8 JUN 2026
Emas Diprediksi Rata-rata $4.920/Oz di 2026 — Investasi Lampaui Perhiasan, Sentimen Positif untuk Emiten Tambang RI

Foto: MINING.com — Gambar diambil dari sumber artikel asli untuk menghindari kesalahan informasi visual.

← Kembali
Beranda / Pasar / Emas Diprediksi Rata-rata $4.920/Oz di 2026 — Investasi Lampaui Perhiasan, Sentimen Positif untuk Emiten Tambang RI
Pasar

Emas Diprediksi Rata-rata $4.920/Oz di 2026 — Investasi Lampaui Perhiasan, Sentimen Positif untuk Emiten Tambang RI

Tim Redaksi Feedberry ·4 Juni 2026 pukul 13.08 · Sumber: MINING.com ↗
7.7 Skor

Harga emas global diperkirakan mencetak rekor rata-rata tahunan $4.920 — didorong peralihan struktural permintaan dari perhiasan ke investasi. Bagi Indonesia sebagai produsen dan konsumen emas, ini berdampak langsung ke sektor tambang, industri perhiasan, dan portofolio investor ritel.

Urgensi
7
Luas Dampak
8
Dampak Indonesia
8

Ringkasan Eksekutif

Laporan Metals Focus, Gold Focus 2026, memproyeksikan harga emas rata-rata tahun ini mencapai $4.920 per ons — rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada 2025, emas sudah melonjak 44%, kinerja tahunan terbaik sejak 1980. Kenaikan ini didorong oleh ketidakpastian kebijakan AS, kekhawatiran terhadap prospek dolar, risiko geopolitik yang tinggi, dan valuasi ekuitas yang sudah mahal. Faktor-faktor tersebut memperkuat peran emas sebagai aset safe haven dan diversifikasi portofolio. Konsultan tersebut memperkirakan pasokan emas global naik 3,1% tahun ini, didukung kenaikan produksi tambang 2,4% menjadi 3.907 ton (setelah rekor 3.817 ton pada 2025) dan daur ulang yang naik 5,1%. Di sisi permintaan, total permintaan diperkirakan turun 2,3% karena pelemahan konsumsi perhiasan dan pembelian bank sentral yang melambat.

Akan tetapi, investasi fisik — dalam bentuk batangan, koin, dan produk exchange-traded (ETF) — diproyeksikan mengkompensasi penurunan tersebut. Bahkan, untuk pertama kalinya, investasi fisik diprediksi melampaui perhiasan sebagai komponen terbesar permintaan emas. Pada 2025, investasi fisik naik 16% ke level tertinggi dalam 12 tahun, sementara ETF emas mencatat inflow 803 ton — rekor tahunan terkuat sejak 2020. Sebaliknya, permintaan perhiasan global ambles 19% tahun lalu ke 1.646 ton (terendah dalam lima tahun), dan Metals Focus memperkirakan akan turun lagi 11% pada 2026 karena harga tinggi mendorong konsumen beralih ke produk dengan kadar lebih rendah atau substitusi platinum.

Bank sentral tetap menjadi pembeli signifikan meskipun pembelian neto turun 22% menjadi 848 ton pada 2025 — level terendah dalam empat tahun — namun masih jauh di atas rata-rata sebelum 2022. Secara ringkas, pasar emas tengah mengalami pergeseran struktural: dari konsumsi perhiasan menuju akumulasi investasi. Ini menciptakan basis permintaan yang lebih stabil dan kurang sensitif terhadap siklus ekonomi domestik. Untuk Indonesia, implikasi langsung terasa pada emiten tambang emas seperti Antam (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Bumi Resources Minerals (BRMS). Kenaikan harga emas dalam dolar, ditambah pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS, memberikan dorongan ganda bagi pendapatan dan laba mereka.

Di sisi lain, industri perhiasan dalam negeri — terutama segmen menengah ke bawah — akan terus tertekan karena konsumen beralih ke alternatif lebih murah. Sentimen positif terhadap emas juga dapat mendorong aliran dana masuk ke reksa dana berbasis emas dan produk-produk investasi terkait lainnya di pasar domestik.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran permintaan emas dari perhiasan ke investasi mengubah struktur fundamental pasar. Untuk Indonesia, ini berarti stabilitas permintaan yang lebih tinggi dari investor global — bukan lagi dari konsumsi yang rentan terhadap daya beli domestik. Emiten tambang emas nasional akan menjadi penerima manfaat utama, sementara produsen perhiasan harus beradaptasi. Selain itu, tren ini memperkuat argumen diversifikasi cadangan devisa bagi Bank Indonesia, yang selama ini cenderung mengandalkan surat berharga dalam dolar. Harga emas tinggi juga berpotensi meningkatkan minat investor ritel Indonesia untuk mengalihkan alokasi aset ke logam mulia, mengingat rupiah masih lemah di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Dampak ke Bisnis

  • Emiten tambang emas seperti ANTM, MDKA, dan BRMS akan menikmati kenaikan harga jual dalam rupiah yang signifikan, mengingat pelemahan rupiah menambah keuntungan dari kenaikan harga global. Margin laba bersih diperkirakan melebar, meskipun volume produksi hanya naik moderat.
  • Industri perhiasan dalam negeri menghadapi tekanan berkelanjutan. Harga emas tinggi mendorong konsumen membeli produk dengan bobot lebih ringan atau beralih ke perhiasan berlapis emas. Pelaku usaha di segmen ini perlu menyesuaikan strategi produk dan harga agar tidak kehilangan pangsa pasar.
  • Produk investasi berbasis emas — seperti reksa dana, ETF emas, dan tabungan emas — berpotensi menarik aliran dana baru. Platform fintech emas seperti Pegadaian, IndoGold, atau Tamasia bisa mengalami peningkatan jumlah pengguna dan volume transaksi, seiring meningkatnya minat investor ritel terhadap safe haven.

Yang Perlu Dipantau

  • Yang perlu dipantau: realisasi harga emas harian dan mingguan — jika terus mendekati atau melampaui $4.920, sentimen bullish akan menguat dan mendorong aksi beli di saham emiten tambang emas di BEI.
  • Risiko yang perlu dicermati: eskalasi konflik Iran atau kebijakan Fed yang tiba-tiba dovish bisa memicu koreksi harga emas jangka pendek karena profit taking. Perhatikan juga pergerakan indeks dolar broad — penguatan dolar dapat menekan harga emas meskipun faktor geopolitik tetap positif.
  • Sinyal penting: rilis data inflasi AS berikutnya (CPI) — jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, harga emas bisa kembali naik karena permintaan lindung nilai terhadap penurunan daya beli dolar.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah produsen emas ke-9 terbesar dunia dan konsumen signifikan untuk perhiasan serta investasi. Kenaikan harga emas global yang diproyeksikan mencapai rata-rata $4.920 per ons pada 2026 memberikan dampak langsung bagi emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia: Antam (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Bumi Resources Minerals (BRMS) akan menikmati kenaikan pendapatan dan laba karena harga jual dalam rupiah ikut terdongkrak oleh pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS. Di sisi lain, industri perhiasan dalam negeri — terutama segmen menengah — akan terus tertekan karena konsumen beralih ke produk dengan kadar lebih rendah atau substitusi platinum. Permintaan investasi fisik di Indonesia — melalui produk seperti Logam Mulia Antam, tabungan emas Pegadaian, dan fintech emas — kemungkinan akan meningkat seiring minat investor ritel terhadap safe haven. Bank Indonesia juga dapat mempertimbangkan diversifikasi cadangan devisa ke emas, meskipun data resmi belum tersedia.

Analisis ini dibuat oleh sistem AI Feedberry berdasarkan sumber berita publik dan tidak merupakan saran investasi atau keputusan bisnis. Selalu verifikasi dengan sumber primer.