Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

8 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

Kadin Peringatkan Skema Impor Gandum Pakan Lewat BUMN Berisiko Tekan Industri Peternakan dan Inflasi Pangan

Foto: Kontan — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Kebijakan / Kadin Peringatkan Skema Impor Gandum Pakan Lewat BUMN Berisiko Tekan Industri Peternakan dan Inflasi Pangan
Kebijakan

Kadin Peringatkan Skema Impor Gandum Pakan Lewat BUMN Berisiko Tekan Industri Peternakan dan Inflasi Pangan

Tim Redaksi Feedberry ·5 Mei 2026 pukul 04.46 · Confidence 5/10 · Sumber: Kontan ↗
Feedberry Score
8 / 10

Kebijakan impor gandum pakan yang baru berpotensi langsung menaikkan biaya pakan ternak, menekan margin peternak, dan memicu kenaikan harga daging ayam, telur, dan ikan — berdampak luas pada inflasi pangan dan daya beli rumah tangga.

Urgensi 7
Luas Dampak 8
Dampak Indonesia 9

Ringkasan Eksekutif

Kadin Indonesia mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah yang memusatkan impor gandum pakan melalui BUMN berpotensi menimbulkan inefisiensi dan distorsi pasar. Berdasarkan data yang dihimpun, harga gandum pakan melalui skema BUMN mencapai sekitar US$ 370–375 per ton, sementara impor langsung oleh pelaku usaha hanya sekitar US$ 270 per ton — selisih hingga US$ 100 per ton. Wakil Ketua Umum Kadin Saleh Husin menekankan bahwa selisih harga ini akan meningkatkan biaya input industri peternakan, menekan margin usaha, dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga daging ayam, telur, daging sapi, dan ikan. Kebijakan ini diatur melalui Permendag Nomor 11 Tahun 2026 yang memperketat perizinan impor dan neraca komoditas, dengan gandum pakan berfungsi sebagai substitusi jagung untuk menjaga stabilitas harga jagung domestik. Risiko inflasi pangan menjadi konsekuensi serius jika implementasi tidak diimbangi mekanisme efisiensi yang tepat.

Kenapa Ini Penting

Selisih harga impor yang mencapai US$ 100 per ton bukan sekadar masalah biaya — ini menandakan potensi distorsi pasar yang serius. Jika BUMN menjadi satu-satunya saluran impor, mekanisme kompetisi harga hilang, dan pelaku usaha kehilangan akses ke harga pasar global yang lebih murah. Dampaknya tidak hanya pada margin peternak, tetapi juga pada rantai pasok pangan nasional: kenaikan biaya pakan akan mendorong harga protein hewani yang merupakan komponen penting inflasi pangan. Dalam konteks daya beli rumah tangga yang masih tertekan, kenaikan harga pangan dapat memperburuk tekanan inflasi dan membatasi ruang kebijakan moneter.

Dampak Bisnis

  • Industri peternakan (ayam broiler, layer, sapi potong, perikanan budidaya) akan mengalami kenaikan biaya pakan yang signifikan. Margin usaha yang sudah tipis bisa tergerus, terutama bagi peternak mandiri dan UMKM peternakan yang tidak memiliki daya tawar terhadap harga pakan.
  • Konsumen rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah akan merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga daging ayam, telur, dan ikan. Ini berpotensi memperbesar tekanan inflasi pangan dan menekan daya beli, terutama di saat upah riil belum pulih.
  • Produsen pakan ternak skala besar yang memiliki akses impor langsung akan kehilangan keunggulan kompetitif. Sementara itu, BUMN yang ditunjuk sebagai importir tunggal berpotensi menjadi bottleneck distribusi, menciptakan kelangkaan pasokan di daerah-daerah yang tidak terlayani secara optimal.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: implementasi Permendag 11/2026 — apakah ada mekanisme pengawasan harga dan transparansi biaya impor BUMN yang dapat mencegah selisih harga melebar lebih jauh.
  • Risiko yang perlu dicermati: kenaikan harga pakan yang memicu lonjakan harga daging ayam dan telur di pasar tradisional — ini akan langsung tercermin dalam data inflasi pangan bulanan BPS.
  • Sinyal penting: respons pelaku usaha peternakan — apakah akan ada pengurangan produksi, efisiensi pakan, atau bahkan aksi mogok yang dapat mengganggu pasokan protein hewani nasional.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.