24 JUL 2026
SEC Gelar Diskusi 24 Jam Perdagangan Saham — Wall Street Menuju Non-Stop

Foto: Cointelegraph — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / SEC Gelar Diskusi 24 Jam Perdagangan Saham — Wall Street Menuju Non-Stop
Pasar

SEC Gelar Diskusi 24 Jam Perdagangan Saham — Wall Street Menuju Non-Stop

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juli 2026 pukul 01.18 · Sinyal tinggi · Sumber: Cointelegraph ↗
6.3 Skor

Perubahan fundamental struktur pasar AS berpotensi mengubah pola likuiditas global, tekanan risiko dan perilaku investor di seluruh bursa termasuk Indonesia dalam jangka panjang.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
5

Ringkasan Eksekutif

Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) akan menggelar diskusi publik pada September 2026 untuk membahas transisi menuju perdagangan saham 24 jam penuh di Amerika Serikat.

Langkah ini dipicu oleh dorongan dari bursa-bursa besar seperti Nasdaq, Cboe, dan London Stock Exchange (LSE) yang telah bergerak memperpanjang jam perdagangan. SEC memandang perluasan ini sebagai langkah untuk menyelaraskan pasar AS dengan bursa global yang sudah beroperasi secara kontinu, serta merespons permintaan investor ritel yang terbiasa dengan akses 24/7 di pasar kripto. Nasdaq sendiri telah mengajukan rencana untuk menyediakan perdagangan lima hari seminggu penuh, menargetkan peluncuran pada paruh kedua 2026 dengan syarat mendapatkan persetujuan regulasi. LSE juga dilaporkan berencana meluncurkan venue perdagangan malam pada awal 2027. Dimensi yang tidak terlihat dari headline ini adalah perubahan fundamental dalam dinamika pasar modal global.

Perdagangan 24 jam berarti tidak ada lagi jeda overnight — periode yang selama ini menjadi waktu bagi investor untuk mencerna berita, menyesuaikan posisi, dan meredam volatilitas. Dalam sistem baru, berita apa pun bisa langsung direaksikan kapan saja, yang berpotensi meningkatkan frekuensi dan amplitudo pergerakan harga secara signifikan. Bagi institusi keuangan, ini menuntut kesiapan operasional dan manajemen risiko yang jauh lebih ketat: tim trading harus bergilir, sistem harus tahan beban non-stop, dan likuiditas harus dijaga sepanjang waktu.

Di sisi lain, bagi investor ritel, ini memberikan fleksibilitas yang selama ini hanya dinikmati oleh pelaku kripto. Dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung namun patut dicermati. Pertama, likuiditas global akan terfragmentasi — perdagangan saham AS yang 24 jam dapat menarik sebagian arus modal yang sebelumnya mengalir ke pasar emerging saat bursa Asia tutup. Kedua, volatilitas yang lebih tinggi di pasar AS akan menular ke IHSG melalui korelasi risk-on/risk-off, terutama pada saham-saham teknologi dan yang terdaftar di AS. Ketiga, investor institusi Indonesia yang memiliki eksposur ke saham AS harus menyesuaikan strategi manajemen risiko dan operasional.

Bagi investor ritel Indonesia yang aktif di pasar kripto, kebiasaan trading non-stop sudah menjadi norma, sehingga transisi bursa saham ke model serupa bisa memperkuat pergeseran preferensi aset.

Mengapa Ini Penting

Perubahan ini bukan sekadar perluasan jam operasional — ini adalah transformasi struktur pasar global yang dapat mengubah pola likuiditas, volatilitas, dan perilaku investor secara permanen. Bagi investor Indonesia, implikasinya terasa pada dua level: pertama, semakin terintegrasinya pasar modal global berarti setiap gejolak di AS dapat langsung mempengaruhi IHSG tanpa jeda; kedua, preferensi investor terhadap aset yang bisa diperdagangkan 24 jam (kripto) versus saham tradisional bisa berubah lebih cepat. Bursa-bursa Asia, termasuk BEI, mungkin akan tertekan untuk mengikuti model serupa agar tidak kehilangan daya saing.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi manajer investasi dan institusi keuangan Indonesia: perlu menyesuaikan sistem risk management dan operasional untuk mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi di pasar global, terutama pada portofolio yang terekspos saham AS melalui reksa dana atau ETF.
  • Bagi emiten teknologi dan startup di IHSG: korelasi dengan saham teknologi AS yang sudah tinggi bisa semakin kuat, membuat valuasi mereka lebih rentan terhadap sentimen global yang bergerak cepat tanpa jeda.
  • Bagi investor ritel: perubahan ini bisa mempercepat pergeseran minat ke aset yang sudah memberikan akses 24/7 seperti kripto, menekan volume perdagangan saham di bursa tradisional jika tidak ada adaptasi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons OJK dan BEI terhadap tren global — apakah ada wacana atau studi mengenai perluasan jam perdagangan di Indonesia.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi peningkatan volatilitas IHSG saat pasar AS bergerak di luar jam bursa Indonesia, terutama pada saham dengan korelasi tinggi.
  • Sinyal penting: statement resmi dari SEC setelah diskusi September — apakah ada komitmen waktu atau roadmap implementasi yang jelas, karena itu akan memicu reaksi pasar global.

Konteks Indonesia

Meskipun berita ini berfokus pada Amerika Serikat, dampaknya terhadap Indonesia perlu dicermati karena dua jalur transmisi utama. Pertama, likuiditas global yang bergeser ke pasar 24 jam dapat mengurangi aliran modal ke emerging market seperti Indonesia saat pasar Asia tutup. Kedua, perubahan struktur perdagangan di AS berpotensi meningkatkan volatilitas yang menular ke IHSG, terutama pada saham teknologi dan blue-chip yang banyak dimiliki asing. Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini beroperasi dengan jam perdagangan reguler dan terbatas, sehingga belum siap mengadopsi model 24 jam dalam waktu dekat. Namun, jika tren global ini menguat, tekanan untuk adaptasi bisa meningkat dalam jangka menengah — terutama untuk menjaga kompetitivitas sebagai destinasi investasi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.