Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

11 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

IHSG Melemah 2,86% ke 6.969 — Rencana Kenaikan Royalti Tambang dan Geopolitik Bayangi Pasar

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

Beranda / Pasar / IHSG Melemah 2,86% ke 6.969 — Rencana Kenaikan Royalti Tambang dan Geopolitik Bayangi Pasar
Pasar

IHSG Melemah 2,86% ke 6.969 — Rencana Kenaikan Royalti Tambang dan Geopolitik Bayangi Pasar

Tim Redaksi Feedberry ·10 Mei 2026 pukul 23.52 · Confidence 8/10 · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
Feedberry Score
8 / 10

Tekanan jual asing masih berlanjut, rencana kenaikan royalti tambang mengancam margin emiten, dan ketidakpastian geopolitik global memperkuat sentimen risk-off — berdampak luas ke pasar modal dan sektor riil Indonesia.

Urgensi 7
Luas Dampak 8
Dampak Indonesia 9

Ringkasan Eksekutif

IHSG ditutup melemah 2,86% ke 6.969 pada Jumat (8/5), meskipun dalam sepekan terakhir indeks masih mencatat penguatan tipis 0,18%. Kapitalisasi pasar bursa naik 0,19% menjadi Rp12.406 triliun, sementara rata-rata nilai transaksi harian meningkat 26,14% menjadi Rp23,06 triliun. Investor asing mencatatkan nilai beli bersih Rp11,42 triliun secara harian, namun sepanjang tahun 2026 masih mencatatkan jual bersih Rp37,61 triliun. Analis memperkirakan IHSG akan cenderung melemah dengan support di 6.892 dan resistance di 7.095, dibayangi oleh rencana kenaikan tarif royalti sektor pertambangan dan ketidakpastian geopolitik global. Rencana revisi PP19/2025 mengusulkan kenaikan tarif royalti emas dari 7% menjadi 14% (naik 100% pada bracket bawah) dan tembaga dari 10% menjadi 12%, yang berpotensi menekan margin emiten tambang secara signifikan.

Kenapa Ini Penting

Rencana kenaikan royalti tambang bukan sekadar isu regulasi sektoral — ini adalah sinyal perubahan kebijakan fiskal yang dapat mengubah struktur biaya industri pertambangan Indonesia secara permanen. Jika direalisasikan, kenaikan tarif royalti emas sebesar 100% pada bracket bawah akan langsung memangkas laba bersih emiten emas, sementara kenaikan royalti tembaga menambah beban di tengah harga komoditas yang sudah tinggi. Ini juga berpotensi memicu efek domino: emiten tambang bisa menunda ekspansi, mengurangi dividen, atau bahkan mengalihkan investasi ke yurisdiksi lain. Di sisi lain, tekanan jual asing yang masih berlanjut — Rp2,44 triliun dalam sepekan — menunjukkan bahwa sentimen negatif ini sudah mulai tercermin dalam aliran modal, dan jika berlanjut, bisa memperdalam koreksi IHSG lebih lanjut.

Dampak Bisnis

  • Emiten pertambangan emas dan tembaga akan menjadi pihak yang paling terdampak langsung. Kenaikan tarif royalti emas dari 7% menjadi 14% berpotensi memangkas margin laba bersih secara signifikan, terutama bagi emiten dengan biaya produksi tinggi. Ini bisa memicu aksi jual lebih lanjut di saham-saham tambang dan menekan IHSG secara keseluruhan mengingat bobot sektor ini di indeks.
  • Tekanan jual asing yang masih berlanjut — Rp2,44 triliun dalam sepekan — menambah beban likuiditas pasar. Jika outflow asing terus berlanjut, saham-saham blue chip LQ45 seperti BBCA, BBRI, dan BMRI akan tertekan, karena investor asing cenderung melepas posisi di saham berkapitalisasi besar saat risk-off. Ini juga bisa memicu efek domino ke reksa dana saham dan investor ritel.
  • Ketidakpastian geopolitik global, terutama eskalasi di Selat Hormuz dan sanksi AS terhadap Iran, menambah premi risiko di pasar emerging termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, sektor defensif seperti consumer goods dan infrastruktur mungkin menjadi pilihan safe haven sementara, namun tetap tertekan oleh pelemahan daya beli akibat inflasi dan suku bunga tinggi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: perkembangan revisi PP19/2025 tentang tarif royalti pertambangan — jika disahkan, dampaknya akan langsung terasa di laporan keuangan emiten tambang kuartal berikutnya.
  • Risiko yang perlu dicermati: data inflasi AS (CPI y/y) pada 12 Mei — jika lebih tinggi dari konsensus 3,7%, bisa memperkuat ekspektasi hawkish Fed, mendorong USD naik, dan menekan rupiah serta IHSG lebih lanjut.
  • Sinyal penting: net foreign flow harian BEI — jika outflow asing terus berlanjut di atas Rp1 triliun per hari, ini bisa menjadi indikasi bahwa tekanan jual bersifat struktural, bukan hanya sementara.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.