7 AGS 2026
Pasar Sepatu RI Berpotensi Rp290 T — Domestik Jadi Andalan Baru

Foto: IDXChannel — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Pasar Sepatu RI Berpotensi Rp290 T — Domestik Jadi Andalan Baru
Makro

Pasar Sepatu RI Berpotensi Rp290 T — Domestik Jadi Andalan Baru

Tim Redaksi Feedberry ·6 Agustus 2026 pukul 19.05 · Sinyal menengah · Sumber: IDXChannel ↗
7.3 Skor

Klaim potensi pasar yang besar menegaskan peran industri alas kaki sebagai penyerap tenaga kerja dan sumber devisa, tetapi realisasinya masih bergantung pada daya beli dan kemampuan industri mengisi pasar — dampaknya luas ke manufaktur, investasi, dan ekspor.

Urgensi
6
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memperkirakan potensi pasar sepatu nasional mencapai sekitar Rp290 triliun per tahun, berdasarkan pengeluaran masyarakat dengan penduduk sekitar 290 juta jiwa. Pernyataan ini disampaikan saat pembukaan Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/8/2026). Angka potensi tersebut menjadi dasar ajakan agar industri dalam negeri mengisi pasar domestik semaksimal mungkin, sembari pemerintah menjaga daya beli masyarakat agar pasar terus tumbuh. Di balik klaim potensi pasar yang besar, data pendukung menunjukkan sektor ini bukan sekadar wacana. Subsektor tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki mempekerjakan lebih dari 3,8 juta orang — menjadikannya salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Pada semester pertama tahun ini, nilai ekspor sektor tersebut mencapai sekitar USD4,85 miliar, dengan subsektor kulit dan alas kaki tumbuh 5,28%. Yang lebih penting, industri alas kaki mencatat surplus perdagangan USD2,89 miliar, artinya ekspor jauh melampaui impor. Ini kontras dengan neraca perdagangan nasional yang disebut dalam artikel terkait sedang defisit, sehingga sektor ini justru menjadi penyumbang devisa yang strategis. Dimensi yang luput dari headline adalah lonjakan investasi. Kepercayaan investor meningkat signifikan dari sekitar Rp13,5 triliun pada 2024 menjadi Rp24 triliun pada 2025 — hampir dua kali lipat dalam setahun. Ini sinyal bahwa modal swasta, termasuk kemungkinan dari pemain global yang mencari basis produksi alternatif, mulai serius masuk.

Namun, potensi Rp290 triliun baru akan menjadi kenyataan jika daya beli masyarakat tetap terjaga dan industri dalam negeri mampu bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasar. Jika tidak, potensi pasar justru dinikmati produsen luar negeri, sementara industri lokal hanya menjadi penonton di pasar sendiri.

Mengapa Ini Penting

Pernyataan Menperin ini bukan sekadar proyeksi pasar — ia menegaskan arah kebijakan industrialisasi yang mengandalkan permintaan domestik sebagai penggerak utama. Dengan surplus perdagangan USD2,89 miliar dan serapan tenaga kerja 3,8 juta orang, industri alas kaki menjadi salah satu sektor yang bisa menopang pertumbuhan saat sektor lain tertekan oleh kondisi fiskal dan eksternal. Yang tidak obvious: potensi Rp290 triliun hanya akan terwujud jika pemerintah serius menjaga daya beli kelas menengah — kelompok yang sama yang saat ini tertekan oleh suku bunga tinggi dan inflasi. Jika daya beli tidak pulih, pasar sebesar itu justru akan diisi produk impor murah, dan surplus perdagangan yang sudah susah payah dibangun bisa berbalik menjadi defisit.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi industri alas kaki nasional: potensi pasar Rp290 triliun membuka ruang pertumbuhan produksi dan ekspansi kapasitas, tetapi persaingan dengan produk impor murah menjadi penghambat utama. Produsen lokal perlu meningkatkan efisiensi dan kualitas agar tidak hanya menjadi penonton di pasar domestik.
  • Bagi investor dan calon investor: lonjakan investasi dari Rp13,5 triliun ke Rp24 triliun menunjukkan sektor ini sedang dalam fase ekspansi — peluang masuk bagi pemain baru di hulu (bahan baku kulit, sol, tekstil) maupun hilir (ritel sepatu, distribusi). Namun, realisasi investasi masih bergantung pada kepastian regulasi dan stabilitas makro.
  • Bagi pemerintah daerah dan tenaga kerja: dengan 3,8 juta pekerja, industri ini menjadi penyangga lapangan kerja yang penting. Jika daya beli turun dan produksi melambat, daerah sentra industri seperti Jawa Barat dan Jawa Timur akan merasakan dampak sosial paling awal. Sebaliknya, jika ekspor tumbuh berkelanjutan, sektor ini bisa menjadi penggerak ekonomi daerah yang andal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi kontrak dagang dari ILF Expo 2026 dalam 2-4 minggu ke depan — jika nilai transaksi jauh di bawah ekspektasi, potensi pasar Rp290 triliun hanyalah angka teoritis.
  • Risiko yang perlu dicermati: daya beli masyarakat kelas menengah yang tertekan suku bunga tinggi dan inflasi — jika konsumsi sepatu domestik melambat, pasar yang diharapkan justru tidak terealisasi.
  • Sinyal penting: kebijakan pemerintah tentang pembatasan impor alas kaki dan insentif investasi — apakah ada tindak lanjut nyata dari pernyataan Menperin atau sekadar wacana tanpa regulasi pendukung.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.