24 JUN 2026
LCT RI-China Tembus Rp161,5T/bulan — Dedolarisasi Makin Kencang

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / LCT RI-China Tembus Rp161,5T/bulan — Dedolarisasi Makin Kencang
Makro

LCT RI-China Tembus Rp161,5T/bulan — Dedolarisasi Makin Kencang

Tim Redaksi Feedberry ·24 Juni 2026 pukul 04.05 · Sinyal tinggi · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6.7 Skor

LCT mengurangi tekanan dolar, namun tekanan eksternal dari DXY kuat masih dominan — urgensi moderat, dampak luas ke sektor perdagangan dan stabilitas rupiah.

Urgensi
5
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Indikator Makro
Indikator
Transaksi LCT RI-China
Nilai Terkini
US$9 miliar (Mei 2026)
Tren
naik
Sektor Terdampak
perdaganganperbankaneksportir/importirvalas

Ringkasan Eksekutif

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCT) antara Indonesia dan China pada Mei 2026 mencapai US$9 miliar atau setara Rp161,57 triliun (asumsi kurs Rp17.953/US$). Angka ini menunjukkan akselerasi signifikan dalam upaya dedolarisasi perdagangan bilateral. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total transaksi LCT dengan China sudah mencapai US$22 miliar (sekitar Rp394,96 triliun). Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut tren ini didorong oleh transaksi ekspor riil, baik dari sektor swasta maupun pemerintah. BI juga telah menjalin kerja sama dengan People's Bank of China (PBoC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melalui nota kesepahaman bersama yang bertujuan menjaga stabilitas kawasan serta meningkatkan transaksi keuangan, perdagangan, dan investasi.

Faktor pendorong utama percepatan LCT adalah kebutuhan kedua negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS di tengah volatilitas nilai tukar global. Dengan skema LCT, eksportir dan importir dapat menyelesaikan pembayaran langsung dalam mata uang masing-masing (rupiah dan yuan), menghilangkan kebutuhan konversi ke dolar. Ini menekan biaya transaksi dan risiko nilai tukar, terutama saat dolar AS menguat seperti saat ini. Data pasar per 24 Juni 2026 menunjukkan USD/IDR berada di level 17.945 – area tertekan dalam setahun terakhir – sehingga insentif untuk menggunakan LCT semakin besar. MoU dengan PBoC dan HKMA juga memperkuat infrastruktur penyelesaian lintas batas, membuat skema ini lebih mudah diakses oleh pelaku usaha. Dampak ekonomi dari peningkatan LCT bersifat multidimensi.

Pertama, secara langsung mengurangi tekanan permintaan dolar di pasar spot Indonesia, yang berpotensi menahan pelemahan rupiah lebih lanjut. Kedua, bagi eksportir dan importir yang bertransaksi dengan China, biaya hedging dan spread valas berkurang, meningkatkan margin keuntungan. Ketiga, perbankan yang menyediakan layanan LCT – seperti BCA, Mandiri, dan BNI – memperoleh pendapatan fee-based baru. Namun, perlu dicatat bahwa volume LCT meskipun besar, masih merupakan sebagian kecil dari total perdagangan bilateral Indonesia-China yang diperkirakan mencapai US$130 miliar per tahun. Dengan kata lain, potensi pertumbuhan masih sangat besar, tetapi dampak langsungnya terhadap stabilitas rupiah masih terbatas jika dibandingkan dengan arus modal asing dan faktor global seperti kebijakan Fed.

Mengapa Ini Penting

Akselerasi LCT RI-China menandai pergeseran struktural dalam sistem pembayaran internasional Indonesia, mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan bilateral. Ini meningkatkan ketahanan eksternal di tengah tekanan rupiah dan memberikan alternatif pembiayaan yang lebih stabil. Bagi pelaku bisnis, implikasinya langsung: biaya transaksi lebih murah, risiko kurs lebih terkelola, dan akses ke pasar China menjadi lebih efisien. Jika diperluas ke mitra dagang utama lain, efeknya bisa signifikan terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa.

Dampak ke Bisnis

  • Eksportir dan importir yang bertransaksi dengan China: penghematan biaya konversi dan hedging, serta pengurangan eksposur terhadap volatilitas USD/IDR. Margin operasional berpotensi meningkat 1-2% tergantung volume transaksi.
  • Perbankan nasional (BCA, Mandiri, BNI, BRI) yang memiliki layanan LCT: potensi pendapatan fee-based baru dari settlement dan layanan treasury. Bank dengan koneksi kuat ke korporasi China akan paling diuntungkan.
  • Investor asing dan domestik: peningkatan LCT mengurangi tekanan di pasar valas, membuat SBN dan IHSG relatif lebih stabil dibandingkan jika tanpa LCT. Namun, efeknya masih parsial selama tekanan global dari DXY dan suku bunga AS tinggi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau dalam 1 bulan: volume transaksi LCT bulan Juni dan Juli – apakah konsisten di atas US$9 miliar atau melambat. Data akan dirilis BI biasanya pertengahan bulan berikutnya.
  • Risiko yang perlu dicermati: jika DXY terus menguat dan rupiah menembus 18.000, meskipun LCT naik, capital outflow bisa mengalahkan efek positif. Perhatikan juga respons BI – apakah intervensi langsung atau pengetatan moneter.
  • Sinyal penting: perluasan kerja sama LCT ke mitra dagang lain (Jepang, Korea Selatan, Malaysia) dalam 3-6 bulan ke depan. Jika BI mengumumkan MoU baru, itu akan menjadi katalis positif bagi stabilitas rupiah dan efisiensi perdagangan.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.