Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

6 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

MoreFood Expo 2026: Akses Global F&B di Tengah Tekanan Rupiah dan Biaya Impor

Foto: Katadata — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / UMKM / MoreFood Expo 2026: Akses Global F&B di Tengah Tekanan Rupiah dan Biaya Impor
UMKM

MoreFood Expo 2026: Akses Global F&B di Tengah Tekanan Rupiah dan Biaya Impor

Tim Redaksi Feedberry ·6 Mei 2026 pukul 10.19 · Confidence 5/10 · Sumber: Katadata ↗
Feedberry Score
5.7 / 10

Urgensi sedang karena acara dimulai besok; dampak luas ke rantai pasok F&B, UMKM, dan sektor terkait; dampak Indonesia tinggi karena menjadi hub buyer global di tengah tekanan biaya impor akibat rupiah lemah.

Urgensi 4
Luas Dampak 6
Dampak Indonesia 7

Ringkasan Eksekutif

MoreFood Expo 2026 akan digelar di JIExpo Kemayoran pada 7–10 Mei 2026, mempertemukan lebih dari 1.200 exhibitor lokal dan internasional dengan target 15.000 pelaku industri. Acara ini berlangsung bersamaan dengan Franchise & License Expo Indonesia dan Cafe & Brasserie Expo, sehingga diperkirakan menarik hingga 30.000 pengunjung. Di tengah tekanan rupiah yang berada di level tertinggi dalam satu tahun (USD/IDR Rp17.366), pameran ini menjadi momentum kritis bagi pelaku F&B untuk mencari alternatif pemasok dan bahan baku yang lebih efisien. Dukungan dari Kemenparekraf, BRIN, MUI, HIPMI, GAPMMI, dan asosiasi lainnya memperkuat posisi acara sebagai jembatan antara kebutuhan industri lokal dengan jaringan global.

Kenapa Ini Penting

Lebih dari sekadar pameran dagang, MoreFood Expo 2026 menjadi barometer adaptasi industri F&B Indonesia terhadap tekanan biaya impor yang struktural. Dengan rupiah yang terus tertekan, pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan pemasok tradisional — mereka harus mencari sumber alternatif, teknologi efisiensi, dan mitra distribusi baru. Kehadiran 1.200 exhibitor internasional yang serius mencari distributor dan reseller lokal menandakan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai pasar strategis, meskipun daya beli domestik tertekan. Ini juga menjadi ujian bagi program business matching dan hosted buyer — apakah bisa benar-benar menghasilkan transaksi nyata atau hanya menjadi ajang networking biasa.

Dampak Bisnis

  • Pelaku UMKM F&B mendapatkan akses langsung ke pemasok global, yang bisa membantu menekan biaya bahan baku di tengah tekanan rupiah. Namun, tanpa kemampuan negosiasi dan volume pembelian yang memadai, manfaat ini mungkin hanya dinikmati oleh pemain besar.
  • Industri plastik kemasan, yang baru pulih ke utilisasi 75% setelah krisis harga bahan baku, berpotensi mendapatkan pesanan baru dari peserta pameran yang mencari solusi kemasan lokal. Ini bisa menjadi katalis positif bagi sektor hilir plastik.
  • Dalam jangka 3–6 bulan ke depan, kesepakatan distribusi dan kemitraan yang terjalin di acara ini bisa mengubah peta persaingan pasar F&B Indonesia, terutama jika produk impor masuk dengan harga lebih kompetitif dibandingkan produk lokal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi transaksi dari program business matching dan hosted buyer — apakah target 15.000 pengunjung industri benar-benar menghasilkan kontrak dagang atau hanya sebatas prospek.
  • Risiko yang perlu dicermati: tekanan rupiah yang berlanjut — jika USD/IDR terus melemah, biaya impor bahan baku yang dibahas di pameran bisa menjadi tidak kompetitif dalam hitungan minggu.
  • Sinyal penting: partisipasi exhibitor dari negara-negara dengan mata uang kuat (AS, Eropa) vs negara dengan biaya produksi rendah (China, Vietnam) — ini akan menunjukkan arah pergeseran rantai pasok global.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.