23 JUN 2026
Literasi Keuangan Rendah di Kalangan Gamer Gen Z – Risiko FOMO Investasi

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Literasi Keuangan Rendah di Kalangan Gamer Gen Z – Risiko FOMO Investasi
Makro

Literasi Keuangan Rendah di Kalangan Gamer Gen Z – Risiko FOMO Investasi

Tim Redaksi Feedberry ·22 Juni 2026 pukul 15.45 · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
6 Skor

Kesenjangan literasi-inklusi 16,74% menimbulkan risiko perilaku FOMO massal yang dapat menggerus kepercayaan pasar modal domestik di tengah tekanan IHSG dan rupiah.

Urgensi
5
Luas Dampak
6
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025 mengungkap ketimpangan mencolok antara inklusi dan literasi keuangan di kalangan anak muda Indonesia usia 18–25 tahun. Inklusi keuangan kelompok ini melesat hingga 89,96%, tetapi literasi finansial mereka baru menyentuh 73,22%. Kesenjangan sebesar 16,74% ini berarti satu dari lima anak muda berinvestasi tanpa pemahaman risiko yang memadai. Fenomena ini diperparah oleh temuan bahwa hanya 1 dari 14 investor terdaftar yang aktif bertransaksi setiap bulannya — mengindikasikan banyaknya investor pasif atau yang 'tidur' setelah tergoda Fear of Missing Out (FOMO).

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Moleonoto The menyoroti irisan besar antara komunitas eSports Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dan investor muda Gen Z serta Milenial yang kini menjadi tulang punggung pasar modal nasional. Namun, di balik lonjakan jumlah investor, terdapat anomali kritis: keputusan investasi yang didorong FOMO, bukan analisis fundamental. Pola ini mirip dengan siklus euforia di komunitas game — ketika pemain berpengalaman memanfaatkan momentum, sementara pemain baru terjebak pada aksi yang salah. Dalam konteks pasar modal, hal ini berpotensi menimbulkan kerugian massal dan menurunkan kepercayaan terhadap institusi pasar. Kondisi pasar saat ini menambah kerentanan. IHSG berada di level 6.117, masih di bawah tekanan outflow asing dan pelemahan rupiah ke Rp17.814 per dolar AS.

Dalam lingkungan seperti ini, investor muda yang kurang literasi lebih rentan mengambil keputusan emosional — membeli di puncak euforia atau panic selling saat koreksi. Dampaknya tidak hanya individual; jika gelombang kerugian terjadi secara kolektif, reputasi pasar modal sebagai instrumen investasi jangka panjang bisa tercoreng. Emiten yang bergantung pada partisipasi ritel juga akan merasakan dampak likuiditas saham yang menipis.

Mengapa Ini Penting

Kesenjangan literasi-inklusi ini bukan sekadar angka statistik — ia menciptakan populasi investor yang rentan terhadap kerugian akibat FOMO. Jika kerugian massal terjadi, kepercayaan terhadap pasar modal bisa runtuh, mengancam upaya pemerintah memperdalam pasar keuangan. Selain itu, generasi muda adalah penopang demografi Indonesia; jika mereka sejak awal memiliki pengalaman investasi yang buruk, partisipasi jangka panjang bisa terhambat, memperlambat pertumbuhan basis investor domestik yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan pada modal asing.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten yang menggantungkan likuiditas pada investor ritel — seperti saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah — akan paling terpukul jika gelombang FOMO berujung panic selling. Risiko volatilitas harga saham meningkat, terutama pada emiten yang banyak dimiliki oleh investor muda.
  • Sekuritas dan manajer investasi menghadapi dua tekanan: biaya akuisisi nasabah baru yang tinggi (karena FOMO) berbanding terbalik dengan retensi nasabah yang rendah akibat minim literasi. Bisnis mereka menjadi kurang stabil karena basis investor yang tidak paham risiko cenderung hengkang saat pasar berbalik.
  • Dalam jangka panjang, rendahnya literasi dapat memperlambat laju inklusi keuangan di pasar modal. Regulator mungkin menerapkan kebijakan pembatasan — seperti ujian sertifikasi yang lebih ketat atau limit transaksi untuk investor pemula — yang bisa menghambat pertumbuhan jumlah investor baru.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: data jumlah investor aktif bulanan dari KSEI — apakah rasio 1 dari 14 membaik atau justru memburuk dalam 3 bulan ke depan.
  • Risiko yang perlu dicermati: lonjakan pembukaan rekening efek baru yang tidak diimbangi aktivitas transaksi — indikasi FOMO tanpa komitmen jangka panjang.
  • Sinyal penting: respons OJK dan BEI terhadap fenomena ini — apakah akan menerbitkan aturan perlindungan konsumen baru atau program edukasi wajib bagi investor pemula, yang bisa mengubah biaya akuisisi sekuritas.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.