9 JUN 2026
OpenAI & Anthropic Ajukan IPO – Uji Nyali Pasar Modal untuk Sektor AI yang Masih Merugi

Foto: TechCrunch — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / OpenAI & Anthropic Ajukan IPO – Uji Nyali Pasar Modal untuk Sektor AI yang Masih Merugi
Pasar

OpenAI & Anthropic Ajukan IPO – Uji Nyali Pasar Modal untuk Sektor AI yang Masih Merugi

Tim Redaksi Feedberry ·8 Juni 2026 pukul 21.29 · Sumber: TechCrunch ↗
7.7 Skor

Dua raksasa AI dunia melaju ke bursa dalam waktu berdekatan, berpotensi menyerap likuiditas global dan menguji selera risiko investor – dampak ke Indonesia lewat rebalancing portofolio asing dan tekanan kompetitif pada adopsi AI lokal.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

OpenAI secara resmi mengajukan pernyataan pendaftaran rahasia ke SEC untuk penawaran umum perdana (IPO), hanya seminggu setelah pesaing utamanya, Anthropic, melakukan langkah serupa.

Langkah ini menandai awal dari musim IPO raksasa teknologi yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar dalam satu generasi. SpaceX, dengan valuasi mencapai USD 1,75 triliun, juga dijadwalkan melantai di bursa tahun ini. Artinya, tiga perusahaan paling dinantikan di sektor teknologi bisa go public dalam hitungan bulan satu sama lain, menciptakan konsentrasi penawaran saham yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun valuasi OpenAPI pasca-pendanaan mencapai USD 852 miliar, kondisi fundamental perusahaan menyimpan tanda tanya besar. Menurut laporan The Wall Street Journal, OpenAI baru saja gagal mencapai target pengguna dan pendapatan internalnya.

Lebih kritis lagi, CFO Sarah Friar dikabarkan telah menyuarakan kekhawatiran bahwa perusahaan mungkin tidak mampu mendanai belanja pusat data yang membengkak – pada Maret lalu, OpenAPI baru saja mengumpulkan USD 122 miliar dalam putaran pendanaan terbesar dalam sejarah Silicon Valley. Namun, proyeksi internal OpenAPI sendiri menunjukkan perusahaan diperkirakan akan mengeluarkan jumlah yang hampir sama untuk daya komputasi pada 2028, dan membakar USD 85 miliar pada tahun yang sama bahkan setelah pendapatan berlipat ganda. Dengan kata lain, OpenAPI meminta investor publik untuk membeli saham perusahaan yang, menurut proyeksinya sendiri, tidak akan menghasilkan lebih banyak kas daripada yang dibelanjakan setidaknya selama empat tahun ke depan.

Anthropic, di sisi lain, menyajikan gambaran yang lebih optimis dengan mengklaim hampir mencapai profit kuartalan pertamanya, meskipun tingkat pembakaran kasnya juga tidak kecil setelah mengantongi pendanaan USD 65 miliar baru-baru ini. IPO rahasia ini memungkinkan kedua perusahaan memulai persiapan tanpa mengungkapkan informasi keuangan dan risiko bisnis secara detail, namun pasar sekunder sudah memberikan gambaran awal – valuasi Anthropic di platform Forge Global sempat melonjak ke USD 1 triliun, melampaui OpenAPI. Dampak dari fenomena ini terhadap Indonesia perlu dicermati dari tiga dimensi. Pertama, likuiditas global. Jika IPO tiga raksasa ini menyerap dana hingga lebih dari USD 200 miliar tahun ini, fund manager global harus melakukan rebalancing portofolio besar-besaran.

Mereka cenderung mengurangi eksposur di pasar berkembang, termasuk Indonesia, yang berpotensi memicu outflow dari obligasi dan saham domestik. Rupiah yang saat ini berada di level tertekan (Rp18.166 per dolar AS) bisa menghadapi tekanan tambahan jika aksi jual meluas. Kedua, adopsi AI di Indonesia. Superapp ChatGPT yang direncanakan OpenAPI akan mempercepat adopsi AI korporasi di dalam negeri, terutama di sektor perbankan, e-commerce, dan layanan pelanggan. Namun, startup AI lokal yang membangun solusi niche akan menghadapi tekanan kompetitif langsung. Ketiga, dampak fiskal dan regulasi. Model pemerintah AS yang mungkin menjadi pemegang saham di perusahaan AI (sebagaimana dibahas Trump) bisa menjadi preseden global. Indonesia perlu mempertimbangkan implikasinya terhadap kebijakan transfer teknologi dan keamanan data nasional.

Mengapa Ini Penting

Berita ini bukan hanya soal listing dua perusahaan teknologi. Ini adalah ujian terbesar bagi selera risiko investor global terhadap sektor yang masih menghadapi kesenjangan struktural antara investasi infrastruktur dan profitabilitas. Jika IPO OpenAPI berhasil meskipun fundamental merugi, ini akan membuka pintu bagi valuasi tinggi untuk startup AI lain yang juga belum profitable – dan menciptakan efek limpahan ke pasar Indonesia. Sebaliknya, jika respons pasar buruk, efeknya bisa menjadi pemicu risk-off global yang langsung terasa pada capital outflow dari Indonesia.

Dampak ke Bisnis

  • Tekanan outflow portofolio asing dari Indonesia. IPO raksasa AI yang diperkirakan menyerap dana hingga USD 200–300 miliar akan memicu rebalancing besar oleh fund manager global – pasar berkembang seperti Indonesia biasanya menjadi korbannya. Sektor yang paling rentan: SUN dan saham blue-chip likuid seperti BBCA, TLKM, BMRI yang menjadi favorit asing.
  • Persaingan ketat bagi startup AI Indonesia. Superapp ChatGPT yang mengintegrasikan coding, keuangan, dan agen AI otonom menjadi ancaman langsung bagi startup lokal yang membangun di niche serupa. Bisnis software-as-a-service (SaaS) dan asisten coding di Indonesia akan kehilangan pangsa pasar jika harga langganan OpenAPI lebih kompetitif karena skala global.
  • Tekanan biaya modal untuk perusahaan teknologi dan digital di Indonesia. Jika aksi jual asing melanda pasar saham dan obligasi, suku bunga domestik cenderung naik – membuat pendanaan untuk startup dan ekspansi digital menjadi lebih mahal. Emiten teknologi seperti GOTO dan BUKA yang belum konsisten profitabel akan mendapat tekanan valuasi tambahan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons pasar saham AS terhadap prospek IPO OpenAPI – jika NASDAQ dan indeks teknologi global mengalami rally, sentimen positif bisa menular ke emiten teknologi BEI, namun jika valuasi OpenAPI dianggap terlalu tinggi, aksi jual bisa meluas.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi capital reversal dari Indonesia. Pantau data kepemilikan asing di SUN dan saham blue-chip mingguan – jika terjadi outflow beruntun di atas Rp5 triliun per minggu, koreksi IHSG di bawah 5.200 bisa terjadi dalam 1–2 bulan ke depan.
  • Sinyal penting: pernyataan resmi Bank Indonesia mengenai kesiapan menghadapi potensi tekanan eksternal – jika BI melakukan intervensi langsung di pasar SBN atau memperketat likuiditas, sinyal bahwa tekanan sudah mulai dirasakan.

Konteks Indonesia

Dampak IPO OpenAPI dan Anthropic ke Indonesia bersifat tidak langsung melalui tiga jalur: (1) Rebalancing portofolio global: dana internasional yang harus menyisihkan alokasi untuk saham raksasa AI akan mengurangi eksposur ke pasar berkembang seperti Indonesia. Ini bisa memicu outflow asing dari SBN dan saham blue-chip, menekan rupiah yang sudah berada di level rentan (Rp18.166 per dolar AS). (2) Percepatan adopsi AI korporasi di Indonesia: superapp ChatGPT yang mengintegrasikan Codex dan agen AI otonom akan menjadi platform dominan yang digunakan perusahaan Indonesia untuk otomatisasi layanan, coding, dan analisis data – menekan startup lokal yang bermain di niche serupa. (3) Dampak regulasi dan transfer teknologi: jika pemerintah AS akhirnya memegang saham di OpenAPI melalui 'Public Wealth Fund', Indonesia perlu mengkaji ulang strategi kemitraan teknologi dengan perusahaan AI AS, termasuk soal akses data dan keamanan siber. Dalam jangka pendek, risiko outflow lebih dominan dibandingkan peluang adopsi teknologi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.