Tambang — Bahlil Telepon Purbaya, Formulasi Baru Disusun
Kebijakan

Pemerintah Tunda Kenaikan Royalti Tambang — Bahlil Telepon Purbaya, Formulasi Baru Disusun

Tim Redaksi Feedberry ·12 Mei 2026 pukul 07.45 · Confidence 8/10 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
8 Skor

Penundaan kebijakan yang sempat diumumkan berlaku Juni 2026 ini memberikan kelegaan jangka pendek bagi emiten tambang, namun ketidakpastian formulasi baru tetap menjadi risiko — berdampak langsung ke penerimaan negara dan margin sektor minerba.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
9

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: pengumuman resmi formulasi baru tarif royalti dari Kementerian ESDM — semakin cepat diumumkan, semakin cepat ketidakpastian pasar berkurang.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: potensi kenaikan bea keluar atau pajak lain sebagai kompensasi penundaan royalti — bisa menekan margin eksportir tambang dari sisi berbeda.
  • 3 Sinyal penting: respons pasar saham emiten tambang dalam 1-2 pekan ke depan — jika harga saham rebound signifikan, pasar membaca penundaan sebagai positif permanen; jika tetap tertekan, kekhawatiran formulasi baru masih dominan.

Ringkasan Eksekutif

Pemerintah memutuskan menunda penerapan tarif baru royalti komoditas tambang yang sebelumnya direncanakan mulai berlaku Juni 2026. Keputusan ini diambil setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menerima masukan dari pelaku usaha dan langsung menghubungi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya mengaku perubahan terjadi hanya beberapa jam setelah ia menyampaikan ke publik bahwa kenaikan royalti batu bara dan nikel akan berlaku bulan depan. Bahlil menyatakan akan menyusun formulasi baru yang menguntungkan negara sekaligus menjaga keberlanjutan usaha pertambangan. Penundaan ini memberikan ruang bagi emiten tambang yang sebelumnya tertekan oleh wacana kenaikan tarif — IHSG sempat melemah 2,86% ke 6.969 pada Jumat (8/5) akibat kekhawatiran tersebut.

Kenapa Ini Penting

Penundaan ini mengubah ekspektasi pasar terhadap margin emiten tambang dalam jangka pendek, namun ketiadaan kepastian kapan formulasi baru akan diterbitkan menciptakan overhang regulasi. Bagi pemerintah, penundaan berarti kehilangan potensi tambahan penerimaan negara di saat defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun per Maret 2026 — menambah tekanan fiskal yang harus ditutup dari sumber lain.

Dampak Bisnis

  • Emiten batu bara dan nikel seperti ADRO, PTBA, ITMG, dan smelter nikel mendapat kelegaan jangka pendek dari penundaan kenaikan royalti — margin operasional tidak langsung tertekan pada Juni 2026, namun ketidakpastian formulasi baru tetap membayangi keputusan investasi dan ekspansi.
  • Pemerintah kehilangan potensi tambahan penerimaan negara dari sektor minerba di saat defisit APBN sudah lebar — tekanan fiskal dapat mendorong pencarian sumber penerimaan lain, termasuk kemungkinan kenaikan pajak atau penerbitan utang baru yang berpotensi menaikkan yield SUN.
  • Penundaan ini juga berdampak pada daerah penghasil tambang seperti Kaltim, Kalsel, dan Sulawesi Tengah yang mengandalkan dana bagi hasil royalti — jika formulasi baru lebih rendah dari usulan awal, pendapatan daerah akan lebih kecil dari proyeksi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: pengumuman resmi formulasi baru tarif royalti dari Kementerian ESDM — semakin cepat diumumkan, semakin cepat ketidakpastian pasar berkurang.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi kenaikan bea keluar atau pajak lain sebagai kompensasi penundaan royalti — bisa menekan margin eksportir tambang dari sisi berbeda.
  • Sinyal penting: respons pasar saham emiten tambang dalam 1-2 pekan ke depan — jika harga saham rebound signifikan, pasar membaca penundaan sebagai positif permanen; jika tetap tertekan, kekhawatiran formulasi baru masih dominan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.