24 MEI 2026
GoTo Dukung Kenaikan Pendapatan Driver 80% ke 92% – Potongannya Dipangkas

Foto: CNN Indonesia Ekonomi — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Kebijakan / GoTo Dukung Kenaikan Pendapatan Driver 80% ke 92% – Potongannya Dipangkas
Kebijakan

GoTo Dukung Kenaikan Pendapatan Driver 80% ke 92% – Potongannya Dipangkas

Tim Redaksi Feedberry ·23 Mei 2026 pukul 18.00 · Sinyal menengah · Sumber: CNN Indonesia Ekonomi ↗
7.3 Skor

Kebijakan ini langsung mengubah model pendapatan GoTo dan kesejahteraan 1 juta driver, berpotensi memicu kebijakan serupa di semua platform ride-hailing dan menjadi preseden regulasi ekonomi gig.

Urgensi
7
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
8
Analisis Regulasi & Kebijakan
Nama Regulasi
Kebijakan Kenaikan Pendapatan Driver Ojol dari 80% ke 92% per Transaksi
Penerbit
Pemerintah (Presiden Prabowo) dan GoTo
Perubahan Kunci
  • ·Pendapatan pengemudi per transaksi dinaikkan dari 80% menjadi 92%
  • ·Potongan aplikator berkurang dari 20% menjadi 8%
Pihak Terdampak
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (emiten GOTO)Pengemudi aktif Gojek (800 ribu – 1 juta orang)Pesaing ride-hailing seperti Grab, InDrive, MaximPresiden Prabowo dan Sekretariat Kabinet sebagai inisiator

Ringkasan Eksekutif

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menerima kunjungan CEO GoTo Hans Patuwo pada Jumat (22/5) malam. Dalam pertemuan tersebut, GoTo menyatakan komitmennya mendukung program Presiden Prabowo untuk menaikkan pendapatan pengemudi dari saat ini 80% menjadi 92% per transaksi. Artinya, potongan yang diambil aplikator menyusut dari 20% menjadi 8%. GoTo saat ini memiliki 800 ribu hingga 1 juta pengemudi aktif dari total 3 juta pengemudi yang pernah tercatat sejak perusahaan berdiri. Pertemuan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai serius mengintervensi struktur bagi hasil di industri ride-hailing yang selama ini menjadi keluhan utama mitra pengemudi. Meski komitmen GoTo disampaikan secara lisan dan belum ada detail teknis seperti jadwal implementasi atau mekanisme kompensasi bagi aplikator, arah kebijakan sudah jelas: kesejahteraan driver menjadi prioritas.

Presiden Prabowo sendiri menekankan bahwa kenaikan pendapatan driver harus berjalan seiring dengan keberlangsungan bisnis yang sehat, sehingga aplikator tetap bisa memperoleh keuntungan wajar. Bagi GoTo, pengurangan potongan dari 20% menjadi 8% berarti potensi penurunan pendapatan bersih jangka pendek jika tidak diimbangi pertumbuhan volume transaksi atau efisiensi biaya. Namun, langkah ini bisa meningkatkan loyalitas dan produktivitas driver, mengurangi churn, serta memperkuat posisi tawar GoTo di hadapan pesaing seperti Grab. Bagi 800 ribu hingga 1 juta driver aktif, kenaikan 12 poin persen per transaksi berarti tambahan pendapatan langsung yang signifikan, terutama di tengah tekanan biaya hidup dan pelemahan daya beli. Dampak lebih luas: kebijakan ini bisa menjadi preseden bagi regulasi sektor platform digital lain di Indonesia, seperti e-commerce, logistik, dan layanan on-demand.

Investor perlu mencermati bahwa GoTo sebagai perusahaan publik (GOTO) harus menyeimbangkan tekanan sosial-politik dengan target profitabilitas.

Dalam jangka pendek, margin laba GOTO berpotensi tertekan, namun jika berhasil meningkatkan volume transaksi melalui driver yang lebih puas, dampaknya bisa netral atau positif. Pemerintah juga perlu memastikan ada mekanisme pengawasan agar potongan benar-benar turun, bukan sekadar janji. Yang harus dipantau dalam beberapa minggu ke depan: (1) rilis resmi dari GoTo tentang detail implementasi dan timeline, (2) reaksi Grab apakah akan mengikuti kebijakan serupa untuk mempertahankan pangsa pasar, (3) respons pasar terhadap saham GOTO — apakah akan terkoreksi karena kekhawatiran margin atau justru naik karena sentimen positif terhadap kesejahteraan driver, dan (4) kemungkinan diterbitkannya Peraturan Presiden atau Keputusan Menteri yang mewajibkan seluruh aplikator mengadopsi skema serupa.

Mengapa Ini Penting

Pertemuan ini bukan sekadar dialog biasa. Ini adalah langkah konkret pemerintah dalam mengatur ekonomi gig yang selama ini berjalan tanpa intervensi struktur bagi hasil. Jika kebijakan kenaikan pendapatan driver 80% ke 92% diterapkan, maka model bisnis seluruh platform ride-hailing di Indonesia akan berubah fundamental. GoTo sebagai pemimpin pasar terpaksa memimpin perubahan ini, dan pesaing seperti Grab harus mengikuti atau kehilangan driver. Lebih jauh, ini menjadi preseden bahwa pemerintah siap campur tangan dalam rantai nilai platform digital, membuka pintu bagi regulasi serupa di sektor lain seperti pengiriman makanan, logistik, atau bahkan e-commerce yang selama ini mengambil margin dari mitra.

Dampak ke Bisnis

  • Bagi GoTo (GOTO): potensi penurunan pendapatan per transaksi dari potongan yang berkurang 12 poin persen. Dampak langsung ke margin pendapatan bersih divisi ride-hailing. Namun, peningkatan loyalitas driver dan volume transaksi jangka panjang bisa mengompensasi. Investor perlu mencermati apakah GoTo akan menaikkan tarif ke konsumen atau menekan biaya lain untuk menjaga profitabilitas.
  • Bagi mitra pengemudi: pendapatan bersih per transaksi naik 15% (dari 80% ke 92%), memberikan tambahan penghasilan langsung di saat daya beli masyarakat tertekan. Namun, jika aplikator menaikkan tarif pengguna, permintaan bisa turun dan volume transaksi berkurang—sehingga kenaikan pendapatan per transaksi tidak otomatis meningkatkan total pendapatan.
  • Bagi kompetitor (Grab, InDrive, Maxim): tekanan untuk mengikuti kebijakan serupa. Jika tidak, driver akan beralih ke GoTo. Persaingan memperebutkan driver akan semakin ketat, berpotensi memicu perang tarif atau insentif yang merugikan margin seluruh industri.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: rilis resmi GoTo tentang timeline implementasi kenaikan pendapatan driver — apakah ada target mulai bulan depan atau bertahap?
  • Risiko yang perlu dicermati: jika GoTo menaikkan tarif ke konsumen untuk menutupi penurunan potongan, volume transaksi bisa menurun dan justru merugikan driver.
  • Sinyal penting: pernyataan dari Menteri Ketenagakerjaan atau Menteri Komunikasi dan Digital tentang kemungkinan aturan turunan yang mewajibkan semua platform ride-hailing mengadopsi skema bagi hasil minimal 92%.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.