Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

21 MEI 2026
Panel Surya Lokal Kuasai <13% Pasar PLTS — Kapasitas 10 GW Menganggur
← Kembali
Beranda / Kebijakan / Panel Surya Lokal Kuasai <13% Pasar PLTS — Kapasitas 10 GW Menganggur
Kebijakan

Panel Surya Lokal Kuasai <13% Pasar PLTS — Kapasitas 10 GW Menganggur

Tim Redaksi Feedberry ·7 Mei 2026 pukul 12.36 · Sinyal menengah · Confidence 10/10 · Sumber: Kontan ↗
7 Skor

Ketimpangan antara kapasitas produksi 10 GW/tahun dan realisasi pasar <13% menunjukkan kegagalan kebijakan TKDN dan proteksi industri yang berpotensi menghambat target energi terbarukan serta menekan lapangan kerja sektor manufaktur.

Urgensi
7
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Kebijakan TKDN Panel Surya dan Bea Masuk Impor Panel Surya China
Penerbit
Pemerintah Indonesia (Kemenperin, Kemenkeu, Kementerian ESDM)
Perubahan Kunci
  • ·APAMSI mendorong perluasan kewajiban TKDN tidak hanya pada proyek pemerintah dan BUMN, tetapi juga proyek swasta.
  • ·APAMSI meminta evaluasi kebijakan pembebasan bea masuk untuk panel surya jadi asal China.
  • ·APAMSI mendorong peninjauan kembali kebijakan kuota PLTS atap untuk memperluas pasar domestik.
Pihak Terdampak
Produsen panel surya dalam negeri (anggota APAMSI)Importir panel surya ChinaPerusahaan EPC dan kontraktor PLTSPemerintah dan BUMN sebagai pengguna PLTSKonsumen listrik (potensi harga lebih tinggi jika TKDN diperluas)

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons pemerintah terhadap desakan APAMSI — apakah ada revisi kebijakan TKDN dan bea masuk panel surya impor dalam 1-2 bulan ke depan.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: jika harga panel surya impor terus turun karena overproduksi China, selisih harga 20% bisa melebar dan membuat produk lokal semakin tidak kompetitif — memperburuk utilisasi pabrik.
  • 3 Sinyal penting: realisasi proyek PLTS atap dan PLTS skala utilitas di semester II-2026 — jika volume proyek meningkat tanpa perubahan kebijakan TKDN, dominasi impor akan semakin mengakar.

Ringkasan Eksekutif

Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI) mengungkapkan bahwa kontribusi panel surya buatan dalam negeri terhadap total kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional masih di bawah 13%. Hingga Maret 2026, total kapasitas PLTS terpasang di Indonesia mencapai sekitar 1,5 gigawatt (GW), sementara kapasitas produksi pabrikan lokal sudah mencapai 10 GW per tahun. Artinya, industri dalam negeri memiliki kelebihan kapasitas yang sangat besar — lebih dari enam kali lipat dari total pasar yang ada — namun tidak terserap karena dominasi produk impor. Ketua Umum APAMSI, I Made Sandika Dwiantara, menyebutkan bahwa faktor harga, spesifikasi teknis, dan faktor nonteknis menjadi penyebab rendahnya serapan produk lokal. Ia menambahkan bahwa harga panel surya lokal kini hanya berselisih sekitar 20% lebih mahal dibandingkan produk impor, dan selisih itu berpotensi mengecil jika pemerintah memberikan dukungan fiskal dan insentif yang setara. APAMSI mendorong pemerintah untuk meninjau kebijakan kuota PLTS atap, memperluas kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya pada proyek pemerintah dan BUMN tetapi juga proyek swasta, serta mengevaluasi kebijakan pembebasan bea masuk untuk panel surya jadi asal China. Dominasi produk impor, terutama dari China, menjadi tantangan struktural yang membuat industri panel surya lokal sulit berkembang meskipun kapasitas produksi sudah sangat memadai. Tanpa intervensi kebijakan yang lebih tegas, Indonesia berisiko terus menjadi pasar bagi produk luar negeri sementara kapasitas industri dalam negeri menganggur dan potensi penciptaan lapangan kerja serta ekosistem pendukung tidak termaksimalkan. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons pemerintah terhadap desakan APAMSI, khususnya terkait revisi kebijakan TKDN dan bea masuk panel surya impor. Jika pemerintah mengabulkan permintaan asosiasi, produsen panel surya lokal akan mendapatkan angin segar dan potensi investasi baru di sektor ini bisa meningkat. Sebaliknya, jika tidak ada perubahan kebijakan, industri lokal akan terus tertekan dan kapasitas produksi 10 GW per tahun akan semakin mubazir. Selain itu, perlu dicermati perkembangan harga panel surya global — jika harga impor terus turun karena overproduksi China, selisih harga 20% bisa melebar dan membuat produk lokal semakin tidak kompetitif.

Mengapa Ini Penting

Ketimpangan ini bukan sekadar masalah industri, melainkan cerminan kegagalan kebijakan TKDN yang selama ini digadang-gadang sebagai instrumen proteksi industri nasional. Jika kapasitas 10 GW per tahun tidak terserap, Indonesia kehilangan potensi investasi, lapangan kerja, dan momentum transisi energi. Di sisi lain, dominasi impor panel surya China membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi rantai pasok global dan tekanan geopolitik — sesuatu yang kontras dengan ambisi kemandirian energi nasional.

Dampak ke Bisnis

  • Produsen panel surya lokal (anggota APAMSI) mengalami underutilisasi kapasitas produksi yang parah — hanya 13% dari kapasitas 10 GW/tahun yang terserap, artinya 87% kapasitas menganggur dan menekan margin serta arus kas.
  • Perusahaan konstruksi dan EPC (Engineering, Procurement, Construction) yang mengerjakan proyek PLTS akan terus bergantung pada impor, sehingga tidak ada transfer teknologi dan pengembangan kapasitas lokal dalam jangka panjang.
  • Pemerintah dan BUMN yang menargetkan bauran energi terbarukan 23% pada 2025 (yang sudah terlewat) dan target lebih ambisius ke depan akan kesulitan mencapai target jika industri lokal tidak kompetitif — karena ketergantungan impor menimbulkan risiko pasokan dan biaya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons pemerintah terhadap desakan APAMSI — apakah ada revisi kebijakan TKDN dan bea masuk panel surya impor dalam 1-2 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika harga panel surya impor terus turun karena overproduksi China, selisih harga 20% bisa melebar dan membuat produk lokal semakin tidak kompetitif — memperburuk utilisasi pabrik.
  • Sinyal penting: realisasi proyek PLTS atap dan PLTS skala utilitas di semester II-2026 — jika volume proyek meningkat tanpa perubahan kebijakan TKDN, dominasi impor akan semakin mengakar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.