Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.
Dampak langsung ke sektor peternakan dan harga pangan, namun kontribusi program masih kecil dan peternak masih merugi — urgensi sedang, dampak luas ke konsumen dan inflasi pangan.
Ringkasan Eksekutif
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menambah permintaan daging ayam dan telur, namun kontribusinya masih di bawah 5% menurut Sekjen GOPAN Sugeng Wahyudi. Kenaikan permintaan terbesar tetap berasal dari momen Idulfitri, dan setelahnya harga ayam hidup di tingkat peternak turun ke kisaran Rp17.000 per kg — level yang masih membuat peternak rugi, meski lebih baik dari tahun 2024 yang sempat mencapai Rp13.000 per kg. Di sisi lain, biaya produksi justru naik karena harga pakan dan DOC (day old chick) meningkat. Stok ayam sempat mencapai 560.000 kg pada akhir 2025, menunjukkan pasokan masih melimpah. Program MBG membantu menahan fluktuasi harga agar tidak ekstrem, tetapi belum cukup mendorong harga ke level impas bagi peternak.
Kenapa Ini Penting
Program MBG menjadi instrumen fiskal baru yang secara langsung memengaruhi permintaan pangan pokok, namun dampaknya masih terlalu kecil untuk mengubah struktur pasar peternakan yang selama ini sangat bergantung pada siklus hari raya. Ini mengindikasikan bahwa tanpa perluasan cakupan program, peternak akan terus terjebak dalam siklus rugi di luar momen Idulfitri. Ironi kenaikan biaya produksi di saat harga jual turun juga menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi pakan dan DOC — yang terkait dengan harga jagung impor dan biaya logistik — belum terselesaikan. Bagi investor dan pelaku usaha, ini menunjukkan bahwa sektor peternakan masih menghadapi margin yang tertekan secara struktural, dan program MBG belum menjadi katalis yang cukup kuat untuk membalikkan tren.
Dampak Bisnis
- ✦ Peternak ayam dan telur skala kecil-menengah masih merugi karena harga jual di bawah biaya produksi, meski ada tambahan permintaan dari MBG. Fluktuasi harga yang lebih tertahan dibanding tahun lalu belum cukup untuk mencapai titik impas.
- ✦ Industri pakan ternak dan produsen DOC justru diuntungkan dari kenaikan harga input, sementara peternak hulu menanggung beban biaya. Ini menciptakan ketimpangan margin dalam rantai pasok peternakan.
- ✦ Konsumen rumah tangga berpotensi menikmati harga ayam dan telur yang relatif stabil di luar momen Idulfitri, namun risiko lonjakan harga tetap ada jika program MBG diperluas tanpa diimbangi peningkatan produksi yang terencana.
Yang Perlu Dipantau
- ◎ Yang perlu dipantau: realisasi perluasan cakupan MBG ke lebih banyak sekolah dan daerah — jika cakupan naik signifikan, kontribusi terhadap permintaan bisa melampaui 5% dan mengubah dinamika harga.
- ◎ Risiko yang perlu dicermati: kenaikan harga pakan dan DOC yang terus berlanjut — jika biaya produksi naik lebih cepat dari harga jual, peternak skala kecil bisa gulung tikar dan mengurangi pasokan nasional.
- ◎ Sinyal penting: data harga ayam hidup di tingkat peternak mingguan — jika bertahan di bawah Rp18.000 per kg dalam jangka panjang, sektor ini masih dalam tekanan meski ada MBG.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.