Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

8 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

IHSG Terjun 2,86% ke 6.969 — Saham Tambang Rontok Imbas Rencana Kenaikan Royalti Minerba

Foto: Detik Finance — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Pasar / IHSG Terjun 2,86% ke 6.969 — Saham Tambang Rontok Imbas Rencana Kenaikan Royalti Minerba
Pasar

IHSG Terjun 2,86% ke 6.969 — Saham Tambang Rontok Imbas Rencana Kenaikan Royalti Minerba

Tim Redaksi Feedberry ·8 Mei 2026 pukul 10.02 · Confidence 5/10 · Sumber: Detik Finance ↗
Feedberry Score
8.7 / 10

Koreksi harian IHSG terdalam dalam waktu dekat, dipicu kebijakan fiskal domestik yang langsung menghantam sektor tambang — tulang punggung ekspor dan penerimaan negara.

Urgensi 8
Luas Dampak 9
Dampak Indonesia 9

Ringkasan Eksekutif

IHSG ditutup melemah 2,86% ke 6.969,39 pada Jumat (8/5), setelah sempat menguat di awal sesi ke 7.189,83. Pelemahan dipicu rencana kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) yang langsung menghantam saham emiten tambang: TINS turun 14,88% (ARB), INCO melemah 13,89%. Sektor barang baku menjadi yang terlemah dengan koreksi -7,37%, dan 575 saham terkoreksi secara total. Tekanan diperparah oleh pelemahan rupiah ke Rp17.382 per dolar AS, penurunan cadangan devisa April 2026 ke US$146,2 miliar (terendah sejak Juli 2024), serta ketidakpastian geopolitik AS-Iran yang memicu aksi risk-off di bursa Asia. Volume transaksi mencapai Rp36,08 triliun — menunjukkan aksi jual masif, bukan sekadar koreksi teknis.

Kenapa Ini Penting

Koreksi ini bukan sekadar risk-off global — ada faktor domestik struktural yang jarang terjadi: rencana kenaikan royalti minerba. Jika direalisasikan, ini akan langsung memangkas margin emiten tambang yang selama ini menjadi penopang utama IHSG dan kontributor dividen BUMN. Kombinasi dengan cadangan devisa yang menurun dan rupiah yang melemah menciptakan tekanan tiga arah: fundamental fiskal, moneter, dan pasar modal. Ini adalah momen di mana kebijakan fiskal domestik menjadi pemicu utama koreksi, bukan sekadar sentimen eksternal.

Dampak Bisnis

  • Emiten tambang logam dan batu bara (TINS, INCO, ANTM, ADRO, PTBA, ITMG) terkena pukulan langsung: kenaikan royalti menekan laba bersih dan potensi dividen. Sektor barang baku yang turun -7,37% menunjukkan ini bukan hanya satu-dua emiten, tapi seluruh sektor.
  • Efek domino ke perbankan: saham blue chip perbankan (BBCA, BBRI, BMRI) ikut tertekan oleh aksi jual asing dan penurunan IHSG secara luas. Jika koreksi berlanjut, potensi margin call dan tekanan likuiditas di pasar saham bisa meluas.
  • Dampak ke penerimaan negara: royalti minerba adalah salah satu sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) terbesar. Kenaikan tarif memang meningkatkan penerimaan per unit, tetapi jika harga saham tambang ambrol dan produksi terhambat, realisasi PNBP bisa meleset dari target APBN 2026.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: kepastian regulasi kenaikan royalti minerba — apakah sudah final atau masih wacana. Jika sudah final, seberapa besar kenaikan tarif dan kapan efektif berlaku.
  • Risiko yang perlu dicermati: aksi jual lanjutan di sektor tambang dan potensi contagion ke sektor lain. Level 6.900 adalah psikologis — jika ditembus, koreksi bisa lebih dalam mengingat support berikutnya di 6.645-6.838 (dari proyeksi analis).
  • Sinyal penting: data cadangan devisa bulan depan (Mei 2026) — jika terus menurun, tekanan ke rupiah dan IHSG akan berlanjut. Juga perkembangan negosiasi AS-Iran yang bisa memicu volatilitas minyak dan dolar.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.