Harga Minyak Turun ke US$113,77 Usai Melonjak 6% — Konflik Iran-AS Masih Bayangi Pasokan
Eskalasi konflik di Selat Hormuz mengancam pasokan minyak global, berdampak langsung pada harga energi, inflasi, dan rupiah Indonesia.
- Komoditas
- Minyak Mentah Brent
- Harga Terkini
- US$113,77 per barel
- Perubahan Harga
- -0,60%
- Faktor Supply
-
- ·Gencatan senjata AS-Iran rapuh, serangan drone dan rudal Iran menghantam UEA.
- ·AS menenggelamkan kapal Iran di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak vital.
- ·Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz lumpuh sejak Februari 2026.
- Faktor Demand
-
- ·Pelaku pasar mencermati risiko gangguan pasokan jangka pendek.
- ·Ketidakpastian konflik membuat pergerakan harga fluktuatif.
Ringkasan Eksekutif
Harga minyak Brent terkoreksi tipis ke US$113,77 setelah melonjak 6% sehari sebelumnya akibat ketegangan AS-Iran yang memanas. Serangan drone dan rudal di UEA serta aksi militer AS di Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan dari jalur distribusi minyak vital dunia.
Kenapa Ini Penting
Kenaikan harga minyak global akan langsung membebani biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit neraca perdagangan, dan menekan rupiah yang sudah berada di level terlemah dalam setahun (Rp17.366).
Dampak Bisnis
- ✦ Biaya impor minyak mentah dan BBM Indonesia meningkat, berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan cadangan devisa.
- ✦ Tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dapat memicu BI untuk menahan suku bunga lebih lama, memperketat likuiditas perbankan.
- ✦ Emiten transportasi, manufaktur, dan ritel yang bergantung pada energi akan menghadapi kenaikan biaya operasional, menekan margin laba.
Yang Perlu Dipantau
- ◎ Yang perlu dipantau: perkembangan konflik AS-Iran di Selat Hormuz — jika jalur distribusi lumpuh total, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi.
- ◎ Risiko yang perlu dicermati: dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi domestik dan kebijakan suku bunga BI — potensi pengetatan moneter lebih lanjut.
- ◎ Sinyal yang perlu diawasi: harga batu bara yang ikut naik ke US$139,2/ton — jika berlanjut, bisa memberikan windfall bagi emiten tambang batu bara Indonesia.
Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.