Beta Feedberry sedang dalam pengembangan aktif. Seluruh konten dapat diakses gratis.

5 MEI 2026
FEEDberryBISNIS · PASAR · KEBIJAKAN · INDONESIA

Intelijen keuangan AI untuk Indonesia.

HIP Biodiesel Naik ke Rp14.917/Liter di Mei 2026 — Masih Lebih Murah dari Solar Fosil
Beranda / Kebijakan / HIP Biodiesel Naik ke Rp14.917/Liter di Mei 2026 — Masih Lebih Murah dari Solar Fosil
Kebijakan

HIP Biodiesel Naik ke Rp14.917/Liter di Mei 2026 — Masih Lebih Murah dari Solar Fosil

Tim Redaksi Feedberry ·5 Mei 2026 pukul 06.15 · Sinyal tinggi · Confidence 7/10 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
Feedberry Score
7 / 10

Kenaikan HIP biodiesel berdampak langsung pada biaya energi dan transportasi, namun masih lebih murah dari solar fosil yang tembus Rp30.000/liter.

Urgensi 6
Luas Dampak 7
Dampak Indonesia 8
Analisis Komoditas
Komoditas
CPO (Crude Palm Oil)
Harga Terkini
Rp15.695/kg (harga CPO KPB rata-rata periode 25 Maret-24 April 2026)
Perubahan Harga
+4,6% (HIP biodiesel naik dari Rp14.262 ke Rp14.917/liter)
Faktor Supply
  • ·Harga CPO KPB naik dari periode sebelumnya
  • ·Kurs rupiah melemah ke Rp17.074 meningkatkan biaya dalam rupiah
Faktor Demand
  • ·Mandatori biodiesel B35/B40 mendorong permintaan CPO untuk energi
  • ·Harga solar fosil yang tinggi (Rp30.000+/liter) membuat biodiesel lebih kompetitif

Ringkasan Eksekutif

Kementerian ESDM menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel untuk Mei 2026 naik 4,6% menjadi Rp14.917 per liter, dari Rp14.262 per liter di April. Kenaikan ini dipicu oleh harga CPO yang lebih tinggi dan kurs rupiah yang melemah ke Rp17.074. Meski naik, harga biodiesel masih jauh di bawah solar non-subsidi yang mencapai Rp30.890 per liter.

Kenapa Ini Penting

Kenaikan HIP biodiesel berarti biaya campuran BBM solar (B35/B40) naik, yang berpotensi mendorong kenaikan harga solar non-subsidi atau menambah beban subsidi jika pemerintah mempertahankan selisih harga.

Dampak Bisnis

  • Kenaikan HIP biodiesel sebesar Rp655/liter (4,6%) meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan yang menggunakan solar campuran biodiesel, terutama di sektor logistik dan transportasi.
  • Harga solar non-subsidi yang sudah tembus Rp30.000/liter (VIVO Diesel Primus Rp30.890, Pertamina DEX Rp27.900) menekan margin usaha padat transportasi.
  • Selisih harga biodiesel vs solar fosil yang melebar (Rp15.973/liter) memperkuat insentif penggunaan biodiesel, namun juga meningkatkan beban subsidi jika pemerintah menanggung selisihnya.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: harga CPO global dan kurs rupiah — keduanya menjadi komponen utama formula HIP biodiesel dan dapat memicu kenaikan lebih lanjut.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi kenaikan harga solar non-subsidi jika pemerintah tidak menambah subsidi — akan menekan biaya logistik dan inflasi transportasi.
  • Perhatikan: kebijakan pencampuran biodiesel (B35/B40) — jika pemerintah menaikkan mandatori, permintaan CPO untuk biodiesel naik dan bisa mendorong harga CPO lebih tinggi.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.