Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

23 MEI 2026
OJK: Love Scam Marak, Kerugian Masyarakat Capai Rp9,5 Triliun

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Teknologi / OJK: Love Scam Marak, Kerugian Masyarakat Capai Rp9,5 Triliun
Teknologi

OJK: Love Scam Marak, Kerugian Masyarakat Capai Rp9,5 Triliun

Tim Redaksi Feedberry ·22 Mei 2026 pukul 10.00 · Confidence 0/10 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
7.7 Skor

Kerugian Rp9,5 triliun dari 549 ribu laporan penipuan dalam 1,5 tahun menunjukkan ancaman sistemik terhadap kepercayaan digital dan stabilitas sistem pembayaran — dampak lintas sektor dari ritel hingga perbankan.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Key Takeaways

  • 1 Yang perlu dipantau: respons regulator — apakah OJK akan mengeluarkan aturan baru tentang verifikasi identitas pengguna platform digital atau batas transaksi harian yang lebih ketat.
  • 2 Risiko yang perlu dicermati: eskalasi modus penipuan berbasis AI — jika love scam dengan deepfake video mulai marak, kerugian bisa melonjak karena korban lebih mudah percaya pada bukti visual.
  • 3 Sinyal penting: apakah ada kasus love scam dengan kerugian besar yang dilaporkan ke polisi dan mendapat sorotan media — ini bisa menjadi katalis untuk perubahan regulasi yang lebih cepat dan lebih ketat.

Ringkasan Eksekutif

Ketua Dewan Komisioner OJK Frederica Widyasari Dewi mengungkapkan bahwa love scam — modus penipuan berkedok asmara yang menggunakan editan AI — menjadi salah satu bentuk penipuan yang paling berkembang di Indonesia. Dalam acara Jogja Financial Forum pada 22 Mei 2026, ia memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap modus ini, di mana pelaku menggunakan gambar hasil rekayasa AI untuk membangun hubungan palsu dan kemudian meminta korban mentransfer uang secara sukarela. Data OJK menunjukkan bahwa per 22 November 2024 hingga 30 April 2026, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 549.074 laporan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp9,5 triliun. Angka ini mencerminkan rata-rata kerugian sekitar Rp17,3 juta per laporan, yang menunjukkan bahwa penipuan tidak hanya menimpa individu dengan nominal kecil, tetapi juga korban dengan kerugian signifikan. Frederica merinci lima modus scam terbanyak: penipuan transaksi belanja online (76.724 laporan), impersonation atau fake call (44.889 laporan), penipuan investasi (26.613 laporan), penipuan kerja (23.906 laporan), dan penipuan media sosial (20.394 laporan). Yang menarik, love scam tidak disebut sebagai kategori terpisah dalam lima besar, tetapi masuk dalam penipuan media sosial — yang berarti angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena tidak semua love scam dilaporkan secara spesifik. Dampak dari maraknya penipuan ini tidak hanya dirasakan oleh korban individu. Bagi sektor perbankan dan fintech, setiap transaksi penipuan yang berhasil menimbulkan biaya operasional untuk investigasi, pengembalian dana, dan penguatan sistem keamanan. Bagi platform media sosial dan aplikasi kencan online, reputasi mereka terancam jika menjadi sarang penipuan — yang pada akhirnya bisa menurunkan jumlah pengguna aktif dan pendapatan iklan. Yang perlu dipantau dalam 1-4 minggu ke depan adalah respons regulator: apakah OJK akan mengeluarkan aturan baru yang mewajibkan platform digital untuk melakukan verifikasi identitas pengguna yang lebih ketat? Juga, apakah perbankan akan memperketat batas transaksi harian atau menerapkan cooling-off period untuk transfer ke rekening baru? Sinyal penting lainnya adalah apakah kasus love scam dengan kerugian besar akan mulai dilaporkan ke polisi dan mendapat sorotan media — yang bisa memicu perubahan regulasi lebih cepat.

Mengapa Ini Penting

Kerugian Rp9,5 triliun dari penipuan digital dalam 1,5 tahun bukan sekadar masalah konsumen — ini adalah risiko sistemik terhadap kepercayaan pada sistem pembayaran digital dan adopsi layanan keuangan formal. Setiap rupiah yang hilang ke scam adalah rupiah yang tidak masuk ke konsumsi, tabungan, atau investasi produktif. Lebih penting lagi, maraknya love scam yang menggunakan AI menunjukkan bahwa teknologi deepfake dan generative AI telah menjadi alat kejahatan yang mudah diakses — dan Indonesia belum memiliki kerangka regulasi yang memadai untuk mengantisipasi modus-modus baru ini.

Dampak ke Bisnis

  • Sektor perbankan dan fintech akan menghadapi tekanan biaya operasional yang meningkat untuk memperkuat sistem deteksi penipuan, verifikasi transaksi, dan edukasi nasabah. Bank dengan basis nasabah ritel besar — seperti BBRI, BMRI, dan BBCA — paling terdampak karena volume transaksi harian yang tinggi.
  • Platform media sosial dan aplikasi kencan online — termasuk yang beroperasi di Indonesia — menghadapi risiko reputasi dan regulasi. Jika OJK atau Kominfo mewajibkan verifikasi identitas yang lebih ketat, biaya kepatuhan akan naik dan basis pengguna bisa tergerus.
  • Ekosistem startup dan e-commerce juga terimbas secara tidak langsung. Penipuan transaksi belanja online yang menduduki peringkat pertama (76.724 laporan) menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap platform digital masih rapuh — ini bisa memperlambat pertumbuhan transaksi digital secara keseluruhan.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: respons regulator — apakah OJK akan mengeluarkan aturan baru tentang verifikasi identitas pengguna platform digital atau batas transaksi harian yang lebih ketat.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi modus penipuan berbasis AI — jika love scam dengan deepfake video mulai marak, kerugian bisa melonjak karena korban lebih mudah percaya pada bukti visual.
  • Sinyal penting: apakah ada kasus love scam dengan kerugian besar yang dilaporkan ke polisi dan mendapat sorotan media — ini bisa menjadi katalis untuk perubahan regulasi yang lebih cepat dan lebih ketat.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.