23 JUN 2026
Gen Z Paling Berani Minta Naik Gaji — 72% Berhasil dalam Setahun

Foto: CNBC Indonesia — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Makro / Gen Z Paling Berani Minta Naik Gaji — 72% Berhasil dalam Setahun
Makro

Gen Z Paling Berani Minta Naik Gaji — 72% Berhasil dalam Setahun

Tim Redaksi Feedberry ·23 Juni 2026 pukul 11.50 · Sumber: CNBC Indonesia ↗
6.7 Skor

Survei Jobstreet menunjukkan perbedaan signifikan perilaku negosiasi gaji antargenerasi, berdampak langsung pada strategi kompensasi dan retensi tenaga kerja di berbagai sektor usaha Indonesia.

Urgensi
6
Luas Dampak
7
Dampak Indonesia
7

Ringkasan Eksekutif

Laporan Salary Pulse 2026 dari Jobstreet by SEEK mengungkapkan kesenjangan mencolok dalam keberanian negosiasi gaji antar generasi pekerja Indonesia. Sebanyak 60% pekerja Gen Z (kelahiran 1997–2012) mengaku memulai sendiri diskusi kenaikan gaji dengan atasan atau HR. Angka ini jauh melampaui milenial yang mencapai 55%, dan Gen X yang hanya 37%. Menariknya, Gen X justru merupakan kelompok dengan penghasilan relatif lebih tinggi — hampir separuh atau 49% pekerja Gen X memiliki gaji bulanan di atas Rp8 juta, sementara rata-rata pasar hanya 43%. Namun, hanya 41% Gen X yang merasa gajinya layak, lebih rendah dibandingkan Gen Z dan milenial yang sama-sama 49%.

Managing Director Jobstreet Indonesia Wisnu Dharmawan menilai Gen Z paling berani memperjuangkan kompensasi, sedangkan Gen X cenderung mengeluh tanpa berani menyampaikan langsung. Akibatnya, Gen Z menjadi generasi yang paling banyak menerima kenaikan gaji dalam 12 bulan terakhir: 72% di antaranya mendapat kenaikan, lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 62%. Jika kenaikan tidak sesuai harapan, 28% Gen Z akan kembali bernegosiasi dan 28% lainnya meminta tambahan tunjangan di luar gaji pokok. Data ini mencerminkan pergeseran fundamental dalam ekspektasi dan perilaku pasar tenaga kerja Indonesia, yang berpotensi memaksa perusahaan menyesuaikan kebijakan kompensasi secara lebih dinamis dan transparan. Bagi pengusaha, fenomena ini memiliki implikasi ganda.

Di satu sisi, Gen Z yang agresif menuntut kenaikan dapat meningkatkan biaya tenaga kerja di level entry, terutama jika tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas.

Di sisi lain, pekerja Gen X yang pasif dan merasa kurang dihargai berisiko mengalami ketidakpuasan diam-diam yang menurunkan loyalitas dan produktivitas jangka panjang. Perusahaan yang tidak segera merevisi sistem kompensasi — misalnya dengan menaikkan frekuensi review gaji atau memperkenalkan skala upah transparan — bisa kehilangan talenta muda sekaligus memicu eksodus tenaga senior yang berpengalaman.

Mengapa Ini Penting

Berita ini mengubah asumsi tradisional bahwa gaji naik seiring senioritas. Gen Z yang berani negosiasi bisa mempercepat kenaikan biaya tenaga kerja di level awal, sementara Gen X yang diam berpotensi mengalami 'quiet quitting' atau pindah kerja karena merasa tidak dihargai. Perusahaan yang tidak menyesuaikan strategi kompensasi berisiko kehilangan talenta kunci dari dua ujung generasi sekaligus — generasi termuda yang agresif dan generasi senior yang berpengalaman. Dampak strukturalnya: transparansi gaji akan semakin menjadi tuntutan, dan sistem kompensasi berbasis senioritas perlahan usang.

Dampak ke Bisnis

  • Perusahaan di sektor formal, terutama yang banyak mempekerjakan Gen Z (teknologi, startup, ritel, perbankan, konsultasi), harus menganggarkan kenaikan gaji lebih agresif untuk talenta muda. Jika tidak, risiko turnover tinggi dan kesulitan rekrutmen di tengah persaingan tenaga kerja.
  • Sektor yang mengandalkan tenaga senior (manufaktur, konstruksi, pemerintahan) perlu mewaspadai potensi ketidakpuasan Gen X. Pekerja senior yang merasa gajinya tidak layak dan tidak punya keberanian negosiasi bisa memilih pensiun dini atau beralih ke kompetitor, menciptakan kesenjangan pengalaman dan pengetahuan organisasi.
  • UMKM yang memiliki struktur kompensasi informal akan semakin tertekan. Tanpa sistem review gaji yang jelas, mereka rentan kehilangan pekerja muda potensial ke perusahaan yang lebih transparan, sementara pekerja senior yang sudah lama bertahan bisa menjadi tidak produktif jika tidak ada perbaikan kompensasi.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: laporan Salary Pulse Jobstreet selanjutnya — apakah tren 72% Gen Z mendapat kenaikan gaji berlanjut dan meluas ke sektor-sektor lain di luar jasa profesional.
  • Risiko yang perlu dicermati: potensi kenaikan inflasi upah di sektor formal, terutama jika persaingan merebut talenta Gen Z semakin ketat. Hal ini bisa menekan margin laba perusahaan padat karya.
  • Sinyal penting: respons kebijakan pemerintah atau serikat pekerja terkait transparansi gaji. Jika ada dorongan regulasi untuk mencantumkan rentang gaji di iklan lowongan, ini akan mempercepat perubahan pasar tenaga kerja.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.